Kiprah Peneliti dan Konservasionis Indonesia Belum Maksimal

oleh -131 kali dilihat
Kiprah Peneliti dan Konservasionis Indonesia Belum Maksimal
Gajah merupakan salah satu hidupan liar yang perlu dilindungi/foto-Media Permata
Irhyl R Makkatutu

Mereka berkumpul di Bogor membincangkan hidupan liar

Klikhijau.com – Demi meningkatkan kapasitas peneliti hidupan liar di Indonesia. KLHK bersama Institut Pertanian Bogor (IPB) menggelar lokakarya temu peneliti dan konservasionis hidupan liar Indonesia.

Kegiatan tersebut digelart di IPB International Convention Center, Bogor, Senin, 8 Juli 2019. Kegiatan itu juga untuk meningkatkan jaringan kerja. Tujuan lainnya adalah untuk memaksimalkan kemampuan Indonesia di bidang diplomasi konservasi internasional.

Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) KLHK, Wiratno menyatakan, saat ini baru sekitar 75 orang, baik peneliti, profesi maupun penggiat hidupan liar Indonesia yang berkiprah dalam berbagai specialist group dalam Species Survival Commission (SSC).

KLIK INI:  Pembunuh Harimau Bunting di Vonis, WWF Beri Apresiasi Penegak Hukum

“Pertemuan ini, tujuannya termasuk juga memberikan masukan bagi delegasi Indonesia. Delegasi tersebut akan hadir dalam pertemuan IUCN Asia Regional Members Committee di Islamabad, Pakistan bulan Agustus mendatang.  Mari kita bangun komunikasi dan koordinasi di antara para anggota SSC IUCN Indonesia,” ungkap Wiratno.

SSC sendiri dibentuk oleh International Union of Conservation of Nature (IUCN). Jumlah ini sebenarnya sedikit. Mengingat banyak specialist group yang tidak memiliki anggota dari Indonesia.

Oleh karena itu, lokakarya para peneliti dan konservasionis tersebut diarahkan untuk memaksimalkan kemampuan Indonesia di bidang konservasi internasional.

Sebagai salah satu negara mega biodiversitas. Indonesia telah menjadi perhatian peneliti hidupan liar. Menghasilkan ratusan temuan baru.

KLIK INI:  Peneliti Brasil Ungkapkan Racun Laba-Laba Pisang Bisa Atasi Disfungsi Ereksi

Berbagai peneliti hidupan liar di Indonesia kini telah bergabung dalam banyak himpunan profesi.Himpunan itu merupakan kumpulan para peneliti dan penggiat konservasi sebidang.

Sebut saja Indonesian Ornthologist Union (IDoU), Perhimpunan Herpetologi Indonesia (PHI), Perhimpunan Entomologis Indonesia (PEI), Perkumpulan Biologi Indonesia (PBI), Forum Orangutan Indonesia, Forum Harimau Kita dan perkumpulan yang bersifat profesi seperti Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia (PDHI).

Menjadi jaringan global

SSC dibentuk oleh IUCN. Kini tumbuh menjadi jaringan global berbasis ilmu dari ribuan ahli sukarelawan di bidang keanekaragaman hayati.

SSC melakukan penilaian terhadap status spesies. Mengembangkan rencana dan strategi aksi konservasi spesies. Menyiapkan pedoman teknis dan merumuskan pernyataan kebijakan IUCN.

KLIK INI:  Perihal Wacana Penutupan Kawasan Taman Nasional Komodo, Begini Tanggapan KLHK

Secara umum, SSC mempromosikan pengetahuan teknis, saran, dan panduan kebijakan yang dapat mempengaruhi pelaksanaan tindakan konservasi di seluruh dunia.

SSC memanfaatkan jaringan para pakar sukarelawan sedunia untuk membangun landasan ilmiah. Dan secara praktis untuk penyampaian konservasi yang efektif.

Ribuan ahli sukarelawan diorganisakan ke dalam lebih dari 100 Specialist Group (SG), Red List Authority (RLA) dan Taksonomi (TF) yang diatur untuk menanggapi masalah konservasi yang mendesak.

Secara timbal balik, melalui SSC, para anggota memiliki hubungan langsung dengan forum konservasi internasional utama.

Tempat IUCN memainkan peran kunci. Juga kesempatan untuk terhubung dan berkolaborasi dengan rekan kerja yang bekerja pada masalah serupa di seluruh dunia.

KLIK INI:  KLHK Harapkan Ini Terhadap Vonis Pembunuh Harimau Bunting di Riau

Namun kiprah peneliti dan konservasionis dari Indonesia di bidang diplomasi internasional dinilai belum maksimal. Sehingga perlu adanya upaya untuk meningkatkan jaringan kerja di antara para pihak.

Sedangkan menurut Dekan Fakultah Kehutanan IPB, Rinekso Soekmadi menyampaikan, Pertemuan lokakarya peneliti dan konservasionis hidupan liar tahun 2019 ini.

Pertemuan itu diharapkan dapat merekatkan jejaring para peneliti dengan pengambil kebijakan. Sekaligus juga meningkatkan sinergi dengan para pihak terkait dalam menyelesaikan berbagai persoalan konservasi.

KLIK INI:  Permohonan Ganti Rugi 3 Petani Soppeng Ditolak Majelis Hakim