Kota, Sampah dan Kenangan dari Manggala

Publish by -328 kali dilihat
Penulis: Wahyuddin Junus
Kota, Sampah dan Kenangan dari Manggala
Kebakaran TPA Antang/foto-ist

Klikhijau.com – Terlepas dari megapnya perkembangan Kota Makassar membangun dalam narasi kota dunia, rasanya ada yang tidak berubah dari Manggala, sensasi bau.

Tidak mengherankan saat mendengar “Kecamatan Manggala”, dibenak warga Makassar yang terlintas adalah Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Sampah. Ingatan TPA Sampah begitu mengikat,  hingga sampah-sampah warga ibukota Provinsi Sulawesi Selatan ini akan berakhir di Tamangapa, Antang.

Tidak sampai di situ saja, sebagai salah satu kecamatan di kota Makassar, Manggala juga ikut memburu ingatan atas keberadaan Rumah Pemotongan Hewan (RPH).

Belum lagi parade puluhan hingga ratusan sapi, yang setiap hari melintasi Jalan Tamangapa Raya. Berangkat di waktu pagi dan pulang di sore hari.

Kebakaran hebat tahun 2019 di TPA Tamangapa, semakin memupuk lembaran ingatan. Kepulan asap mewarnai langit Makassar dan aroma sampah yang begitu menyengat menerpah hidung hingga radius satu kilometer.

KLIK INI:  Merangsang Minat Petani Muda yang Masih Mbalelo

Peristiwa itu, menjadi memori pahit bagi Muh. Aulia Fajrin, salah seorang pemuda Manggala. Ia teringat kembali saat masih duduk di bangku SD Inpres Borong Jambu 1.

Menurut Fajrin, tahun 2005 pernah juga terjadi kebakaran di TPA Tamangapa. Ia mengisahkan, sedang asyiknya kami menerima pelajaran waktu itu, tiba- tiba kami disuruh pulang karena asap dari kebakaran itu makin banyak.

Ingatan Fajrin, kejadian tersebut begitu membekas. Kami merasakan asap yang tidak sehat terhirup oleh paru-paru. Menurutnya, haruskah pemerintah berdiam saja?

Padahal, seharusnya dari kejadian tahun 2005, menjadi pelajaran untuk antisipatif dan memberi perhatian khusus agar tidak terulang lagi. Sebab beban Kota Daeng ada di kecamatan ini, lebih tepatnya TPA Antang.

Tidak salah jika ada kalimat yang menyebut aroma bisa membangkitkan kenangan yang telah lama dilupakan. Tetapi, mengapa bau terkadang memicu ingatan yang kuat, terutama yang bersifat emosional?

KLIK INI:  Mengapa Air Laut Asin dan Apa yang Terjadi Jika Airnya Tawar?

Masalah lain, beberapa tempat di kecamatan legendaris ini menjadi langganan banjir. Sebagian mengingat lokasi banjir terparah saat musim hujan. Sebagian lagi mengingat sebagai tempat resapan air dari seluruh air di kota Makassar.

Manggala sebagai kenangan

Sebagai penopang Kota Makassar, Manggala perlu dikenang sebagai pusaran hunian kawasan terpadu. Dampak laju urbanisasi yang tak terbendung

Dengan merujuk pada Rencana Umum tata Ruang Kota Makassar tahun 2006-2016, Kecamatan ini masuk dalam kawasan perumahan terpadu. Bersama Kecamatan Rappocini, Tamalate dan Tamalanrea.

Sejak Tahun 2017 Kecamatan Manggala memiliki 7 kelurahan dengan luas 24,14 km2. Kelurahan yang paling luas adalah Tamanggapa yaitu 7,62 km2, sedangkan kelurahan yang wilayahnya paling kecil adalah Kelurahan Borong dan Batua.

Kecamatan yang letaknya berada di daerah pinggiran pusat kota Makassar, kerap kali dicitrakan sebagai pemukiman kumuh dan kotor. Beban ini pula diperparah sebagai daerah kawasan pembuangan sampah dan tinja warga kota Makassar.

KLIK INI:  Kenalkan Lilou, Babi Pertama yang Jadi "Petugas" di Bandara!

Beban berat sedang diemban Manggala. Dari sana menuai barisan kata yang tepat. Manggala mendeskripsikan aroma, ingatan, dan emosi yang tak lepas dari roda kehidupan kota Makassar yang mesti ditopangnya.

Dari sini, kita diingatkan tentang fungsi otak. Ahli saraf menyebutkan bahwa otak belajar mengasosiasikan bau dengan ingatan emosional karena adanya hubungan antara keduanya.

Terasa minim Informasi tentang Manggala yang bisa diketemukan. Sama sedikitnya bila mengingat di kecamatan ini pernah bermukim masyarakat yang memegang budaya yang masih tersisa dari masyarakat asli Makassar.

Tidak cukup banyak yang bisa mengingat bahwa di daerah ini ada rumpun keluarga yang hidup secara turun temurun.

Kecamatan Manggala sendiri dibatasi oleh Kec.Tamalanrea (sebelah utara), Kabupaten Gowa (selatan), Kecamatan Panakkukang (barat), Kabupaten Maros (timur)

Tapi 30 hingga 40 tahun lalu, Manggala bersama Lakkang, Pampang, Tamamaung, dan Borong adalah DAS Tallo. Ini ditandai dengan didapatinya populasi mangrove, khususnya nipa padat.

Manggala sebagai kecamatan dengan akkukang pernah menjadi satu kecamatan bernama Panakkukang. Dan Panakkukang bermakna tanah kerinduan, berperan sebagai paru-paru utama Kota Makassar.

Namun atas nama kepedulian itu, kini mewujud dan bertransformasi dengan Mal Panakkukang dan muncul belakang waktu Mal Nipah.

KLIK INI:  Tentang Ikan Oarfish, Cerita Rakyat Jepang, dan Daryono

Kini, Manggala tumbuh dengan hadirnya beberapa tempat rekreasi. Termasuk keberadaan beberapa waduk. Maka beberapa hembusan aroma, terkadang bisa bertindak sebagai mesin waktu. Menyedot bola penciuman kembali ke waktu yang sudah lalu. Dari sanalah ingatan langsung muncul, ketika indera penciuman menangkap aroma tersebut.

Manggala telah memberikan aroma dengan cara yang unik. Dilansir dari Live Science, aroma adalah satu-satunya sensasi yang menempuh jalur langsung ke pusat emosi dan memori otak.

Sejalan dengan makna manggala menurut situs https://kbbi.web.id/manggala.html, sebagai pelindung, sebagai pemimpin. Dia juga bermakna sebagai pengantar bagi seorang penulis dalam mengawali dan mengakhiri karangangnya.

Bagimana mengawali dang mengakhiri tulisan ini, sedikit banyaknya dipengaruhi atas makna Manggala. Berikut kehadirannya sebagai penopang.

Manggala memberi semua perangkat yang dimiliki indera manusia. Pengamatan lalu pendengaran dan selanjutnya penciuman. Faktanya saya mencium kenangan dari Manggala.

KLIK INI:  Petaka Mengintai Daerah yang TPA-nya Masih Open Dumping
Editor: Anis Kurniawan

KLIK Pilihan!