Konflik Buaya dan Manusia di Towuti Berlanjut, BBKSDA Sulsel Evakasi Buaya

Publish by -43 kali dilihat
Penulis: Redaksi

Klikhijau.com – Konflik Buaya dan Manusia di Danau Towuti kembali berlanjut. Tepatnya di sekitar dermaga Timampu, Desa Timampu, Kecamatan Towuti, Luwu Timur, Sulawesi Selatan.

Korban bernama Furqon (31), warga Desa Tokalimbo, Kecamatan Towuti, diserang buaya di Danau Towuti, Jumat 24 Januari 2020 dinihari.

Insiden terjadi di Pelabuhan Timampu (Dermaga Timampu) sekitar jam 1 malam. Malam itu, Furqon hendak mengantar istrinya yang hamil di RSUD I La Galigo Wotu.

Korban diserang buaya saat mencuci kaki dan sendalnya di tepi Danau Towuti di areal Pelabuhan Timampu.

KLIK INI:  SIMOLEK, Inovasi BBKSDA Sulsel Monitoring Tumbuhan dan Satwa Liar

Beruntung, Furqon berhasil menyelamatkan diri dari serangan hewan predator tersebut. Akibat serangan itu, Furqon mendapat luka gigitan serius pada bagian paha sebelah kirinya.

Mendapat laporan seperti ini TIM Wildlife Resque Unit (WRU) Soroako dipimpin kepala resort bergerak cepat melakukan pengamanan di lokasi kejadian. Tim Wildlife juga menghimbau kepada warga sekitar untuk tidak melakukan aktifitas di sekitar TKP.

Kepala Bidang Wilayah I Palopo Nur Alam, S.hut menanggapi kejadian ini “Secara sosial, ini musibah yang tidak kita inginkan terjadi. Tapi di lain hal, danau memang habitat untuk hidup buaya muara sebagai satwa dilindungi,” jelas Nur.

Menurutnya, kejadian ini menjadi dilema sebab penumpang atau pendatang terkena musibah.

KLIK INI:  BBKSDA Sulsel Jalin MoU dengan Klikhijau untuk Penguatan Literasi Konservasi

Hanya persoalan awalnya, korban turun ke pinggir danau untuk cuci kaki. Nur Alam meminta agar sebaiknya dari pihak pelabuhan memperbanyak fasillitas MCK untuk masyarakat.

“Dari kami kan Mustahil buaya bisa dibasmi atau dimusnahkan di danau towuti” Terang Nur Alam.

Tindak lanjut dari peristiwa ini dilakukan evakuasi satwa buaya yang menyerang warga dibantu masyarakat sekitar.

Buaya dievakuasi namun tewas sebelum dilepasliarkan

Alhasil buaya sepanjang 4 meter tersebut berhasil dievakuasi pada 27 Januari 2020 pukul 06.30 Wita di Danau Towuti.

KLIK INI:  Balai Litbang LHK Produksi Parfum Tanpa Alkohol

Sayangnya pada proses evakuasi Buaya tersebut mati ketika sampai di Lokasi Kantor Daops Manggala Agni yang sebelumnya hendak di rilis ke habitat yang jauh dari penduduk.

Penyebab kematian buaya masih belum diketahui dan sedang dilakukan otopsi oleh tim WRU agar diketahui penyebab kematian buaya tersebut.

Kepala Balai Besar KSDA Sulsel Ir.Thomas Nifinluri, M.Sc mengatakan, konflik satwa liar dengan manusia terjadi karena dinamika perubahan lanskap dan kehidupan yang pesat.

“Ini bisa dimininalisir konfliknya dengan batas-batas yang jelas. Namun tetap terbatas karena banyak faktor lain yang harus dipertimbangkan,” jelasnya.

Menurut Thomas, satwa liar ada wilayah jelajah hidupnya. Sementara ruang hidup sudah terbatas.

“Sedang Manusia berkegiatan cenderung tanpa batas. Salah satu cara adalah dengan kelola habitat baik untuk satwa liar maupun manusianya,” Terang Thomas.

KLIK INI:  Kenalkan Mobil Pusling, Mobil Cerdas Konservasi Milik BBKSDA Sulsel
Editor: Anis Kurniawan

KLIK Pilihan!