Manusia, Aktor Utama Penyebab Karhutla

oleh -22 kali dilihat
Korporasi dan Masyarakat Diberi Maklumat Cegah Karhutla
Krahutla/Foto- CNN

Klikhijau.com – Manusia dan alam, dua hal tak terpisahkan. Manusia tak bisa hidup tanpa alam. Semua kebutuhan manusia berasal dari alam, baik itu makanan, minuman, maupun pakaian atau tempat tinggal (sandang, pangan, dan papan)

Sedangkan alam akan baik-baik saja tanpa manusia. Maka, sebenarnya yang paling membutuhkan alam ini adalah manusia.

Sayangnya, manusia tak pernah jeda merusak alam. Bahkan untuk kasus  kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mayoritas disebabkan oleh perilaku manusia. Hal itu disampaikan Wakil Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Alue Dohong.

Oleh karena itu, untuk mencegah karhutla terjadi maka  dibutuhkan  perjuangan mengubah  perilaku  manusia oleh manusia itu sendiri.

KLIK INI:  Kebakaran Hutan dan Lahan, Cerita yang Terus Berulang

Apabila perilaku manusia tak berubah, pencegahan karhula akan sulit terwujud. Sementara ancamannya hampir terjadi setiap tahun, saat kemarau datang menjenguk bumi menggantikan hujan.

Kejadian karhutla seolah sulit dihindari. Kisahnya terus saja terulang setiap tahun, datang membawa petaka dan dampak negatif yang dahsyat bagi lingkungan, manusia, satwa, dan kesehatan.

Namun, meski berdampak negatif, khususnya kepada manusia, tapi kita sebagian manusia tetap saja jadi aktor utama terjadinya karhutla dan kerusakan alam lainnya.

“Kita tahu, hampir sembilan puluh sembilan persen karhutla kita ini sebetulnya disebabkan oleh antropogenik istilahnya, oleh manusia. Jadi kalau alam itu cuma satu persen,” ungkap Wamen LHK Alue Dohong seperti dikutip dari Antara.

Pernyataan Alue itu, terungkap dalam diskusi virtual penanganan karhutla Forum Merdeka Barat 9 beberapa waktu lalu.

Karena itu, hal yang perlu dilakukan untuk mencegah karhutla, salah satunya adalah tindakan  penyadaran semua pihak. Tentang dampak dan bahaya karhutla melalui edukasi dan pemahaman.

Biaya sangat besar

Alue  juga mengungkapkan jika karhutla terjadi, maka biayanya ditanggung oleh negara biayanya yang cukup besar. Karenanya semua pihak harus menyadari hal tersebut.

Jika kasus karhutla bisa dicegah sedini mungkin. Maka biaya penanggulannya yang besar tersebut tak perlu digelontorkan oleh negara. Sehingga biaya itu bisa digunakan untuk tujuan lain agar mampu menyejahterakan masyarakat.

Tujuan lain yang dimaksud Alue, semisal  untuk  meningkatkan produktivitas perkebunan rakyat dan  pertanian. Bila hal ini bisa diwujudkan tentu manfaatnya akan diserap lebih banyak oleh masyarakat.

KLIK INI:  Indonesia-Jepang Jajaki Peluang Kerjasama di Bidang LHK

Untuk melakukan pencegahan karhutla, bukan hanya pemerintah dan masyarakat yang harus memiliki peran dan aksi nyata. Namun, pihak swasta dan pemilik konsesi harus terlibat di dalamnya , yang bisa dimulai dari melengkapi perangkat pencegahan.

Kehadiran pihak swasta menurut Alue selain melengkapi perangkap pencegahan karhutla, juga bisa  ikut melakukan patroli rutin di area sekitar konsesi. Patroli ini bisa dilakukan dengan bekerja sama masyarakat sekitar.

Hal lain yang perlu ditempuh adalah sosialisasi dan edukasi konsisten tentang dampak dan bahaya karhutla  terhadap berbagai sektor kehidupan.

“Terkadang kita fokus memproduksi dan seterusnya.  Namun, pada saat terjadi kebakaran kerugiannya luar biasa terjadi, saya kira ini harus kita cegah,” ujar Alue.

Pencegahan karhutla memang harus melibatkan semua pihak. Tidak bisa dipungkuri yang banyak bersentuhan dengan hutan dan lahan adalah masyarakat yang berada di kampung atau desa.

Karenanya, Alue juga mengharapkan perlu adanya Masyarakat Peduli Api di belasan ribu desa di seluruh desa yang aktif melakukan patroli.

Tahun ini, Indonesia akan kembali bertemu kemarau. Biasanya akan terjadi di bulan Juli dan puncaknya di bulan Agustus.

Pada saat kemarau, ancaman karhutla akan sangat besar. Dan kisahnya terus saja terulang. Seolah telah menjadi ritus tahunan. Padahal jika manusia menyadari sebagai “penyebab” utama karhutla tentu hal tersebut tak harus menjadi ritus tahunan yang meresahkan.

Semoga saja tahun ini, saat kemarau bertandang. Manusia Indonesia tak lagi jadi aktor utama di balik terjadinya karhutla di tanah air.

KLIK INI:  Ini Imbaun Gubernur Sulsel Memasuki Musim Basah!