Krisis Iklim Benar-Benar Bukan Hal Sepele, Merefleksi Kembali ‘Before the Flood’

Publish by -136 kali dilihat
Penulis: Zakiyatur Rosidah
Krisis Iklim Benar-Benar Bukan Hal Sepele, Merefleksi Kembali ‘Before the Flood’
Ilustrasi - Foto/beforetheflood

Klikhijau.com – ‘Before The Flood’ merupakan film dokumenter yang menampilkan dampak krisis dan perubahan iklim dari berbagai belahan dunia termasuk Indonesia. Diterjemahkan ke dalam 45 bahasa, film ini juga diputar di beberapa platform termasuk National Geographic Channel sebagai bagian dari komitmen mereka.

Diproduksi selama tiga tahun, dokumenter ini bercerita mengenai perjalanan ke berbagai sudut bumi bersama dengan Leonardo DiCaprio yang saat itu diangkat sebagai Duta Perdamaian PBB.

Perubahan iklim yang terlihat sepele ternyata membawa impact yang signifikan bagi kehidupan semua makhluk di bumi dan harus segera ditangani. Penggunaan lahan untuk pertambangan, pembakaran hutan, dan lainnya menjadi penyebab perubahan iklim terjadi.

Pada film tersebut dikatakan, sebanyak 97 persen ilmuwan iklim setuju bahwa saat ini pemanasan global dan perubahan iklim diakibatkan pembakaran fosil dan aktivitas manusia.

KLIK INI:  Seiring Perubahan Iklim, Pencurian Air oleh Korporasi Besar Merajalela

Namun, fakta ini mendapat perlawanan dari elite politik yang memiliki kepentingan pribadi melalui kampanye disinformasi besar-besaran. Para pengusaha yang melakukan pembakaran fosil menentang isu krisis iklim untuk menyelamatkan usaha mereka.

Meski telah dirilis pada Oktober 2016, Before The Flood masih relevan dengan krisis iklim di dunia. Di dalam film diceritakan, jika iklim bersuhu sama seperti satu dekade terakhir, Greenland akan lenyap. Selain itu, saat ini terdapat kurang lebih 9.000 pabrik di Cina.

Sementara di India, terdapat sekitar 300 juta orang atau 30 persen rumah tangga yang belum memiliki akses listrik dan energi atau setara dengan populasi di Amerika Serikat.

Saat ini terdapat tiga area hutan hujan besar yang tersisa di dunia yakni hutan Amazon di Amerika Utara, Congo Bosin di Afrika, dan hutan hujan Asia Tenggara yang terbentang di Indonesia.

Namun, di Indonesia api dengan sengaja disulut untuk membuka perkebunan kelapa sawit yang memproduksi minyak sayur paling murah di dunia. Komoditas sangat murah membuat perusahaan mendapat untung besar.

KLIK INI:  Tinjauan Kebijakan Pertumbuhan Hijau Indonesia Sajikan 49 Rekomendasi, Begini Isinya!

Indonesia sendiri merupakan tempat terakhir di bumi yang masih memiliki gajah, badak, orang utan, dan harimau yang hidup bersama di alam liar.

Namun, perluasan industri minyak kelapa sawit di sini telah mengambil 80 persen hutan sehingga mengkibatkan hewan-hewan kehilangan tempat tinggalnya.

Fakta lain menyebut, hewan ternak merupakan penghasil gas metana terbesar di dunia.

Sebanyak 10,12 persen total emisi Amerika Serikat berasal dari sapi. Metana adalah gas rumah kaca yang paling kuat, setiap molekul metana setara dengan 23 molekul karbon dioksida (CO2).

Solusi dalam mengatasinya adalah mengganti penggunaan daging sapi dengan daging ayam. Dengan begitu dapat membantu mengurangi 80 persen emisi.

Krisis iklim yang terjadi juga mengakibatkan es di kutub mencair, menigkatkan permukaan air laut, dan membuat suhu bumi lebih hangat.

Tidak hanya itu, dalam 30 tahun terakhir sebanyak 50 persen batu karang telah menghilang dan mengakibatkan berkurangnya mata pencaharian. Peristiwa ini terjadi karena perilaku manusia terhadap alam sehingga dampak buruknya juga akan dialami oleh manusia.

“Planet Bumi ini hanya sebuah perahu kecil, jika perahu ini tenggelam, kita semua akan tenggelam bersama,” – Ban Ki Moon.

Sejatinya, jika perahu kecil ini semakin lama semakin lapuk namun tak ada usaha untuk memperbaikinya, apakah manusia yang hidup di bumi sekarang hanya  sekadar menunggu tenggelam?

Semoga bisa menjadi renungan dan refleksi bersama, sahabat hijau!

KLIK INI:  Di Balik Topeng Investasi, Indonesia Kehilangan 684 Ribu Hektare Hutan
Editor: Anis Kurniawan

KLIK Pilihan!