Lipa’ Sa’be

oleh -33 kali dilihat
Lipa' Sa'be
Ilustrasi Lipa' Sa'be-foto/Pixabay
Irhyl R Makkatutu

Kali ini aku ke kampungmu. Mengetuk pintu rumahmu meski tanpa respons. Seperti dulu, ketika kuketuk pintu hatimu yang beku juga tak ada respons. Tapi aku terus saja menancapkan harap dan tak henti mengetuk, meski selalu nuansa kabut kamu busurkan.

Tujuh tahun lalu, tentu bukanlah waktu yang singkat untuk mengingat janji dan menunaikannya. Hari ini, tepat di hari Jumat. Genap tujuh tahun, ketika aku berjanji akan ke kampungmu dan mengetuk pintu rumahmu. Hari ini aku menunaikannya. Aku juga ingin mencari rindumu. Barangkali ada secuil rindu kamu simpan untukku. Meski yakinku menipis tentang hal itu.

Dengan Bus Putra Malam, aku mencoba menembus malam. Melewati jalan yang terbengkalai karena proses ganti rugi lahan warga yang tak beres. Jalan poros Maros yang mengancam jiwa para penggunanya. Jalan beton Pangkep hingga Barru yang selalu menguapkan ngeri di batinku dan semua orang yang melewatinya. Tapi tak ada gentar kuternakkan. Aku telah bulatkan tekad untuk ke kampungmu malam ini, di malam Sabtu.

“Kapan kamu tunaikan janjimu, akan datang ke kampungku, mengetuk pintu rumahku. Aku menunggu keseriusanmu. Siang tadi,  aku terima esemesmu itu. Dan esemesmu itulah yang jadi hiburan untuk menaklukkan liukan jalan yang ganas. Menembus malam yang pekat disisa hujan.

KLIK INI:  Kunang-kunang di Mata Vhy

Ketika aku terima esemesmu itu, tanpa pikir panjang, bahkan tanpa memikirkan apa-apa selain sampai ke kampungmu. Kutaklukkan hujan. Tak kupeduli kuyup menggigilkanku. Tujuh tahun aku menunggu responmu. Hari ini aku menemukan muaranya.

Wajah riang kupasang aduhai. Aku menabur senyum kepada siapa saja yang kutemui. Menerima esemesmu menagih janjiku adalah putik yang bermekaran di kemarau.

***

Di perjalanan yang bergelombang, kubayangkan kamu menyambutku dengan lilitan lipa’ sa’be yang jadi karya agung di kampungmu. Tersohor ke penjuru dunia. Aku ingat tuturmu yang sehalus sutra akan menyapaku lembut. Mungkin karena kamu berasal dari kampung sutra, hingga perasaanmu lembut.

Pekerjaanmu sangat teratur dan teliti. Kamu juga tak mudah putus asa seperti anyaman benang sutra yang tipis membentuk kain yang kuat. Di kampung itulah kamu menghabiskan masa kanakmu dan menemukan cinta pertama di pangkuan ibumu.

Dulu aku selalu terkesima jika melihatmu. Dengan terang-teranganku kuperagakan cintaku di hadapanmu. Tapi cara menolakmu cukup halus, sehalus sutra. Aku tersenyum sendiri membayangkan kenangan kita. Kutatap malam dengan liar melalui jendela bus yang kutumpangi.

KLIK INI:  Kecamuk Cuaca

“Andaikan jalan dari Maros sampai Barru tidak rusak, perjalanan kita lebih mudah dan cepat sampai,” ujar sopir bus tersebut. Entah ditujukan kepadaku atau kepada keseluruhan penumpang.

“Mungkin pemerintah menunggu korban lebih banyak lagi baru memperbaiki jalanan ini, atau menunggu musim kampanye untuk berlomba-lomba menyumbang demi menarik simpati masyarakat,” ujar seorang lelaki setengah baya yang duduk di belakang si sopir. Aku hanya tersenyum mendengarnya. Kubaca lagi esemes yang kamu kirim tadi siang.

Kedua orang itu larut dalam ceritanya, sesekali penumpang lain ikut meramaikan protesnya ke pemerintah yang mengabaikan jalan tersebut. Kuakui perjalanan dari Maros-Pangkep hingga Barru memang mengerikan. Jalan beton yang terputus-putus dan berlubang sangat mengancam pengguna jalan. Sangat dibutuhkan kejelian yang ekstra hati-hati agar tak jatuh kecelakaan mencium tanah air.

Perjalanan malam ini ke kampungmu menggugah dan penuh aral. Kubayangkan bagaimana responmu melihatku belepotan rindu ketika menatap wajahku. Kubayangkan wajah riangmu karena aku lelaki yang akhirnya bisa menunaikan janji, meski telah berlalu tujuh tahun lamanya.

Sungguh aku tak pernah lupa janji itu, Devika.  Janji yang kedengaran sepele dan mengada-ada. Tapi aku melipat janji itu dalam lipatan lipa’ sa’be pemberianmu.

KLIK INI:   Di Balik Hitamnya Arang, Ada...
***

Tujuh tahun lalu kita pernah akrab sedemikian rupa sebagai karib, tak lebih, meski telah kuakui berkal-kali kalau aku mencintaimu dengan cara yang lumrah sebagai lelaki. Namun, dengan sehalus sutra kau juga berkali-kali menolakku. Tak ada responmu sebagai perempuan yang mencintaiku. Aku tak putus asa, hingga suatu sore yang lindap kamu pamit untuk pulang kampung. Kamu meninggalkan pekerjaanmu.

“Aku ingin pulang, menjaga ibu yang telah tua rentah dan belajar menenun lipa’ sa’be, meneruskan usaha keluarga yang turun-temurun,”  ungkapmu kala itu.

“Apa kamu tega meninggalkan pekerjaanmu, padahal di luar sana banyak orang yang saling sikut untuk dapat pekerjaan,” bujukku.

“Orang tuaku lebih penting,” katamu.

“Apa kamu akan meninggalkanku, meninggalkan cinta yang tak juga kamu balas,” rayuku.

“Hahahahaha, Ridwan, berhentilah mengucap cinta padaku. Sungguh aku tak berniat menjalin hubungan seperti yang kamu harapkan itu, aku telah sangat nyaman sebagai sahabatmu.”

“Kelak, aku akan ke  kampungmu, mengetuk pintu rumahmu,” janjiku

“Hahahahaha, jangan menyiksa diri. Tidak perlu mengucapkan janji. Telah banyak janji yang ditabur di negeri ini.”

Setelah itu pada malam harinya, tepat di malam Sabtu, seperti malam ini. Kamu benar-benar pulang kampung meninggalkan pekerjaanmu dan meninggalkan cinta yang bara di dadaku. Dan entah kenapa siang tadi jemarimu merangkai kata menagih janjiku yang hampir kulupa itu.

“Apakah telah berubah kiblat hatimu atau hanya ingin mengingatkanku, menepati janji itu penting,” gumamku.

Aku tak temukan jawabnya. Sementara malam tak lagi muda. Semua penumpang lelap. Aku terjaga sendiri karena membaca esemesmu berkali-kali. Selalu kuyakinkan diriku bahwa esemes itu benar-benar darimu.

KLIK INI:  Tanah Duka, Tanah Luka
***

Aku sampai di kampungmu di pagi gelap yang sunyi. Aku kecewa karena berharap ingin sampai disaat cahaya mentari menampar dedaunan agar aku bisa menikmati Danau Tempe di pagi hari.

Aku terlambat bangun karena dicumbui kelelahan naik mobil semalam. Ketika bangun tanpa ba, bi, bu aku langsung bergegas menuju rumahmu.  Tujuh tahun lalu, kamu pernah memberikan alamatnya padaku. Maka dengan sigap aku bertanya pada warga kampung. Hingga seorang warga menunjukkannya. Katanya di dekat pasangrahan pemerintah daerah. Jalan ke arah pasangrahan itu berbukit.

Ketika di pasangrahan maka kotamu akan telihat memukau dengan hiasan Danau Tempe yang konon merupakan penghasil ikan tawar terbesar di negeri ini, bahkan di dunia. Di Danau Tempe itu pula ada rumah-rumah terapung yang punya daya tarik tersendiri. Bagaimana mungkin leluhurmu menemukan ide membuat rumah terapung di danau tersebut yang berair keruh. Aku mengaguminya.

Tak sulit menemukan rumahmu. Orang tuamu sebagai penenun lipa’ sa’be yang handal dikenal di seluruh penjuru kotamu. Kamu juga ikut terkenal, Devika. Menyebut namamu, membuat warga tersenyum. Dan disisa pagi. Aku berdiri di depan rumahmu, tepat di hari Sabtu. Aku mengetuk pintu rumahmu dengan halus. Berkali kali. Tak ada respons, aku berdiri lesu.

Kelabat kenangan tujuh tahun lalu, ketika kamu berkali-kali menolakku terbayang tunai. Apakah hari ini hal itu terulang kembali. Jika memang iya, tak apa aku telah tunaikan janjiku berkunjung ke kampungmu dan mengetuk pintu rumahmu.

Kuketuk sekali lagi pintu rumah tapi tetap tak ada respon. Kupungut daun kering di depan rumahmu, lalu kutulisi, kali ini aku ke kampungmu, mengetuk pintu rumahmu, meski tanpa respon. Tunai sudah janjiku tapi belum tunai cintaku. Lalu daun kering itu kusimpan di lipatan lipa sa’be pemberianmu yang jadi monumen kenangan di mana aku mengerti air mata.

 Wajo-Makassar 2011

KLIK INI:  Pot Nurani