Keren, Pasangan Muda Ini Gelorakan Berkebun di Rumah dengan Sistem Organik

Publish by -614 kali dilihat
Penulis: Andi Ayatullah
Keren, Pasangan Muda Ini Gelorakan Berkebun di Rumah dengan Sistem Organik
Pasangan muda inspiratif, petani urban di Kota Makassar, Eben dan Bamba - Foto/AYL

Klikhijau.com – Di musim pandemi, berkebun di rumah adalah satu cara terbaik mengusir kebosanan. Tak hanya itu, berkebun di rumah juga dapat mendekatkan kita dari akses pangan sehat.

Begitulah yang dilakukan pasangan suami istri di Makassar, Alghifahri Jasin (25) yang akrab disapa Eben dan istrinya Feranda Monica (23) dipanggil Bamba.

Di rumahnya di Jalan Perintis Kemerdekaan Km 14 No 149 Makassar, pasangan muda ini melewati hari-harinya dengan menata kebun di halaman rumahnya sembari mengedukasi warga betapa pentingnya menanam.

Untuk mengantisipasi lahan yang sempit, Eben dan Bamba memanfaatkan pot, polybag hingga limbah botol plastik. Keduanya juga menanam dengan sistem organik antara lain memakai pupuk organik dan pestisida organik.

KLIK INI:  Kertas Undangan dari Jerami, Solusi Nikah Ramah Lingkungan

Menurutnya, pupuk guano saat ini banyak dikirim ke Jepang. Kabarnya, banyak petani di Jepang memakai guano karena kualitasnya yang tidak kalah dengan pupuk kimia.

“Beberapa daerah seperti Madura, Lampung dan Bali bahkan sudah mengekspor guano ke Jepang,” katanya.

Dengan semangat menanam ala urban farming, keduanya memperkenalkan sistem organik—sembari menularkan semangat kemandirian pangan.

Bermula dari keisengan

“Kami  berdua tumbuh dari keluarga yang menyenangi tanaman, misalnya dari istriku itu menyukai koleksi tanaman hias. Saya dari kecil yang dibesarkan bersama nenek melihat nenek memelihara tanaman sehingga saya memiliki ketertarikan dengan tanaman,” kata Eben.

Dari pengalaman masing-masing, keduanya pun akhirnya memutuskan memulai mengembangkan kebun di halaman rumahnya. Terlebih, momennya juga tepat karena bertepatan dengan pandemi.

KLIK INI:  PT Mitra Hijau Asia Berdayakan 45 Unit Mobil Pengangkutan Limbah Medis dan B3 Lainnya

“Dari keisengan itu, kami langsung menanam dan melihat prospek tumbuh kembangnya selama sekitar 2 minggu ternyata bagus,” cerita Bamba.

Dari situ, kisah keduanya dimulai. Awalnya, benihnya didapat dari toko pertanian yang ditanam dan sebagian dikemas ulang dalam ukuran kecil kemudian dijual. Namun, lama-lama, pasangan muda ini menjual bibit dari hasil kebunnya sendiri.

Konsepnya menarik yakni penjualan bibit skala kecil. Mereka mempertimbangkan kebutuhan warga yang akan menanam khususnya pemula. Jadi, dengan modal kecil, semua orang sudah bisa mendapat beragam bibit.

Cara ini ternyata berhasil. Peminat bibit jualannya dari waktu ke waktu semakin banyak.

“Peminat benih mulai banyak dan kita tidak menyangka ada yang memesan dari Bali, Kendari, Jeneponto, bulukumba, Palu dan lainnya,” cerita Bamba.

KLIK INI:  10 Perempuan Pejuang Lingkungan Paling Inspiratif Versi Klikhijau

Umumnya pembelinya justru bukan orang-orang yang sudah mahir berkebun. Tetapi mereka yang baru ingin memulai berkebun. “Kebanyakan anak muda usia 20-an, cewek cowok, ada juga ibu-ibu,” katanya Bamba.

Dari bisnis kecil-kecilan ini, keduanya mendapat penghasilan tambahan hinga Rp 2 juta sebulan.

“Sebetulnya kami tidak bermaksud cari duit, tapi keuntungannya tiap bulan ada. Sayuran yang ada di sini untuk konsumsi pribadi, jadi kami juga menanam sayur superfood seperti kale. Kandungan proteinnya sangat baik. Orang diluar negeri suka,” katanya.

Berikut jenis sayuran yang ditanam dan dijual di rumah pasangan ini yang kemudian diberi nama “BamBen Berkebun”: Bayam, sawi dakota, kale Russian red, kale dinosaurs, terong, tomat, cabe, basil, oyong, zucchini, timun, kyuri, oregano, kacang panjang, pakcoy, buncis, kankung, bidara arab, peppermint, lemon dan banyak lagi.

paket jualan Eben berkebun di rumah
Paket jualan bibit Eben dan Bamba yang harganya terjangkau

Menariknya, BamBen Berkebun menawarkan harga terjangkau, mulai dari Rp 15.000 hingga Rp 50.000.

Selain sayuran, mereka juga menanam strawberry. Uniknya, tanaman strawberry yang ditanam bisa beradaptasi dengan kondisi tanah dan cuaca karena perawatannya bagus.

KLIK INI:  6 Fakta Menarik Tentang Dokter Tirta dan Aksi Progresifnya Cegah Corona

Aksinya berkebun di rumah dengan sistem organik akhirnya tercium oleh pegiat tanaman lainnya di Kota Makassar, terutama melalui media sosial.

“Kami mencoba bertukar pengalaman soal tanaman dengan banyak anak muda di berbagai komunitas seperti komunitas ‘Sabtu ngebun’, ‘creative farm’, dan ‘kebun sendiri’” kata Eben.

Selama lima bulan terakhir, pasangan ini benar-benar concern dengan masalah tanaman. Keduanya terus menggelorakan pentingnya memanfaatkan lahan tidur. Mengajak semakin banyak orang menanam secara mandiri di halaman rumah demi akses pangan sehat.

Gelorakan tanam sayur
sayuran kangkung hasil kebun di rumah eben dan bamba
Eben dan Bamba memegang hasil panen kangkung organik yang ditanam sendiri – Foto/AYL

“Mengapa saya memilih untuk bertanam sayur? Sayur itukan pangan utama, sementara saya melihat semakin banyak lahan yang digusur. Kita tidak mungkin hanya mengandalkan demonstrasi di jalan untuk memperjuangkan konflik agraria. Kupikir yang bisa saya lakukan saat ini adalah dengan menanam,” katanya.

Ia mengatakan, banyaknya alih fungsi lahan ke depan dapat memicu terjadinya krisis pangan.

KLIK INI:  Cara Unik Lestarikan Alam dari Ancaman Bahaya Plastik

“Paling tidak, bila kita bercocok tanam sayuran kita bisa mandiri untuk keluarga kita. Kita perlu merdeka dalam pangan. Tidak tergantung produksi massal di luar. Menanam dapat membuat kita hemat dan bisa survive dalam kondisi apapun,” pesan Bamba.

Baginya, setiap orang harus memanfaatkan potensi alam untuk kehidupan. Pesan-pesan ini pula yang sering mereka sampaikan pada pelanggannya.

“Kami juga ingin menghilangkan paradigma tentang petani yang hanya dari golongan bawah. Bangsa Viking mereka itu justru menjelajahi dunia dan menyerang suatu wilayah untuk menguasai sebuah lahan untuk mereka bertani karena saat mereka di musim dingin mereka harus survive,” tutur Eben.

“Maksud saya dari dulu sebenarnya kita ini seorang petani, pekebun, peladang, atau peternak. Kalau misalnya di hari ini kita berlomba lomba ingin menjadi dokter, tentara, polisi, pejabat, lalu siapa yang menjadi petani sama yang mau suplai kau punya pangan?”

KLIK INI:  Qonitah Al Jundiah, Hijabers yang Berkomitmen Lahirkan Karya Ramah Lingkungan
Pesan untuk pegiat tanaman

Pasangan muda ini menjalani hari-harinya dengan bahagia. Mereka menikmati masa-masa menggembirakan saat menanam dan melihat tanamannya tumbuh subur.

Mereka berharap semangat menanam terus digelorakan. Ia berseloroh, Negara sekaliber Selandia Baru saja justru memilih untuk bertani dan menjadikan pertanian sebagai pencaharian utama. Ini satu contoh menarik, katanya.

“Mengapa kita tidak memanfaatkan sumber daya yang ada? Orang Selandia Baru selain bertani juga dapat sekolah tinggi-tinggi. Makanya, mereka sudah sekelas botanis, mereka menghybrid tumbuhan untuk menjadi sesuatu yang baru,” kata Eben.

Keduanya berharap semakin banyak orang mencintai dunia pertanian. “Kalau sudah mulai menyukai bercocok tanam, hubungi kami untuk share pengalaman,” tutup Bamba.

KLIK INI:  Uha, Si Manusia Gorong-Gorong dan Sebuah Pekerjaan Rumah di 2020
Editor: Anis Kurniawan

KLIK Pilihan!