Lebih Berkelanjutan, Masker Kain Bisa Dicuci dan Digunakan Selama Setahun

oleh -31 kali dilihat
Ingin Hidup Beradaptasi dengan Covid-19, Ini 6 Rekomendasi LIPI!
Memakai masker adalah salah satu syarakt beradaptasi dengan corona/foto-Ist

Klikhijau.com – Masker telah menjadi kawan keseharian saat ini. Ia dianggap ampuh memutus mata rantai penyebaran virus corona.

Namun, dampak masker pada lingkungan sungguh berbahaya. Apalagi jika itu masker sekali pakai. Karenanya dibutuhkan masker yang bisa dipakai berulang kali dan tetap aman kesehatan dan lingkungan.

Untungnya ada kabar baik perihal masker yang lebih berkelanjutan, yakni masker kain. Sebuah studi baru yang diterbitkan  Aerosol and Air Quality Research mengunngkapkan fakta itu, bahwa masker katun yang dapat digunakan kembali, setelah melewati satu tahun pencucian tanpa kehilangan kemanjurannya.

“Ini adalah kabar baik bagi lingkungan. Karena masker yang dapat digunakan kembali dan cenderung lebih berkelanjutan daripada yang sekali pakai,” ujra Marina Vance selaku rekan penulis studi dan asisten profesor Universitas Colorado Boulder.

KLIK INI:  Motivator Lingkungan: Ambil Sisi Positif dari “Social Distancing” dengan Tetap Happiness

Untuk menguji kemanjuran masker kain dari waktu ke waktu, Vance dan timnya mereplikasi proses mencuci kupon sampel kain katun dua lapis seminggu sekali selama setahun, atau 52 kali.

“Rekan-rekan kami di National Renewable Energy Laboratory (NREL) menyiapkan kupon kain berlapis ganda dan melakukan siklus pencucian dan pengeringan berurutan secara terkendali, menggunakan peralatan komersial,” jelas Vance.

Setiap tujuh kali pencucian, para peneliti kemudian menguji seberapa baik masker dapat menyaring partikel. Mereka melakukan ini dengan menempelkan kupon ke ujung corong baja dan mengendalikan aliran udara dan partikel melalui lubang.

Mereka mencoba meniru kondisi kehidupan nyata dengan menguji kupon di bawah kondisi panas dan kelembaban tinggi yang mirip dengan pernapasan manusia.

“Laboratorium kami menguji efisiensi filtrasi dan ketahanan inhalasi dari semua sampel dan menemukan bahwa, bahkan setelah banyak pencucian, efisiensi filtrasi tidak meningkat atau menurun,” kata Vance.

“Itu tetap kira-kira sama. Resistensi inhalasi meningkat sedikit, yang berarti bahwa bahan tersebut kehilangan beberapa kemampuan bernapasnya, tetapi tidak cukup untuk mempengaruhi kegunaannya,” lanjutnya.

Vance mengatakan hasilnya harus berlaku untuk masker apa pun yang terbuat dari kapas.

KLIK INI:  Agar Memanen Manfaat Terbaiknya, Ini Teknik Lari Jarak Pendek yang Benar!
Ancaman berbahaya

Sejak pandemi dimulai, sekitar 7.200 ton limbah medis telah dihasilkan setiap hari. Sebagian besar adalah  masker wajah sekali pakai itu. Studi lain menemukan bahwa, sejak pandemi, hampir tiga juta masker wajah telah digunakan per menitnya.

Para peneliti dan pendukung lingkungan telah mengamatinya. Barang medis, terutama masker bergabung dengan sisa polusi yang mengotori taman dan pantai.

Relawan Ocean Conservancy mendokumentasikan dan mengumpulkan 107.219 APD dari Juli 2020 hingga Januari 2021. Selanjutnya, 94 persen relawan mengatakan mereka melihat APD saat membersihkan sampah dan 50 persen mengatakan mereka melihat APD berserakan setiap hari.

Ada juga bukti bahwa polusi baru dari APD ini merugikan satwa liar . Sebuah tim peneliti Belanda menerbitkan laporan ilmiah pertama tentang hewan yang terkena dampak APD pada Maret 2021.

Tim ini terus mendokumentasikan contoh baru di situs web. Para peneliti mengamati seekor ikan yang tertangkap dalam sarung tangan plastik dan menemukan masker wajah yang ditenun menjadi sarang burung.

Mereka juga melaporkan kasus di seluruh dunia tentang hewan yang terjerat atau terperangkap dalam APD atau salah mengiranya sebagai makanan.

“Kami melihat sampah Covid-19 sebagai ancaman baru bagi kehidupan hewan. Karena bahan yang dirancang untuk membuat kita tetap aman sebenarnya membahayakan hewan di sekitar kita,” tulis penulis penelitian tersebut.

Selain itu, APD seperti masker sekali pakai dapat berkontribusi pada masalah pencemaran mikroplastik. Ocean Conservancy lebih lanjut mengamati bahwa satu masker dapat melepaskan sebanyak 173.000 serat mikro plastik ke lingkungan.

KLIK INI:  Waktu Kerja Terlalu Lama? Waspadai Risiko 2 Penyakit Ini!
Mencari masker alternatif demi alam

“Untuk meminimalkan jumlah sampah Covid-19 dan pengaruhnya terhadap alam. Kami mendesak, jika memungkinkan, digunakan alternatif yang dapat digunakan kembali,” saran penulis di balik penelitian di Belanda.

“Orang-orang mungkin menderita karena pandemi virus corona, tetapi alam mulai muak dengan plastik kita,” lanjutnya.

Dalam konteks ini, mengetahui bahwa masker katun yang dapat digunakan kembali tahan setelah setahun dicuci adalah kabar baik. Namun, penelitian terbaru juga menguji keefektifan beberapa alternatif masker untuk menyaring partikel 0,3 mikron, yang merupakan ukuran yang dapat dilalui oleh virus corona.

Ditemukan bahwa respirator N95 dan KN95 rata-rata dapat menyaring 83 hingga 99 persen partikel ini dan masker bedah dapat menyaring 42 hingga 88 persennya, tetapi masker kain hanya dapat menyaring 16 hingga 23 persen dan bandana hanya 9 persen.

Vance menyarankan untuk menyeimbangkan keberlanjutan dan kesehatan pribadi dengan membuat keputusan masker berdasarkan situasi.

“Rekomendasi saya adalah mempertimbangkan untuk melapisi kain plus masker bedah. Itu jika Anda berpikir akan berada dalam situasi risiko yang lebih tinggi. Dan hanya menggunakan masker kain jika Anda berpikir berada dalam situasi risiko yang lebih rendah,” katanya.

Jika tetap menggunakan masker sekali pakai, potonglah talinya sebelum membuangnya. Agar tidak menjerat satwa liar. Dan lebih bagusnya lagi buanglah pada tempat yang disediakan demi melindungi satwa liar dan lingkungan.

Sumber: EcoWatch.com

KLIK INI:  Ingin Cantik? Gunakan Rumput Laut untuk Perawatan Kulit