Kisah Seekor Monyet yang Membuang Uang ke Lautan

Publish by -177 kali dilihat
Penulis: Yanuardi Syukur (Antropolog, Pendiri Rumah Produktif Indonesia)
Covid-19 dan Kisah Seekor Monyet yang Membuang Uang ke Lautan
Yanuardi Syukur, Antropolog, Pendiri Rumah Produktif Indonesia-Foto/Ist

Klikhijau.com – Syahdan, ada seorang penjual minuman keras yang berjualan di atas kapal. Bersama dia ada seekor monyet. Ketika berjualan, si penjual itu sering banget curang: dia campur air ke dalam mirasnya.

Masa itu, miras belum diharamkan–dalam Islam. Di awal periode Madinah, miras bahkan masih halal, akan tetapi sifatnya tercela. Belum haram. Selanjutnya mulai dilarang: “jangan salat jika sedang mabuk.” Akhirnya, miras memang diharamkan.

Suatu ketika, di kapal itu sang monyet mengambil kantong uang boss-nya. Dia bawa kantong itu ke atas kapal. Dia buka.

Dari atas kapal, seekor monyet itu mulai ambil satu dinar dan melemparnya ke laut. Setelah itu dia ambil satu lagi dan dia lempar ke kapal. Seterusnya kayak begitu.

Akhirnya, uang si boss terbagi dua. Sebagian hilang ditelan laut, sebagian lagi terlihat di atas kapal.

KLIK INI:  Hari Lingkungan Hidup dan Agenda Pembangunan Berkelanjutan yang Terbengkalai
***

Cerita ini menjelaskan bahwa orang yang curang itu kekayaannya kelak tidak akan berguna. Tadi, si boss yang jualan “miras oplosan” itu menjual barang yang sudah dicampur. Tidak lagi asli. Padahal, orang percaya, itu asli.

Orang yang beli mungkin percaya. Itu barang bagus. Untuk menghangatkan tubuh. Si boss hanya mengiayakan. Lumayan, untung gede. Demi untung besar, semua cara jadi halal. Tak terkecuali dengan berlaku curang.

Orang yang berlaku curang bisa jadi dapat banyak keuntungan. Tapi dalam hatinya kosong. Bahagia dia punya tapi kebahagiaannya itu ada di harta. Hilang dia punya harta, hilang punya kebahagiaannya.

Orang yang kayak begini banyak dalam kehidupan manusia. Dulu ada cerita tentang Qarun. Dia hidup di masa Nabi Musa. Aslinya dia itu miskin, tapi kemudian dia berharap jadi kaya. Setelah kaya, dia lupa asalnya. Lupa kacang akan kulitnya.

Ketika hartanya mulai banyak, dia mulai lupa. Orang-orang bilang, “Janganlah kamu terlalu bangga. Allah tidak suka dengan orang-orang yang membanggakan diri.” Dia menjawab, “aku dapat harta ini karena ilmu yang ada padaku.”

KLIK INI:  Cerita dari India dan Kejutan di Pasar Rakyat yang Tanpa Kantong Plastik

Artinya, dia merasa bahwa kapasitas yang ada dalam dirinya–entah itu kekayaan, nama besar, kehormatan–itu karena usahanya dia. Tidak ada bantuan orang lain, dan bukan karena rahmat dari atas.

Gara-gara sikapnya yang kayak kacang lupa kulit itu, akhirnya hartanya itu dibenamkan ke bumi. Itu pula yang kita kenal sampai sekarang ada istilah “harta karun”, yaitu harta terpendam yang berjumlah banyak.

Di banyak film Hollywood, pencarian akan harta karun itu sering banget kita tonton. Ada yang settingnya itu di Mesir. Katanya, di dalam piramida, yang di sana ada mummi itu, ada kekayaan luar biasa. Ada juga yang bersetting di Amerika, yang digambarkan kekayaan itu ada di bawah rumah ibadah.

Di Indonesia perihal pencarian harta karun itu tidak banyak filmnya. Tapi waktu lagi rame-ramenya batu bacan, orang-orang rela datang ke Pulau Bacan untuk mencari batu itu. Konon, itu batu yang banyak gunanya. Bahkan, katanya presiden Amerika juga ada yang pakai itu.

Waktu rame batu bacan, seorang tetangga saya malah menawarkan batu yang lain. Namanya “hajar jahannam”. Waw! Namanya gila! Jahannam.

KLIK INI:  4 Fakta Unik Seputar Gerhana Matahari 26 Desember 2019

“Ini batu apa?” tanya saya. Tetangga itu bilang, “ini batu kalau kita pegang, kita jadi kuat.” Saya pun mencobanya. Entah kenapa saya rasanya jadi kuat. Nggak tahu apa itu sugesti aja atau memang beneran. Saya beli bongkahannya, tapi kini setelah berlalu musim batu, batu jahannam itu juga tidak kedengaran lagi khasiatnya.

***

Jadi, pencarian kekayaan itu sudah jadi tabiat manusia. Mau di barat dia atau timur semua ingin kaya. Sebenarnya kalau orang mau berusaha, pasti mereka bisa kaya. Saya ingat, di kampungku ada orang yang biasa-biasa saja, rumahnya kecil, kayak kos-kosan, tapi dia bisa sekolahkan anaknya hingga doktor. Mungkin itu jenis kekayaan pendidikan atau aset masa depan.

Tapi pernah juga waktu saya jalan di kota New York, saya lihat lebih dari satu orang yang tidur di pinggir jalan. Compang-camping. Mendekati markas PBB, saya melihat beberapa orang tuna wisma, nggak punya rumah. Sudah jam 11 siang, tapi masih tidur.

Di dekat situ, saya coba duduk juga merasakan bagaimana duduk-duduk kayak gelandangan di kota dunia itu, sambil menikmati nasi basmati berlauk ayam yang saya beli di beberapa blok sebelumnya.

Rupanya orang kaya dan miskin itu ada di mana-mana. Pengemis ada di Jakarta, ada juga di Washington. Ada di kota tapi belum tentu di desa.

Kenapa? Karena di desa umumnya orang tercukupi makannya, maka mereka nggak minta-minta. Beda dengan hidup di kota yang dimana-mana mahal, dan kalau nggak punya modal bisa tergilas oleh ibu kota.

KLIK INI:  Perihal Levitt yang Tiba Memberi Harapan Covid-19 Segera Berakhir

Orang yang curang juga ada di kota ada di desa. Yang ubah timbangan itu banyak. Yang mark up duit proyek juga banyak. Bahkan yang paling sial itu ada di gedung terhormat yang dibangun dari keringat amanat penderitaan rakyat. Kadang, yang lalai itu mau amanatnya tapi lupa kalau rakyat menderita.

KLIK INI:  Kabar Buruk Tentang Tempat Sampah “Jadi-Jadian” di Makassar

Hingga ketika mereka sudah pensiun, baru mulai sadar lagi “oh, ada yang hilang dalam diri saya.” Dulu kalau jalan orang-orang hormat, sekarang nggak ada lagi. Dulu kalau ada urusan tinggal telepon, sekarang boro-boro. Bahkan, ketika tubuh mereka sudah mulai menua juga tidak banyak orang mau mendekat. Pelit sih, curang sih.

Kembali ke cerita seekor monyet. Jadi monyet itu mungkin mengabarkan suatu hal pada kita di zaman ini. Bahwa hidup yang mulia itu tidak curang. Karena si boss juga menjual miras yang barang dia, maka duit yang dibuang ke kapal itu tetap milik dia. Tapi, yang dibuangnya ke laut itu bisa dikata “dibersihkan” oleh si monyet biar hidup si boss itu berkurang dosanya.

Makanya kan ada namanya sedekah. Ada juga zakat. Jika ada rezeki, bersedekahlah. Apalagi di masa-masa sulit. Kalau masa sudah tenang bisa jadi tidak lagi orang yang mau terima uang itu. Mumpung orang masih sulit, keluarkanlah uang untuk membantu sesama.

Jika belum bisa membantu dalam bentuk uang cash, ya bisa dengan uang non-tunai. Kirim paket data misalnya ke dokter yang menangani pasien covid-19. Atau, kirim pulsa kepada mereka yang diisolasi. Mungkin tidak seberapa, tapi itu menjelaskan ada empati.

KLIK INI:  Lawan Covid-19, Amerika Cabut Larangan Penggunaan Plastik Sekali Pakai

Atau, kalau punya banyak paket data, bantulah sesama dengan tidak menyebarkan berita hoax. Kan kesian orang tertentu yang saban hari tertekan melihat “serangan beruntung” informasi ini dan itu.

Buka grup ini ada covid, buka grup sana juga sama. Untung jika isinya fakta, gimana kalau isinya hoax, cocokologi, dan bikin takut-takut orang yang masih hidup.

Kembali kita ke seekor monyet baik tadi yang cerita aslinya pernah diceritakan oleh Nabi Muhammad yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah. Mungkin, wabah corona yang lagi mewabah di dunia ini juga membawa satu pesan.

Pesan bahwa kita jangan curang. Depan bilang A, belakang bilang B. Saat ibadah bilang “hanya untuk-Nya”, tapi selesai itu, nya-nya berubah untuk nafsu curang, tamak, dan zalim kepada sesama. Atau mungkin, zalim pada diri sendiri juga. Mari introspeksi diri.

KLIK INI:  Benda-Benda yang Dapat Menyimpan COVID-19 dan Durasinya Bertahan!
Editor: Ahmad Fikri

KLIK Pilihan!