Kecupan di Kota Sunyi

Publish by -218 kali dilihat
Penulis: I.R Makkatutu
Kecupan di Kota Sunyi
Ilustrasi/foto-wallpaperflare.com

Rindu itu Anak Kecil

 

rindu itu berjalan sendiri
pada jalan setapak
lalu tiba di pinggir sungai kecil
dengan basah kuyup

hujan berhenti dua puluh sembilan menit lalu sebelum rindu berjalan
rabaslah menguyupkannya lalu mencari pelukan

di pinggir sungai kecil tanpa limbah plastik itu
ada bekas kaki lain menuju rumpun bambu
rindu bergegas, gigil ejai seluruh porinya

daun-daun terseret air
reranting tertambat di bebatuan
dedaunan berkumpul
di mana kepiting sungai sembunyikan telurnya

KLIK INI:  Sampah dan Mahasiswa

pohon-pohon merindang di sepanjang jalan
cericit beburung memandu langkah
di bawahnya tumbuh bunga basah
yang hilang di kemarau, memesona di musim basah

bunga basah tumbuh liar
di sepanjang jalan, di pinggir sungai kecil
di mana rindu tiba serupa anak kecil
berlari riang mengejar kupu-kupu
berharap pelukan, ikuti jejak kaki

musim basah selalu saja penuh aroma bunga
dan hijau segar memanja di mata

dan jika ingin bertemu rindu
bertemu hijau
berjumpa bunga basah
datanglah saat hujan belum di rampas kemarau

kau akan temukan dua bekas kaki di pinggir sungai kecil itu
berair jernih dari akar pohon di hutan jauh
dan sebuah pelukan merentang di tengah gigilmu sedang menanti malu-malu

kau akan tahu, rindu seperti anak kecil
berlari riang memetik bunga basah
mengejar kupu-kupu dan capung
kau akan tahu, alam siapkan segala yang dibutuhkan hidup

berjalanlah terus, ikuti jalan setapak
kau akan tiba di pinggir sungai kecil
berair jernih, bercerminlah ke dalam air
kau akan temukan wajahmu berubah wajah rindu
akan cericit burung, rimbunan pohon
kupu-kupu, capung dan kesunyian

dan kau tetiba saja ingin jadi anak kecil yang riang

Kindang, 17 April 2020
KLIK INI:  Bukit Pattowengang

 

Angin Mencuri Kabar

 

segelas air putih hangat kuletakkan di atas meja
gelas itu bergambar bunga basah
kemarin ketika aku berjalan mencari adamu
bunga basah sedang mekar di sepanjang jalan

setelah memeram diri di kemarau, bunga basah tumbuh liar memesona
serupa rindu yang tumbuh dari jarak kita yang bentang ini

lenganku masih terasa hangat ditindisi kepalamu
dan bajuku masih menyimpan bau parfummu
ketika, entah bagaimana kau menghambur ke pelukku

kau jiwa yang tumbuh pada jiwaku
dan aku daun-daun yang tumbuh pada rantingmu

“aku ingin jadi pohon mangga, bisa kau panjati ketika buahnya mengkal” katamu
“aku akan jadi akar, menguatkanmu,” balasku

kau mencubit lenganku, aku mengelus pipimu

hujan pertama turun setelah kemarau panjang mengeringkan kali-kali

aku menyesap air putih dalam gelas bergambar bunga basah
membayangkan kamu penuh segala

aku menatap ke halaman lewat jendela kaca
angin serasa semakin asing saja

rumah-rumah tak lagi bisa dibuka jendelanya
kaca menyanggahnya
angin tak leluasa lagi masuk rumah mencuri kabar

pengap, semakin panas saja
tapi air di atas meja telah dingin

Kindang, 19 April 2020
KLIK INI:  Aku Ingin Menjengukmu Lagi Nanti Tanpa Ada yang Tersakiti dari Bumi

 

Kecupan di Kota Sunyi

 

kota-kota telah sangat sunyi ketika kecupan tiba di keningmu
itu pertemuan pertama kita yang sesak
setelahnya aku jadi kemarau dan kau musim basah

tapi ingatan adalah angin, tak mungkin lupa berembus
mencuri segala sempat
muncul di ventilasi paling kecil di pori

kota kini telah mati
tepat ketika kau pergi
dan aku berubah jalan-jalan sunyi menuju toko roti.

langit lebih biru setelah tak ada orang bermacet-macet di jalan menuju kantor
atau orang-orang yang pulang dari warkop
setelah menonton liga inggris

kota-kota kini berubah jadi tempat bermain para kucing, rusa, kambing hutan, dan anjing
manusia hanya mengintip di jendela kaca rumahnya

aku telah suka menjadi kemarau ketika kecupan pertama itu, pada kota yang sunyi

Kindang, 19 Makassar 2020

 

Jarak-Jarak Corona

 

dari tempat jauh di matamu
ia tiba mengitarimu tiba-tiba
tolehmu ke mana pun, ia datang
tak terlihat, mencemaskan

ia datang dan langit berubah biru
hewan-hewan kuasai kota
daun-daun lepas rindu pada tanah hingga lapuk
tanpa sapuan sapu

ia datang, tak terlihat
kepungi semua orang
mencipta jarak
tapi tak ada jarak dengannya

jarak hanya dicipta untuk para kekasih dan kamu yang kian jauh
kota-kota senyap
bising pindah ke dalam dada jadi degup

polusi udara menghilang jauh
orang-orang menyukai rumah

pada jarak
napas disandarkan lebih panjang

dan jarak
membuat negatif corona
tapi
positif rindu

corona
datang
entah perginya kapan

rindu tiba
entah perginya kapan

Kindang, 18 April 2020

 

Murang

 

seekor babi hutan masuk kampung
orang-orang ribut memanggil anjingnya
menyiapkan tombak

hari minggu dan rabu
orang-orang berbondong-bondong ke hutan-hutan
berteriak lantang mencari babi hutan

murang….

Kindang, 17 April 2020

I.R Makkatutu, lahir di Desa Kindang sekian tahun lalu. Telah jatuh cinta pada sastra sejak lama. Kini sedang menjalani kehidupan di kampungnya yang hijau segar dan sejuk

KLIK INI:  Pada Banyak Hal, Aku Ingin

 

Editor: Idris Makkatutu

KLIK Pilihan!