Kencani Rindu

Publish by -20 kali dilihat
Penulis: Irhyl R Makkatutu
Kencani rindu
Ilustrasi/foto-Hipwee

[hijau]Kini salihu’ pindah bermukim di kepala warga[/hijau]

Di selasar rumah panggung itu. Ia duduk menatap butiran hujan yang menderas—menunggunya mereda disusul gerimis. Ia selalu suka gerimis sebab akan membuatnya lebih muda tujuh hingga lima belas tahun dari usianya. Memang sulit dipercaya, tapi kenyataannya begitu.

Di usianya yang keenam puluh tiga tahun lelaki tersebut masih terlihat muda. Ia banyak merenung. Ia percaya meninggal di usia enam puluh tiga tahun adalah sunnah. Seperti pula menikah di usia dua puluh lima tahun adalah sunnah yang dianjurkan junjungannya, sang penutup para nabi, Muhammad Shallahu Alaihi Wassallam.

Ia menyesap kopinya, kopi hitam tanpa gula. Bunyi terdengar nyaring dari bibirnya. Ia memperhatikan hujan yang singgah di daun cengkeh depan rumahnya. Nyaris tak berkedip. Ia tersedak lalu batu-batuk kecil. Dadanya terasa sesak. Hujan kian deras. Ia benci hujan deras apalagi jelang malam. Hujan akan meniadakan kunang-kunang.

“Tangkap kunang-kunang itu, lalu masukkan ke sini.” Sebuah suara mengagetkannya. Ia menoleh. Pandangannya menyapu apa saja yang bisa dilihatnya. Tak ada sesiapa. Suara itu entah datang dari mana. Rasanya tak asing. Ia berpikir sejenak. Disesapnya lagi kopinya.

“Itu suaramu, Sanami,” bisiknya. “Aneh, apakah aku sedang merindukannya?” lanjutnya.

Kepalanya terasa membesar. Ia merinding, sarung ditarik hingga nyaris menutupi seluruh tubuhnya. Bayanganmu membanjir di pelupuknya.
Kamu adalah gadis kecil yang lincah. Mata bulat, rambut ikal, hidungmu tak bisa dibilang pesek, meski terlalu berlebihan jika dikatakan mancung.

Kamu teman kanaknya. Dulu, tiap malam ia dan kamu akan menangkap kunang-kunang lalu memasukkannya ke buli-buli ‘botol kecil’

“Jika kalian besar cocok jadi pasangan suami istri, hehhehehe,” ejekan seperti itu sering terlontar dari bibir ibunya, tapi diabai. Dan kamu jika diejek demikian akan menangis. Lari bersembunyi ke kolong ranjang, menolak makan.

Kamu, gadis pertama yang masuk menggeledah seisi hatinya. Sayang ketika beranjak remaja kamu menghilang. Tak ada yang tahu ke mana. Pada saat itu bosi lahu’lahung ‘hujan yang diiringi sinar matahari’ sedang turun ke kampungnya jelang senja lalu disusul  salihu’kabut’

Bosi lahu’lahung adalah hujan keramat, penuh mitos, dan mistik. Orang-orang meyakini jika sedang bosi lahu’lahung ada orang yaang meninggal, karenanya pula kerap digelari hujan orang mati.

Saat itu kamu yang sedang bermain karet bersamanya tiba-tiba menghilang. Seisi kampung panik dan ketakutan. Anak-anak dilarang keluar rumah.
Menurut tetua kampung ada paalle-alle ulu ‘tukang ambil kepala orang’ untuk tumbal sebuah proyek. Tapi Puang Tammu, seorang sanro ‘tabib, dukun’ terkenal berpendapat lain, bahwa kamu diculik salihu’ dan suatu saat akan dikembalikan.

Namun, setelah kembali kamu akan jadi orang yang tak waras. Salihu’ akan memberimu makanan kayu bussa’ ‘lapuk’. Tapi, hingga kini di usianya yang keenam puluh tiga tahun ucapan puang Tammu tak terbukti.

Lagi pula seingatnya, kabut mulai sangat jarang bertandang ke kampunya sejak pepohonan ditebangi dan gunung digunduli dijadikan lahan pertanian.

Kamu sebuah kisah perulangan

Sejak kejadian itu, cara mengenangmu dengan menangkap kunang-kunang tiap malam. Ia akan memasukkannya ke sebuah buli-buli lalu diletakkan di sisi tempat tidurnya. Gara-gara kebiasaan itu pula, istri pertamanya minta cerai.

Ia menikah lagi, istri keduanya pun tak tahan dengan kebiasaannya. Istri keduanya pergi tanpa pamit membawa serta buah hatinya. Sejak itulah ia memilih hidup sendiri hingga di usianya yang menua sekarang.

Ia percaya, kamu adalah kisahnya yang tak selesai. Kisah yang harus dijalaninya kelak. Kisah yang harus diselesaikan. Kisah yang tak selesai itu telah menjadi momok dalam rumah tangganya. Ia benci kenangan kanaknya bersamamu, Sanami.

Kenangan yang membulat di hatinya dan tak terpecahkan. Dan senja jelang malam saat ini, suara kanakmu bertandang lagi. Ia ketakutan dan gemetaran jika harus bertemu denganmu. Rindu yang bertumpuk jadi penyebabnya.

Malam beringsut cepat, hujan masih menderas. Dihabiskannya kopi yang sedari tadi dibiarkan dingin. Ia beranjak masuk ke rumah mencari buli-buli, karena ingin berburu kunang-kunang dalam hujan. Tubuhnya terasa gigil. Suaramu tadi masih melingkar di pendengarannya.

Kunang-kunang akan sulit ditemukan jika hujan. Hanya tiga atau empat ekor kunang-kunang saja berhasil ditangkapnya sebelum kembali ke rumahnya. Ia kuyup, geligis menyergapnya.

Sejak listrik masuk ke kampungnya makhluk berkelip itu banyak menghilang dari sela-sela pohon cengkih depan rumahnya. Ia harus berjalan jauh agar bisa menemukan kunang-kunang.

Iya, sejak listrik masuk ke kampungnya makhluk kecil itu serasa telah punah.

Kenangannya bersamamu tentang kunang-kunang membuatnya ingin tahu banyak tentang serangga bercahaya itu.
Rasa penasaran itu membuatnya membaca banyak hal tentang kunang-kunang. Rupanya makhluk kecil itu berpotensi dikembangkan jadi obat melawan kanker.

Konon, ada zat kimia yang berada di dalam perutnya yang disebut luciferin bisa menawarkan dokter jendela lain ke dalam otak manusia.
adalah Stephen Miller, seorang ahli biologi kimia di University of Massachusetts Medical School yang juga mempelajari luciferin dan potensinya untuk kesehatan manusia.

Ia kaget ketika membaca ulasan Miller yang ia temukan di sebuah majalah bekas itu. Ia jadi bertanya, apakah kunang-kunang bisa mengobati kerinduannya padamu, Sanami.

Salihu’ mengantarmu pulang

“Sialan.” Umpatnya ketika membuka laci meja di ruang tamu karena tak menemukan fotomu, Sanami. Padahal itu satu-satunya tanda mata darimu.
Masih sangat basah di ingatannya, ketika sedang duduk berdua denganmu di selasar rumahnya menikmati pisang goreng. Ia ingat betul peristiwa itu.
Kamu difoto bersamanya oleh pamanmu yang tinggal di kota.

Berbulan-bulan menunggu foto itu selesai dicetak, hingga suatu hari pamanmu datang membawa foto tersebut. Untuk pertama kalinya kamu dan ia tak menangkap kunang-kunang malam itu karena larut menatapi foto ukuran 3 R di bawah sorotan pelita yang terbuat dari kaleng susu.

“Tangkap kunang-kunang itu lalu masukkan ke sini,” suara itu kembali bertandang. Ia merinding dan lari masuk ke kamarnya mengambil badik warisan orang tuanya.

“Jika berani, tunjukkan dirimu!” Suaranya lantang menantang. Ia mengelilingi rumahnya yang tak terlalu luas.

Suara derit lantai papan menambah suasana kian cekam. Hujan masih menderas, suara kali di depan rumahnya yang meruah menambah nyalinya kian ciut.

Namun, ia percaya badik yang ada di tangannya memiliki kekuatan magis. Ia membaca ayat kursi berkali kali untuk menenangkan hatinya, untuk mengusir ketakutannya sendiri.

Ia membuka jendela rumahnya dengan nekkere ‘gemetaran’. Hembusan angin dingin menerpa tubuh kurusnya. Sepi terasa beringas, hujan menderas gila.

Ia memerhatikan sekeliling rumahnya lewat jendela sambil membaca lagi ayat kursi. Setelah bacaannya selesai, hujan tiba-tiba mereda berganti pekat, sangat pekat. Ia mengambil senter, namun cahaya senter tak mampu menembus pekat.

“Salihu’,” bisiknya kaget. Ia teringat salihu’ tebal seperti inilah yang menculikmu, Sanami ketika masih kanak. Ia menatapi pekat, membayangkanmu terbang dibawa salihu’. Rindunya kepadamu terasa memuncak.

“Di mana kunang-kunang itu, Daeng,” suara itu mengagetkannya. Ia menoleh ke arah tangga. Menajamkan pendengarannya.

Ia merinding, dalam pekat ia mendengar suara langkah kaki seseorang menaiki anak tangga rumahnya. Ia mengumpulkan segala keberaniannya. Ia menghunus badiknya, ia membaca ayat kursi berulang-ulang lalu membuka pintu.

Ketika pintu terkuak, sesosok tubuh perempuan bergaun kabut dikelilingi kunang-kunang berdiri tersenyum di hadapannya.

“Saya Sanami, Daeng, ikutlah bersamaku, kita menjadi salihu’!” ajakmu, Sanami. Ia tak bergerak hanya mematung saja di depan pintu rumahnya.

Salihu’ menari di pagi hari

Keesokan harinya, warga geger karena di puncak gunung yang telah gundul salihu’ menari-nari serupa orang sedang bercinta. Sementara pintu rumah Puang Kamang yang telah berusia 63 tahun, namun akan lebih muda tujuh hingga lima belas tahun jika sedang gerimis telah terbuka.

Hal tersebut nyaris tak pernah terjadi. Pintu rumah Puang Kamang hanya akan terbuka jelang malam. Warga yang berkumpul di depan rumah Puang Kamang hanya menerka-nerka apa yang terjadi, namun tak seorang pun berani menaiki tangga untuk memastikan keadaan sebenarnya. Warga lebih suka beropini sendiri.

Sejak kejadian itu, salihu’ tak pernah lagi bertandang ke kampung itu hingga kini. Kunang-kunang pun menghilang seiring menghilangnya pepohonan. Namun, jika kelak kamu berkunjung ke kampung itu, kamu bisa saksikan salihu’ bermukim di kepala warga. ###

Editor: Irhyl R Makkatutu

KLIK Pilihan!