Kisah Baco, Paruh Baya Pejuang Sampah di Pesisir Pantama Kajang

oleh -66 kali dilihat
Kisah Baco, Paruh Baya Pejuang Sampah di Pesisis Pantama Kajang
Bersama Baco, paruh baya di Pesisir Pantama Kajang yang mengais rezeki dari sampah pesisir - Foto/AS

Klikhijau.com – Baco, sapaan akrab pria paruh baya yang bermukim di pesisir Dusun Lombok, Desa Pantama, Kecamatan Kajang. Kesehariannya adalah mengumpulkan sampah plastik yang hanyut terbawa ombak saat air laut sedang pasang.

Meski tak lagi muda, Baco selalu semangat menyusuri pinggiran pantai di sekitaran rumahnya. Satu persatu sampah dikumpulnya ke dalam karung yang ditentengnya. Pencarian sampah hampir tiap hari disepanjang pagi atau sore saat air laut naik. Begitulah dia menceritakan rutinitasnya.

Saat kami sambangi di rumahnya yang sangat sederhana, Baco tengah sibuk berjibaku dengan sampah. Dia yang berada di belakang rumahnya yang rindang dengan pepohonan kelapa, sedang membersihkan plastik hasil pulungannya. Plastik tersebut dipadatkan sehingga tidak banyak mengambil tempat.

“Biasanya 10 hari datang mas-mas ambil (beli),” katanya dalam bahasa daerah setempat (Konjo), beberapa waktu lalu.

Baco tinggal sendiri, istrinya beberapa tahun lalu meninggal dunia. Sementara anak-anaknya telah berkeluarga dan jarang menemaninya. Di usia yang makin tua, dia hanya perlu banyak menggerakkan tubuhnya, agar lebih bermanfaat dia memilih mengumpulkan sampah plastik.

KLIK INI:  Danamon Peduli Lingkungan, dari Pembuatan Biopori hingga Ecobrick

Kegiatan yang awalnya hanya sebagai iseng-iseng saja, rupanya membawa berkah rezeki baginya. Berawal dari keprihatinan terhadap sampah laut yang dikumpulkan untuk dimusnahkan. Namun tak lama setelahnya, dia berkenalan dengan pengepul plastik.

“Saya punya perahu-perahu kecil dipakai cari ikan, memancing tapi kalau mau turun biasanya liat sampah banyak, prihatin juga,” ungkapnya.

Ayah lima anak itu tak tahu pasti harga jual plastiknya, namun dalam 10 hari laku sampai Rp 100.000. Penghasilan dari plastik itu baginya lumayan untuk menutupi biaya makan sehari-hari.

Plastik yang dikumpulkan Baco umumnya kemasan dari teh, kopi, air mineral, dan lainnya. Jika menunggu sampah tersebut benar-benar teturai secara alami di laut, menurut penelitian butuh waktu hingga 450 tahun.

Sampah plastik seharusnya dipandang tak sekedar sebagai sampah tapi ancaman serius bagi kualitas hidup di masa depan. Mengerikan untuk dibayangkan.

Perilaku membuang sampah sembarang tempat, dengan proses panjang, umumnya mereka akan berakhir di laut. Tindakan kejahatan lingkungan harusnya tidak dapat ditoleransi.

KLIK INI:  Gadis Berdarah Batak Ini Terbiasa Bawa Tumbler ke Mana-mana, Begini Alasannya

Kejahatan lingkungan dilakukan dengan sangat sederhana dan sepele seperti dengan abai terhadap urusan sampah masing-masing. Padahal menyelamatkan lingkungan adalah tugas bersama, termasuk menyelamatkan laut kita dari pencemaran. Laut sebagai tempat manusia bergantung dan mencari sumber protein.

Semakin banyak yang peduli lingkungan, semakin ramah bumi ini bagi mahluknya. Langkah-langkah yang dapat dilakukan selain seperti yang dilakukan Baco dalam kesehariannya, kita dapat memulai dengan mengurangi produksi sampah plastik misalnya membiasakan diri membawa tumbler atau botol air minum untuk isi ulang, membawa kantong belanjaan yang dapat dipakai kembali, mengganti sedotan plastik dengan stainless steel.

Upaya penyemalaman lingkungan bersama

Selain aksi pungut sampah yang dilakukan Baco, menjelang akhir Juli lalu kolaborasi pemuda memperkuat sabuk hijau di pesisir pantama.

Lokasinya disekitar tempat Baco biasa mengumpulkan plastik. Upaya penyelamatan lingkungan itu digelar serentak di 10 kabupaten di SulSel dalam rangka Jambore Mangrove yang dilaksanakan WWF (World Wide Fund for Nature) di Hari Mangrove Sedunia.

KLIK INI:  5 Strategi dan Rencana Aksi Indonesia dalam Pengurangan Sampah Plastik

Di Bulukumba kegiatan digerakkan Organisasi Mapaska (Mahasiswa Pemerhati Alam dan Seni Budaya) Kajang. Sebanyak 50 an volunteer dari berbagai komunitas turut mengambil peran dalam aksi cinta lingkungan yang bertema “Kolaborasi Menjaga Kelestarian Mangrove Sebagai Benteng Pesisir Sulsel”.

Sejumlah komunitas yang terlibat di antaranya Karang Taruna Pammulai, Sabtu Keren, Gonrongers, Lintas Pelosok Ilmu, Lakpesdam PCNU Bulukumba, KMBPL, Gudang Alam, Lingkar Pemuda Kreatif, KKMB Unibos, Karang Taruna Buwung Pitue, Karang Taruna LPB, Geografi UNM, KKN Gelombang 106 Unhas, FDC Unhas, PMR Unit 209 SMAN 5 Bulukumba, Duta Wisata, Karang Taruna Bawakaraeng Kindang, IAP Pasca UNM, PJKR UNM, IKOM UMI, Kerukunan Pemuda Bonto Puang, Komunitas Fotography Bulukumba, Sirumpun, Komunitas Anak Lereng, dan lainnya. Kegiatan sendiri dibuka oleh Kepala Desa Pantama, Syarifuddin.

Bagi Syarifuddin, momen tersebut menjadi ajang edukasi bagi pemerintah desa kepada masyarakat pesisir untuk melihat nilai positif dari mangrove itu sendiri. Selain baik untuk lingkungan juga bisa dimanfaatkan untuk peningkatan nilai ekonomi dan pangan.

“Di Kajang ada mangrove tertentu yang buahnya bisa kita makan, itu dicampur dengan lawara,” jelasnya.

Harapan lainnya dari penaman mangrove, bisa menjadi investasi pariwisata. Empat atau lima tahun ke depan bisa dikelola menjadi wisata mangrove. Itu sebabnya, lokasi penanaman tidak jauh dari spot rintisan wisata desa, di Pantai Lombok.

“Pantama juga merupakan desa yang memiliki pesisir terluas di Kajang,” klaimnya.

KLIK INI:  Bahaya, Limbah Plastik Dunia Mengancam Indonesia