Komunitas Surplus, Berjuang Demi Kurangi Sampah Makanan

oleh -87 kali dilihat
Komunitas Surplus, Berjuang Demi Kurangi Sampah Makanan
Komunitas Surplus - Foto/Ist

Klikhijau.com – Sampah makanan merupakan salah satu isu lingkungan yang semakin mengkhawatirkan.

Menurut FAO, Indonesia menghasilkan 13 juta metrik ton sampah makanan per tahunnya, dimana beratnya sama dengan 500 kali berat Monumen Nasional.

Jumlah makanan yang terbuang tersebut sebenarnya cukup untuk memberi makan 11% populasi Indonesia. Atau sekitar 28 juta penduduk setiap tahunnya, mirip dengan angka jumlah penduduk miskin di Indonesia.

Kontribusi besar terbuangnya makanan disumbang oleh hotel, restoran, catering, supermarket, gerai ritel, dan perilaku masyarakat yang gemar tidak menghabiskan sisa makanannya.

Bahkan, data dari The Economist Intelligence Unit menyatakan Indonesia merupakan negara pembuang makanan kedua terbesar di dunia dimana setiap orangnya mampu membuang 300 kg makanan per tahun.

KLIK INI:  Rasakan Panas Terik yang Sangar Hari Ini? Begini Penyebabnya!
Apa itu food waste?

Jumlah sampah makanan yang cukup besar ini mungkin terjadi karena istilah food waste dan penjabarannya masih asing bagi sebagian orang di Indonesia. Lalu sebenarnya apa itu Food Waste?

Menurut WRAP UK, food waste merujuk pada makanan yang selayaknya bisa dikonsumsi namun terbuang karena alasan tertentu. Food waste terbagi kembali menjadi 3 kategori, meliputi:

(1) Avoidable food waste: makanan yang seharusnya bisa dihindari agar tidak terbuang, contohnya makanan yang tidak kita habiskan karena kekenyangan, stok berlebih dari usaha makanan, makanan yang basi karena lalai penyimpanan, dan sebagainya.

(2) Probably avoidable food waste: makanan yang bagi sebagian orang dibuang dan sebagian orang lain tidak, contohnya kulit kentang, kulit apel, pinggiran roti, jeroan, dan sebagainya.

(3) Unavoidable food waste : bagian dari makanan yang tidak bisa dikonsumsi lagi, contoh : tulang, biji, kulit nanas, kulit durian, dan sebagainya.

Kesadaran tentang sampah makanan atau food waste ini harus ditingkatkan dan diperluas lagi ke lebih banyak orang. Hal ini karena sampah makanan berdampak besar bagi lingkungan.

KLIK INI:  Cara Bijak Mengurangi Sampah Makanan di Rumah

Jika sampah makanan hanya berakhir di TPA (Tempat Pemrosesan Akhir) dan tidak dikelola dengan baik seperti tidak adanya pemilahan antara sampah organik dan anorganik, maka sampah makanan tersebut akan menghasilkan gas metana (CH4) saat proses pembusukannya.

Gas CH4 sendiri termasuk ke dalam gas rumah kaca yang dapat menyebabkan pemanasan global dan 21 kali lebih kuat untuk membuat bumi semakin hangat dibandingkan gas karbon dioksida (CO2).

Lebih parahnya lagi, permasalahan sampah makanan inilah yang menjadi penyebab dari tragedi longsor sampah di TPA Leuwigajah, Cimahi tahun 2005 silam. Longsor dipicu dari ledakan yang terjadi akibat akumulasi gas CH4 pada gunungan sampah, karena gas metana memiliki sifat mudah terbakar.

Surplus

Selain berdampak pada lingkungan, sampah makanan juga menimbulkan masalah sosial seperti ketimpangan pangan.

Kita tahu bahwa krisis pangan dan kelaparan masih menghantui dunia, namun banyaknya makanan yang terbuang mengindikasikan bahwa ada dari mereka yang memiliki makanan berlebihan namun disia-siakan.

Padahal, apabila makanan tersebut tidak tersia-siakan, dapat memberi makan ⅓ masyarakat dunia yang masih kelaparan.

KLIK INI:  Apa Saja Sampah Organik yang Tidak Cocok untuk Bahan Eco Enzyme?
Komunitas Suprlus

Fakta inilah yang melatarbelakangi didirikannya Komunitas Surplus. Berperan untuk memberikan informasi dan edukasi kepada masyarakat mengenai isu lingkungan.

Khususnya tentang problematika serta memberikan wadah bagi masyarakat untuk dapat berdiskusi dan melakukan aksi dalam mewujudkan kehidupan yang selaras dengan lingkungan.

Terlebih lagi, saat ini di Indonesia belum ada regulasi yang mengatur secara terperinci mengenai permasalahan sampah makanan. Untuk itu, Komunitas Surplus berusaha untuk memperjuangkan dan membantu seluruh elemen masyarakat di Indonesia untuk menjadi bagian dalam solusi masalah food waste.

Komunitas ini didirikan pada bulan Februari tahun 2020, diinisiasi dibawah Surplus Indonesia (PT. Ekonomi Sirkular Indonesia) yang merupakan sebuah startup dengan inovasinya yaitu aplikasi Surplus.

Surplus adalah sebuah platform untuk dapat menyelamatkan makanan berlebih (overstock) yang belum terjual dari toko makanan sebelum waktu tutup dengan diskon min. 50%.

Tujuannya yaitu mengurangi angka sampah makanan di Indonesia sebanyak 20% hingga tahun 2030 dengan mendukung Sustainable Development Goals no. 2 Zero Hunger, no.12 Responsible Consumption and Production, serta no.13 Climate Action.

KLIK INI:  Wah, Memanggil Kekasih dengan Nama Hewan, Hubungan Lebih Syahdu

Beberapa kegiatan Komunitas Surplus saat ini masih terfokus pada kegiatan online. Setiap minggunya terdapat konten edukasi untuk sosial media.

Kegiatan rutin

Adapun kegiatan bulanan rutin yaitu program Surplus Talk (IG LIVE bersama kolaborator), dan Surplus Discussion (Webinar & Kuliah WAG) sebagai wadah diskusi interaktif bagi Komunitas Surplus dan umum bersama narasumber.

Untuk meningkatkan skill atau keahlian anggota, terdapat pula program Surplus Class. Selain itu, Komunitas Surplus juga melakukan kegiatan offline untuk mempertemukan sesama anggota komunitas dalam kegiatan kampanye Sunday Zero Food Waste di Car Free Day (CFD) Jakarta bulan Februari 2020 yang lalu dengan tema ugly produce.

Namun karena pandemi, program yang dilakukan masih terbatas sehingga hanya diselenggarakan gathering secara online dan diskusi terkait isu lingkungan di grup anggota.

Bagi anggota komunitas dan masyarakat umum yang ingin turut mendukung aksi secara langsung bisa melalui program volunteer di kegiatan Komunitas Surplus seperti di rangkaian acara peringatan Hari Peduli Sampah Nasional Februari lalu.

Tidak hanya itu, masih ada pula kegiatan Surplus in Action (program untuk mencari opini dari masyarakat, komunitas, dan ahli mengenai isu lingkungan yang hangat dibicarakan), dan Surplus Berbagi (kegiatan berbagi makanan maupun barang kepada yang membutuhkan).

Kegiatan sosial ini juga sejalan dengan program Surplus Indonesia, dimana dari setiap 1x download aplikasi Surplus akan menyumbang 50 gr beras kepada yang membutuhkan.

Program Surplus Berbagi Beras ini telah berjalan dari bulan April 2020 hingga saat ini. Keseluruhan dokumentasi kegiatan dapat disaksikan melalui media sosial seperti instagram & youtube Komunitas Surplus.

Untuk dapat bergabung ke Komunitas ini, caranya cukup mudah yaitu dengan mengisi formulir online. Hal ini juga merupakan sebuah tips agar bisa semakin tahu dan tergerak dalam memperjuangkan isu yang menjadi concern kita.

Orang-orang dan kegiatan di dalam wadah ini bisa menjadi support bagi kita untuk melakukan aksi. Namun, jangan lupakan aksi kecil dan nyata dari diri sendiri dulu dalam mencegah sampah makanan, diantaranya:

  1. Belanja seperlunya, tidak perlu menyimpan stok makanan terlalu berlebihan
  2. Masak sesuai porsi keluarga di rumah
  3. Mengambil makanan ke piring sesuai porsi masing-masing dan selalu menghabiskannya
  4. Tahu cara menyimpan makanan yang benar agar tahan lama dan tidak mudah basi
  5. Pintar berkreasi dengan sisa makanan agar bisa dikonsumsi sampai habis
  6. Berbagi makanan yang berlebih kepada yang membutuhkan, ke keluarga atau tetangga

Bagaimana? Sudah lebih tahu tentang permasalahan sampah makanan? Ke-6 tips tadi juga sangat mudah untuk dilakukan, tapi jangan sepelekan dampak positifnya ya! Bersama Komunitas Surplus yuk cegah sampah makanan, hargai pangan, dan selamatkan lingkungan!

KLIK INI:  Harusnya Para Caleg Tahu, Ini Dampak Buruk Memaku Pohon