Kita yang Terbiasa Menelantarkan Sampah Koran Bekas

oleh -91 kali dilihat

Klikhijau.com – Ini fenomena tahunan yang terus menggelitik hati. Yah, kita yang seolah tak berdaya menyaksikan sampah koran bekas berserakan usai salat idul fitri.

Entah mengapa dengan tanpa merasa berdosa, kita telah merawat budaya bebal ini hingga mendarah daging. Sesuatu yang amatlah paradoks, sebab kita baru saja merayakan idul fitri yang bermakna kembalinya diri menjadi suci dan bersih.

Pendeknya, menjadi manusia dengan kualitas kemanusiaan dan keberimanan yang lebih baik dari sebelumnya.

KLIK INI:  Akuilah Tempat Sampah Memang Menjijikkan, Tapi Sangat Dibutuhkan, Kenapa?

Memang, beberapa saat usai salat di sebuah lapangan, jalan raya atau halaman kantor—sampah koran bekas itu akan dibersihkan oleh pihak tertentu. Walau di beberapa tempat dibiarkan serampangan hingga waktu yang lama—tetapi, masalahnya bukan hanya di situ? Ini soal perilaku dan mentalitas kita yang belum move on, primirif dan menjemukan.

Pertama, kita yang selalu menganggap bahwa ada pihak tertentu yang bertanggungjawab di balik masalah kebersihan di ruang publik. Persepsi ini termaktub secara massif dalam benak masyarakat, sehingga begitu melihat ada peluang membuang atau meninggalkan sampah, secara kolektif akan dilakukan dan dibiarkan.

Kedua, kita yang tak menganggap bahwa koran bekas, plastik dan semacamnya bukanlah sesuatu yang kotor dan mengganggu sehingga bisa ditelantarkan di mana saja.

KLIK INI:  ADUPI Angkat Suara Soal Pelarangan Sampah Plastik, Begini Poin Aspirasinya!

Ketiga, kita belum merasa betapa pentingnya merawat kebersihan dan kepedulian pada lingkungan sebagai sebuah sikap yang mencerminkan pribadi yang beragama dan berbudi pekerti.

Menelantarkan sampah di tempat umum akhirnya menjelaskan siapa kita yang sebenarnya. Kita yang tidak memiliki budaya malu pada diri sendiri, pada lingkungan dan pada Tuhan. Ini perilaku massal yang sangat mengerikan bukan? Kalau di ruang publik saja kita abai terhadap sampah yang notabene kita hasilkan sendiri, apa mungkin kita bisa menyudahi kebiasaan buruk kita buang sampah secara “sembunyi-sembunyi”?

Sampah koran bekas itu jadi saksi bisu tentang siapa kita dan bagaimana kualitas cinta kita pada alam semesta. Kita sebagai sebuah bangsa yang tak peduli kebersihan lingkungan. Data riset Kementerian Kesehatan menunjukkan bahwa hanya ada 20 persen masyarakat Indonesia yang peduli terhadap kebersihan dan lingkungan. Itu berarti, dari 260 juta jiwa, ada sekitar 210 juta jiwa yang terbiasa abai dan tak peduli kebersihan.

Wajar bila jurnal Science sejak 2015 lalu mengungkap bahwa Indonesia menjadi negara penyumbang sampah plastik terbesar di dunia.
Lalu, bagaimana bersikap? Kita membutuhkan aksi kecil yang menginspirasi, semisal terbiasa membuang sampah pada tempatnya atau terbiasa membopong sampah sendiri.

KLIK INI:  Atasi Sampah Plastik Sungai, Pemerintah Kembangkan Teknologi dari Belanda

Kebiasaan buruk menelantarkan sampah koran bekas sebenarnya bisa dilakukan bila ada kesadaran kolektif masyarakat. Misalnya, memastikan penyelenggaraan salat idul fitri khususnya di ruang terbuka memiliki sistem pengendalian sampah secara baik.

Sistem yang dibuat tidak sekadar memastikan sampah tidak serampangan, tetapi sekaligus mengedukasi masyarakat.
Pertama, mengkampanyekan penyelenggaraan shalat idul fitri yang ramah lingkungan dan zero waste.

Penyelenggara bisa menyiapkan alas atau tikar yang bisa digunakan berulang-ulang sehingga jamaah tidak perlu membawa koran bekas.

KLIK INI:  Cerita dari 'Suroboyo Bus' yang Menerima Bayaran Sampah Plastik

Perihal ini saya jadi ingat penyelenggaraan shalat idul fitri atau idul adha di kampung semasa masih kanak-kanak. Karena kami tak mengenal koran bekas, maka orang-orang tua kami membawa tikar sebagai altar. Tikar atau altar tersebut akan dirapikan kembali usai shalat berlangsung.

menciptakan suasana ruang saalat yang bersih dan peduli lingkungan. Ada penyediaan tempat sampah dan dilengkapi dengan seruan untuk menjaga kebersihan. Panitia penyelenggara misalnya dapat menyerukan pada jamaah agar mengambil atau merapikan sampahnya masing-masing sebelum meninggalkan tempat.

Aksi ini dapat dilakukan secara berjamaah, bila perlu dimasukkan adalah manual acara. Ini hal sederhana yang gampang-gampang susah, sekali lagi karena perilaku kita yang memang terbiasa abai terhadap sampah. Tetapi, bila terus dibiasakan dari tahun ke tahun, bukan tidak mungkin akan menjadi tradisi.

Sampah plastik atau koran bekas yang dikumpulkan dapat diserahkan oleh panitia ke bank sampah terdekat. Selain menghasilkan uang juga mengedukasi jamaah bahwa kertas dan plastik itu bernilai uang. Walau begitu, perihal sampah harus dilihat sebagai sebuah tanggungjawab menjadi manusia, terlepas dari godaan menukarnya dengan rupiah—menjaga lingkungan adalah penyempurna kecintaan pada Ilahi.

Ayo memulai, di lebaran yang akan datang! Di lingkungan kita masing-masing!

KLIK INI:  Ibu-Ibu, Koran Bekas dan Inspirasi dari Seorang Dosen Seni UNM