Lima Negara Asia Jadi Ancaman Bagi Target Perjanjian Iklim Paris

oleh -34 kali dilihat
Mitigasi Iklim demi Generasi Mendatang tetap Bertahan Hidup
Ilustrasi - Foto/cocoparisienne - Pixabay

Klikhijau.com – Tercatat ada lima negara Asia yang bertanggung jawab atas 80 persen pembangkit listrik batu bara baru. Pembangkit listrik itu direncanakan akan dibangun di seluruh dunia.

Bukannya kabar baik yang dibawah oleh rencana tersebut, tapi kabar buruk. Karena rencana pembangunan ratusan pembangkit listrik batu bara itu bisa mengancam pemenuhan target iklim yang sedang diperjuangkan banyak negara.

Laporan yang dibuat oleh wadah pemikir nirlaba yang berbasis di London, Carbon Tracker. Di antara lima negara Asia yang disebutkan, Indonesia termasuk di dalamnya. Laporan itu dibuat oleh  pada hari Rabu, 30 Juni 2020 kemarin.

Selain Indonesia, tercatat ada Cina, India, Jepang, dan Vietnam. Kelima negara tersebut menurut laporan Carbon Tracker, sedang berencana membangun lebih dari 600 pembangkit listrik batu bara baru. Dengan gabungan kapasitas mencapai dari 300 gigawatt lebih.

KLIK INI:  Cara Simpel Menurunkan Gas Rumah Kaca dari Rumah

Pembangkit listrik batu bara masih menjadi pilihan. Meski ada pilihan lain yang lebih ramah lingkungan dan murah, yakni energi baru terbarukan.

Namun, proyek pembangkit listrik batu bara terus saja berjalan dan terus dikebut. Hal ini bisa menjadi ancaman nyata pemenuhan target Perjanjian Iklim Paris.

Secara ekonomi tak menguntungkan

Carbon Tracker mengatakan dalam laporannya bahwa Perjanjial Iklim Paris ingin membatasi pemanasan global hingga 1,5 derajat Celcius.

Ketua penelitian Carbon Tracker, Catharina Hillenbrand Von Der Neyen berujar, “Benteng terakhir kekuatan batu bara ini seakan ‘berenang melawan arus’, padahal ada energi terbarukan yang menawarkan solusi yang lebih murah untuk mendukung target iklim global.”

Pada laporan tersebut, juga disebutkan bahwa 92 persen dari proyek pembangunan pembangkit istrik batu bara yang direncanakan di lima negara Asia itu tidak akan menguntungkan secara ekonomi. Sebaliknya, proyek dinilai hanya memboroskan anggaran hingga $150 miliar.

Catharina Hillenbrand Von Der Neyen menyarankan agar para investor harus menghindari proyek-proyek pembangkit listrik batu bara baru. Karena sangat besar kemungkinannya  akan menghasilkan pengembalian negatif sejak awal.

Di antara lima negara asia yang “ngotot” ingin membangun pembangkit listrik batu bara itu. Menurut Carbon Tracker, hampir tiga perempat pembangkit listrik batu bara yang beroperasi secara global saat ini, lebih dari setengahnya berada di negara Cina.

KLIK INI:  Berburu Solusi Permanen Karhutla di Tingkat Tapak Berbasis Desa

Namun, Carbon Tracker mengatakan sekitar 27 persen pembangkit yang ada jauh dari harapan secara keuntungan. Karena  tidak menguntungkan secara ekonomi. Sementara 30 persen lainnya berada di titik  pulang pokok atau break even.

Tidak berhenti di situ saja, Carbon Tracker juga menyebutkan jika  pembangkit listrik batu bara senilai $220 miliar yang ada saat ini. Sangat besar kemungkinannya akan terbengkalai jika target Perjanjian Iklim Paris benar-benar tercapai.

Apalagi “serangan” energi baru terbarukan akan jauh lebih murah pada tahun 2024 mendatang. Hal ini bisa menjadi ancaman yang bagus bagi pembangkit listrik batu bara.

Indonesia urutan kedua

Carbon Tracker menyebutkan jika pada tahun 2026 biaya untuk mengoperasikan hampir 100 persen  pembangkit listrik batu bara dunia akan lebih mahal. Apabila dibandingkan dengan membangun atau mengoperasikan pembangkit listrik menggunakan energi terbarukan.

Untuk saat ini, di antara  lima negara Asia, Cina berada pada klasemen pertama  sebagai negara dengan rencana pembangunan pembangkit listrik batu bara terbanyak.

Meskipun Presiden Cina, Xi Jinping telah berjanji, bahwa negaranya  akan netral karbon pada tahun 2030. Namun, faktanya justru berencana membangun 368 pembangkit listrik batu bara. Tidak tanggung-tanggung total kapasitasnya mencapai 187 gigawatt.

Dan negara kedua adalah Indonesia dengan jumlah proyek pembangkit listrik batu bara sebanyak 107.  Sedangkan untuk negara dengan konsumsi batu bara nomor dua terbesar di dunia, yakni India  merencanakan  92 proyek pembangkit listrik batu bara. Total kapasitasnya mencapai 60 Gigawatt. Lalu adaada Vietnam dengan 41 proyek dan Jepang sebanyak 14 proyek pembangkit listrik batu bara.

Hillenbrand Von Der Neyen dari  Carbon Tracker menyarankan dan  menyerukan kepada  pemerintah di lima negara Asia tersebut agar menggunakan anggarannya untuk meletakkan fondasi bagi sistem energi berkelanjutan.

“Batu bara tidak lagi masuk akal, baik secara finansial maupun lingkungan,” tegasnya.

Lalu apa? Semoga saja pemerintah di lima negara Asia yang ngotot merencanakan pembangunan listrik batu bara bisa mendengarkan saran dari Hillenbrand Von Der Neyen.

KLIK INI:  Mengurai 17 Isu Lingkungan Terkini di Sekitar Kita

Sumber: DW