Lopisi’, Kue Legenda, Kudapan Legit Manis yang Menggoda Selera

oleh -84 kali dilihat
Lopisi', Kue Legenda, Kudapan Legit Manis yang Menggoda Selera
Kue Lopisi' buatan nenek Hamsinah (70) di Bulukumba - Foto/Ist
Uni Kurnia

Klikhijau.com – Kue lopisi’, satu jenis kue khas tradisional di Sulawesi Selatan yang senantiasa dirindukan. Panganan khas berbahan dasar  beras dan gula merah ini sangat layak jadi menu buka puasa.

Di Bulukumba kue satu ini termasuk punya legenda dan masih eksis hingga saat ini. Lopisi’ bekennya. Rasanya yang gurih dan nikmat membuat kue ini bisa dinikmati semua kalangan. Dan dalam segala suasana.

Siang itu, saat matahari sedang naik-naiknya, diiringi hawa panas yang lumayan menyengat. Saya berjalan memasuki lorong sempit, menuju sebuah rumah mungil. Niatnya satu, hendak berjumpa kue andalan ini.

Aroma manis gula merah sudah tercium saat saya masih berada sekira 5 meter dari tembok rumah ber-cat orange pucat itu. Harum pemanis alami kue lopisi sudah sangat menggoda selera.

Itu di rumah nenek Hamsinah (70). Saat saya tiba, ia baru saja selesai mengolah seluruh bahan dasar kue lopisi, di dapur seluas 4×6 meter.

KLIK INI:  Sop Ubi Mama Icha, Pompa Semangat WCD Warga Batua Raya, Makassar
Kisah nenek Hamsinah dan Lopisi

Suasana yang berantakan memberi bukti, bagaimana repotnya nenek Hamsinah berjibaku seorang diri. Terasa hawa panas kompor gas dan suasana rumah yang lumayan membuat keringat bercucuran.

Sepeninggal suaminya tahun 1988 silam, Hamsinah kini tinggal hanya dengan seorang anak lelakinya di rumah. Menghidupi keluarga kecilnya dengan jiwa militansi yang sudah terbentuk sedari kecil.

Dulu, di tahun 1960-an, Hamsinah yang masih sangat belia sudah menjajakan kue lopisi buatan orang tuanya di pasar. Berkeliling dari lorong ke lorong. Berteriak “ee lopisi” sambil membawa keranjang kecil berisi kue khasnya.

Anak keempat dari sembilan bersaudara ini telah berjualan lopisi sejak kanak-kanak. Resep masakan yang ia ketahui merupakan pengetahuan turun-temurun dari orang tuanya. Itulah yang membuatnya begitu cekatan meracik bahan kue meski tangannya mulai menua.

Hamsinah bahagia, jajanan kuenya menjadi salah satu kudapan yang paling banyak diminati. Biasanya nenek Hamsinah berjualan mulai subuh hingga pukul 10.00 pagi. Di bulan ramadan, kue lopisi ia jajakan lebih lambat yakni mulai pukul 13:00 hingga menjelang waktu berbuka puasa.

kue lopisi
Nenek Hamsinah, penjual kue lopisi di Bulukumba – Foto/Ist
KLIK INI:  Susu dan 6 Hal Ini Bisa Turunkan Libido Pria Jika Dikonsumsi?

Lokasinya berada di pasar tua, bekas pasar sentral yang berada di kelurahan Loka Kecamatan Ujung Bulu Kabupaten Bulukumba. Tempat berjualan nenek Hmsinah selalu ramai pembeli. Terkadang mereka berkerumun dipinggir jalan dan menghadirkan kemacetan di tempatnya berjualan.

Bahan-bahan membuat kue lopisi

Sejatinya, kue lopisi hanya memiliki dua bahan utama, yakni beras dan gula merah. Komposisi rasa manis dan legit ini menghadirkan efek yang menyenangkan dan mengenyangkan. Apalagi dengan tambahan parutan kelapa yang membuatnya semakin menggoda selera.

Beras yang telah dicuci dituang ke dalam wadah terbuat dari daun pisang yang sudah dibentuk sedemikian rupa. Dengan panjang 24 cm. Bentuknya menyerupai legese’, makanan wajib saat perayaan lebaran, yang khas dari Sulawesi Selatan.

Proses pembuatan lopisi, memiliki waktu khusus. Beras yang menjadi komponen utama lopisi, harus dimasak selama 4 jam. Itu waktu yang pas untuk menghasilkan teksture lopisi yang padat namun tetap terasa lembut dilidah saat di kunyah.

Saos khususnya terbuat dari gula merah dengan kualitas pilihan. Takaran air dan gula merah yang padat harus seimbang. Agar konsentrasi rasa manisnya tetap terjaga.

Nyala kompor saat mencairkan gula merah harus dengan api sedang. Agar gula tidak hangus dan menghasilkan rasa pahit.

KLIK INI:  Membungkus Makanan dengan Daun Jati? Ini Manfaatnya!

Sifat gula merah mengandung sedikit fosfor, yang bisa menggumpal saat hawanya terlalu panas. Sehingga selama proses masak, panci yang menjadi wadah memasak gula tak boleh ditinggalkan.

“Kalau memasak gula merah., harus peuh kesabaran. Harus dijaga dengan baik jangan sampai menggumpal dan meluap, hingga merembes ke lantai.” jelas nenek Hamsinah sambil menunjuk kompor yang nampak kotor karena luapan gula.

Saat penyajian, terlebih dahulu lopisi harus dipotong-potong berbentuk pipih. Biasanya nenek Hamsinah menggunakan line atau tali pancing untuk mempermudah pemotongan.

Kemudian, membaluri saos gula merah disekujur lopisi. Setelah itu ditaburi parutan kelapa diatasnya. Perpaduannya yang khas akan menghadirkan rasa lezat.

Pelanggan spesial nenek Hamsinah tergolong ideologis dan ramai hingga kini. Ia sukses menjaga daya tarik kue tradisional ini untuk senantiasa hadir menemani, dari masa ke masa.

Penasaran mencobanya? Resepnya sederhana dan dapat kamu buat sendiri. Namun, bila penasaran sila mampir di Bulukumba menjumlai nenek Hamsinah!

KLIK INI:  Kakek Renta Bertahan Hidup dari Arum Manis Rambut Nenek