Ketika Burung Gagak Direkrut sebagai Petugas Kebersihan

oleh -101 kali dilihat
Ketika Burung Gagak Dinobatkan sebagai Petugas Kebersihan
Burung gagak-foto/Pixabay
Irhyl R Makkatutu

Klikhijau.com – Setiap subuh, burung gagak peliharaan Asar akan berkicau. Burung itu selalu cepat bangun. Suaranya akan tembus ke rumah, meski ia berada di seberang jalan.

Abdul Rahman, ayah dari Asar tak pernah senang ketika anak lelakinya itu memelihara burung gagak. Namun, beliau hanya bisa mengeluh. Beliau tak tega melepaskan burung gagak peliharaan putra yang telah memberinya dua cucu itu.

Asar membeli burung gagak itu di kampung istrinya, di Talle-talle, Bulukumba. Harganya seratus ribu rupiah.

Warnanya yang hitam pekat terlihat sangar dan mistis. Burung ini, di kampung saya, Kindang, Bulukumba namanya kao’kao’.

KLIK INI:  Hiu yang Masuk ke Sungai Musi Berakhir Jadi Ikan Asin

Tetua kampung—dulu jika mendengar suara kao’kao selalu meyakini akan ada kabar buruk. Karena itulah tak ada yang mau memeliharanya.

Namun, perkembangan zaman membuat aroma mistis banyak memudar—termasuk memelihara burung gagak. Bagi Abdul Rahman, tak ada bagus-bagusnya memelihara burung pemakan bangkai seperti itu. Hanya akan membawa celaka.

Burung gagak, menurutnya jauh lebih baik jika tidak didekatkan ke rumah (dipelihara), biarkan saja hidup liar sebagaimana kodratnya. Lagi pula tak ada gunanya jika dipelihara.

Anggapan itu ada benarnya pula, karena jika dilihat sekilas memang tak memberi manfaat apa-apa. Namun, anggapan itu bisa saja salah, jika merujuk ke sebuah  perusahaan di Swedia,  Corvid Cleaning.

KLIK INI:  Ibu yang Menyusui Bisa Atasi Perubahan Iklim, Benarkah?
Jadi petugas kebersihan

Perusahaan ini, seperti dilansir dari Inhabitat justru merekrut burung gagak  yang akan membantu membersihkan jalan-jalan Södertälje.

Tugas utamanya adalah membersihkan jalanan dari puntung rokok.  Gagak liar yang direkrut jadi “karyawan” kebersihan itu akan dilatih dan diberi hadiah makanan untuk membersihkan kota.

Puntung rokok yang dikumpulkan oleh si gagak akan disimpan di mesin yang dirancang oleh Corvid Cleaning.

Pendiri Corvid Cleaning, Christian Günther-Hanssen beserta dengan  orang yang mempelopori program pembersihan  mengungkapkan jika metode pengumpulan sampah ini dapat mengurangi biaya pembersihan hingga 75 persen.

Menurut Günther-Hanssen,  program tersebut tak akan memaksa burung untuk berpartisipasi. Sebaliknya, burung-burung akan didorong melalui sistem yang memberi mereka makanan untuk setiap puntung rokok yang disimpan.

Sampah puntung rokok di negara Zlatan Ibrahimovic itu, menurut Keep Sweden Tidy Foundation, jumlah sangat tinggi, yakni lebih dari 1 miliar puntung rokok yang tertinggal di jalan -jalan Swedia setiap tahun.

KLIK INI:  Cat Jalanan Jadi Biru, Upaya Unik Qatar Atasi Suhu Panas

Sampah puntung rokok cukup dominan di negara tersebut, sebab mewakili sekitar 62 persen dari semua sampah di jalanan.

Yayasan tersebut menambahkan bahwa Södertälje menghabiskan 20 juta kronor Swedia (sekitar $2,2 juta) untuk membersihkan jalan-jalan.

Dianggap cerdas

Burung gagak, khususnya dianggap memiliki kecerdasan yang tinggi, sehingga menjadi sasaran program tersebut.

Penelitian menunjukkan bahwa burung-burung ini memiliki kemampuan penalaran manusia berusia tujuh tahun dan dapat dilatih untuk melakukan tugas-tugas tertentu.

“Mereka lebih mudah diajar dan ada juga peluang lebih tinggi bagi mereka untuk belajar dari satu sama lain. Pada saat yang sama, ada risiko yang lebih rendah dari mereka yang salah memakan sampah,” kata Günther-Hanssen.

Dia menambahkan juga bahwa perkiraan untuk biaya penjemputan puntung rokok setiap hari sekitar 80 öre [uang Swedia] atau lebih per puntung rokok, ada yang bilang dua kronor.

KLIK INI:  Dengan Nyanyian Unik, Paus Biru Baru Diidentifikasi di Samudra Hindia

Program tersebut cukup menghemat biaya penjemputan puntung rokok. Jika burung gagak memungut puntung rokok, ini mungkin 20 öre per puntung rokok. Penghematan untuk kotamadya tergantung pada berapa banyak puntung rokok yang diambil gagak.

Proyek ini akan dimulai dengan fase percontohan di Södertälje atau Kotamadya Södertälje. Menurut Tomas Thernström, seorang Ahli strategi sampah bahwa akan menarik untuk melihat apakah ini bisa bekerja di lingkungan lain juga.

“Dari sudut pandang yang lain, bahwa kita bisa mengajari burung gagak untuk memungut puntung rokok tapi kita tidak bisa mengajari orang untuk tidak membuangnya ke tanah. Itu pemikiran yang menarik,” katanya.

Jika burung gagak berhasil menjadi “karyawan” kebersihan di suatu perusahaan di Swedia, bukan tidak mungkin negara kita Indonesia akan tertular hal tersebut.

Dan jika itu terjadi, maka kemistisan dan aroma mitos yang menyertai keberadaan burung gagak bisa memudar.

Mungkin akan banyak yang berpikir seperti Asar, memelihara burung gagak untuk kebersihan lingkungan dari serakan puntung rokok.

KLIK INI:  Pemuda akan Hadapi Krisis Iklim Lebih Ekstrem Dibanding Generasi Lebih Tua