Kisah Saraba, Pencetus Rehabilitasi Mangrove Lantebung Makassar

Publish by -277 kali dilihat
Penulis: Anis Kurniawan
Kisah Saraba, Pencetus Rehabilitasi Mangrove Lantebung Makassar
Saraba, tokoh penting di balik rehabilitasi mangrove Lantebung - Foto/YKL Indonesia

Klikhijau.com – Kawasan mangrove Lantebung kini menjelma sebagai satu kawasan ekowisata alternatif di Makassar. Berada di pesisir utara Makassar, tepatnya di Kampung Lantebung Kelurahan Bira Kecamatan Tamalanrea, kawasan ini jadi tempat favorit di kala senja hampir tenggelam.

Di balik  pesona kawasan mangrove Lantebung ada tangan dingin seorang Saraba (57). Yah, apa yang tampak dan dinikmati saat ini di Lantebung adalah berkah dari kerja keras Saraba.

Lantebung di “zaman old” bukanlah apa-apa. Tak dilirik dan seperti kawasan pinggiran yang kehilangan harapan. Saraba bercerita, pada tahun 1977 rumah-rumah roboh di perkampungan Lantebung. Angin laut dan banjir rob melululantah semuanya, seolah menerbangkan separuh hidup warga.

Saraba belajar dari tragedi itu. “Saya ingin, bagaimana caranya agar kejadian itu tidak terulang lagi,” kata Saraba pada Klikhijau, Selasa 28 April 2020.

***
KLIK INI:  Pagari Laut Wakatobi, Bank Ikan Ini Dapat Penghargan di New York

Pada tahun 1982, atas inisiatif sendiri, Sarabba mulai bergerak demi memutus rantai kecemasan di pesisir. Saraba mulai menanam mangrove, satu demi satu. “Pokoknya, setiap dapat bibit langsung saya tanam sendiri,” kisahnya.

Aksi tanam mangrove itu ia lakukan karena satu keyakinan betapa penting mangrove pada pelestarian pesisir dan kesejahteraan warga di sekitarnya.

“Mangrove memiliki fungsi penting untuk menjaga terjadinya banjir rob dan abrasi. Mangrove juga dapat meningkatkan pendapatan nelayan serta dapat menyaring rembesan air laut ke pemukiman  agar warga sekitar dapat menikmati air payau,” katanya.

Saraba yang juga seorang guru SD kemudian membangun semacam aksi kolaboratif yang melibatkan warga lain dan banyak komunitas. Ia menyadari bahwa rehabilitasi mangrove harus melibatkan banyak pihak.

KLIK INI:  Sinopsis Film Semesta, Kisah dari 7 Tokoh Inspirasi Lingkungan

Langkah pertama ia mulai dengan melakukan penguatan pada warga lokal tentang potensi ekowisata mangrove Lantebung. Saraba pun membentuk sebuah komunitas bernama Jaringan Ekowisata Mangrove Lantebung (Jekomala). Komunitas yang ini berfokus pada pengelolaan wisata edukasi dan pengembangan penelitian mangrove di Lantebung.

Dari waktu ke waktu, penanaman mangrove di Lantebung pun terus dilakukan. Pada 1994, Saraba dan warga lainnya membuka kran kerjasama dengan banyak pihak untuk penanaman mangrove lebih massif lagi.

Walhasil, dukungan banyak pihak secara perlahan mengubah wajah Lantebung yang dulunya kumuh dan langganan banjir kini jadi kawasan yang menjanjikan.

kerjasama di mangrove lantebung
Kerjasama dengan Jasa Raharja untuk penanaman mangrove di Lantebung – Foto/Ist

Lebih dari tiga puluh tahun, Saraba merintis impiannya dari situasi yang benar-benar zero menjadi seperti sekarang. Aksinya ini dilakukan secara swadaya dan tanpa dukungan dari pihak mana pun. Beruntung, Saraba adalah seorang Pegawai Negeri yang memiliki penghasilan cukup. “Jadi saya bisa mengabdikan diri dengan menanam mangrove. Seandainya tidak, tentu kesulitan juga,” ungkapnya.

Impian Saraba dari Lantebung

Pada sepuluh tahun yang akan datang, Saraba membayangkan kawasan mangrove Lantebung bisa lebih maju lagi. Ia juga berharap, masyarakat dapat bermukim di hutan mangrove karena pemukiman di Lantebung kini semakin padat.

KLIK INI:  Ketika Sabut Kelapa Menjelma Jadi Tanggul Laut Ramah Lingkungan

“Dalam benak saya, masyarakat ke depannya dapat memanfaatkan lokasi (hutan mangrove) yang ada,” tuturnya.

Sayangnya, Saraba dan komunitasnya kini dihantui eksploitasi mangrove dari pihak tertentu. Bertepatan dengan hari bumi 22 April tahun ini misalnya, duka mendalam dirasakan Saraba dan warga Lantebung lantaran sebuah eskavator milik oknum perusahaan merobohkan ratusan pohon mangrove.

Tantangan lainnya, kata Saraba adalah soal kebijakan pemerintah karena kawasan Lantebung sudah ditetapkan sebagai kawasan  konservasi. “Kalau sudah begini kan, ujung-ujungnya nanti ada reklamasi,” katanya.

Walau begitu, Saraba tetap optimis. Ia terus melakukan penguatan dan kebersamaan dengan warga dan  komunitasnya. Tujuannya adalah bagaimana misi pelestarian mangrove tetap berjalan demi satu impian, kawasan mangrove Lantebung berdampak luas secara ekologi, sosial dan ekonomi pada masyarakat.

Datanglah ke kawasan mangrove Lantebung Makassar, kepiting bakaunya melimpah. Senja tampak molek diselingi angin sepoi yang segar dari sela-sela pepohonan mangrove. Percayalah, itu tidak hadir secara instan, di balik semuanya ada kerja keras seorang Saraba yang tulus tanpa batas.

KLIK INI:  Ami, Ratu Sampah Sekolah di Pulau Dewata
Editor: Anis Kurniawan

KLIK Pilihan!