Mantap, Pertunjukan Lumba-Lumba Asli Kini Digantikan Robot

Publish by -154 kali dilihat
Penulis: Redaksi
Mantap, Pertunjukan Lumba-Lumba Asli Kini Digantikan Robot
Lumba-lumba/foto - Ist

Klikhijau.com – Pertunjukan lumba-lumba mulai dilarang dibeberapa negara. Namun, pertunjukan itu tidak akan surut. Tidak akan berhenti.

Keberadaan hewan ini perlahan menyusut. Termasuk di Indonesia, beberapa tahun terakhir hewan ini sudah menjadi hewan buruan untuk dijadikan bahan konsumsi.

Padaha lebih dari sepertiga jenis paus dan lumba-lumba dunia terdapat di perairan Indonesia, termasuk beberapa jenis yang dikategorikan langka dan terancam punah (Stany Rachel Siahainenia, 2010)

Apabila dilakukan secara terus menerus dapat mengakibatkan berkurangnya populasi hewan ini di alam, meskipun dilakukan secara tradisional.

KLIK INI:  Beda Negara, Beda Sikap Pula Terhadap Kebersihan

Selain dikonsumsi, hewan i ni menjadi pilihan pertunjukan karena memiliki tingkah yang lucu dan jinak. Ia memiliki sifat yang unik seperti banyak melakukan tingkah laku dalam pergerakannya di permukaan air sambil mengeluarkan suara yang bertujuan untuk komunikasi antar sesamanya.

Kini kurang lebih 20 negara di Eropa mulai melarang pertunjukan hewan lucu ini. Namun, meski dilarang, pertunjukan  akan terus ada.

Manusia memiliki daya ‘cipta’ dan kreativitas yang tinggi. Bisa mengatasi berbagai permsalahan. Termasuk pertunjukan lumba-lumba asli yang mulai di larang.

Kini sebuah perusahaan berhasil menciptkan robot lumba-lumba. Keberhasilan itu menjadi angin segar bagi satwa tersebut. Sebab bisa bernapas lega di habitatnya di alam liar, tidak lagi mendekam di penangkaran.

“Ada sekitar 3.000 lumba-lumba yang saat ini di berada penangkaran digunakan untuk menghasilkan miliaran dolar hanya untuk mendapatkan pengalaman lumba-lumba. Jadi jelas ada keinginan untuk mencintai dan belajar tentang hewan ini,” Walt Conti.

Conti merupakan  pendiri dan CEO  perusahaan itu bernama Edge Innovation, pembuat properti film hollywood seperti di film Free Willy dan The Abbys.

KLIK INI:  Iyakah, Kupu-kupu Asing Bertengger di Gerbang Bantimurung?

Perusahaan yang berbasis di  Selandia Baru inilah yang membuat terobosan baru menciptakan robot lumba-lumba.

Perusahaan tersebut berharap bahwa animatronik yang biasa digunakan dalam film-film Hollywood suatu hari nanti dapat menghibur orang banyak di taman hiburan, alih-alih menggunakan hewan liar yang ditahan di penangkaran.

Harga selangit

Namun, ada satu kendala mengenai robot lumba-lumba itu, yakni harganya yang selangit mencapai Rp 382 miliar.

Lumba-lumba, serta hewan-hewan lain, sering tidak dapat bertahan hidup lama di penangkaran jika dibandingkan dengan di alam liar. Banyak aktivis pembela hewan yang telah meminta memasukkan satwa ke penangkaran dihentikan.

Meski harganya selangit, tapi ada satu keunggulan robot hasil inovasi Edge Innovations karena robot ciptaannya itu dapat bertahan lebih lama daripada lumba-lumba asli.

Melihat klaim itu, rasanya harga robot itu sangat sepadan dengan nilai tawar pada saat pertunjukannya.

Robot itu seperti dilansir dilansir dari The Guardian  akan dipamerkan di akuarium China. Prototipe robot  tersebut seberat 270 kilogram. Sehingga dijamin sangat mirip dengan aslinya dan manusia akan membedakannya.

KLIK INI:  Mengapa Narasi Lingkungan Selalu Absen dalam Kontestai Politik?

Pengelola juga memprediksi pengunjung akuarium tak keberatan bila mereka tak melihat lumba-lumba sungguhan.

“Saat pertama kali melihat lumba-lumba itu, saya pikir itu asli,” kata seorang wanita yang berenang dengan makhluk yang dikendalikan dari jarak jauh itu.

Itu karena lumba-lumba buatan itu dapat  melesat di sekitar kolam saat sekelompok perenang berdiri di ujung yang dangkal

Lumba-lumba animatronik itu terlihat sangat mirip dengan mereka yang melompat melalui lingkaran dan melakukan akrobat di taman hiburan.

Teknologi animatronik ini dapat menjadi cara yang tepat bagi orang-orang merasakan kehidupan laut. Namun tidak membahayakan kehidupan lumba-lumba dan biota laut lainnya. Dengan teknologi secanggih itu, tentunya ada biaya besar di baliknya.

Industri taman laut telah mengalami penurunan pendapatan selama lebih dari satu dekade karena masalah etis dan biaya hidup satwa.

KLIK INI:  Leuwigajah dan Kita yang Belum Berbenah?
Editor: Idris Makkatutu

KLIK Pilihan!