Kecemasan di Negeri tanpa Narasi Sadar Lingkungan

oleh -197 kali dilihat
Kecemasan di Negeri tanpa Narasi Sadar Lingkungan Banjir
Banjir Makassar/Foto-Akmal
Anis Kurniawan

Klikhijau.com – Daeng Kulle (27) kalang kabut di suatu pagi sekitar pukul 07.00, Selasa 22 Januari 2019 saat langit berkabut. Tak sampai lima menit, setiba di tempat kerjanya di bilangan Batua Raya Makassar, Kulle berbalik arah ke rumahnya di Barombong, Gowa.

Hujan deras dan angin kencang membuatnya cemas tak biasa. Istrinya menelepon dan berkabar bahwa air mulai pasang di sungai Jeneberang.

Jembatan kembar mulai bergoyang dan air mulai melahap perumahan di sekitaran sungai. Istrinya ketakutan!

Kulle, tiba di rumahnya dengan keletihan tidak terkira. Jalan yang dilewatinya macet total. Terutama di jembatan kembar, ia melihat kendaraan berderet mepet tanpa ruang antara.

Tetapi, tekadnya bulat, ia menerobos hujan deras dan kemacetan demi menepis kecemasan istrinya.

KLIK INI:  Selain Mantan, Polusi Udara Juga Bisa Merampas Kebahagian

Saat tiba di rumahnya, pasangan pengantin baru itu jatuh dalam pelukan. Mereka bahagia bisa berada di rumah saat cuaca buruk dan ancaman banjir, mengerikan. Tetapi, suasana hati Kulle dan istrinya tetap tak karuan.

Keduanya mendengar kabar betapa korban banjir terus berjatuhan di Gowa, Makassar dan Maros. Kulle terbayang, apa jadinya bila hujan tak berhenti dalam beberapa hari ke depan.

Banjir dan macet tak terbendung

Keesokan harinya, saat Kulle terbangun di subuh yang gigil, langit tampak semakin menghitam pekat. Hujan seperti runtuh dari langit.

Kulle memilih tidak masuk bekerja untuk kali kedua. Hatinya gundah, ia menelepon bos di tempatnya bekerja dan mengabarkan kondisinya. Ia mendekam di rumahnya yang mulai dimasuki air setinggi mata kaki.

Daeng Kulle hanyalah satu dari begitu banyak orang yang tak menduga bencana.

Di sosial media, sejumlah netizen mengeluh karena macet total di jalan poros Kabupaten Maros. Mengerikan, macet hingga 20 jam. Banyak warga terpaksa menginap di jalanan.

Sementara di jalan Perintis Kemerdekaan, di depan kampus STIMIK Dipanegara, air meluber ke jalan. Kemacetan tiada terbendung di sore hari yang bertepatan dengan jam pulang kantor.

KLIK INI:  Kepungan Bencana di Sulsel, Sebuah Penanda Indonesia Sedang Sakit Parah

Kejadian serupa terjadi di Jalan Pettarani yang sedang dalam pengerjaan jalan layang, Jalan Urip Sumaharjo, dan beberapa pemukiman warga di Kecamatan Manggala. Tidak terhitung berapa atap rumah warga di Makassar beterbangan.

Sebagai kota dengan kepadatan penduduk cukup tinggi, warga Makassar sesungguhnya selalu waspada banjir tiap tahunnya.

Bahkan, di beberapa titik, selalu tak kuasa menjadi bulan-bulanan banjir walau hanya hujan sesaat dengan intensitas sedang.

Kota ini seperti tak kuat menanggung beban pembangunan fisik, seperti perkantoran dan perumahan yang sesak tak beraturan.

Sementara pada sisi lainnya, masyarakat kita belum sepenuhnya terdidik untuk berperilaku ramah lingkungan.

Klikhijau.com, memantau beberapa titik di ruang kota, masih ada sampah bertumpuk menyesakkan. Sungai dan kanal yang mengitar di tengah kota umumnya jorok. Disesaki sampah plastik dan menjadi muara pembuangan limbah rumah tangga.

Kita belum sepenuhnya sadar lingkungan

Ini situasi krusial bagi keberlanjutan pembangunan kota. Pertama, penataan kota dan pembangunan fisik yang sudah telanjur tidak tertata sebaik mungkin. Sehingga, ruang terbuka hijau dan resapan air nyaris tiada lagi.

Kedua, perilaku masyarakat yang melihat lingkungan sebagai urusan pihak tertentu (pemerintah misalnya). Masyarakat belum sepenuhnya melihat isu lingkungan sebagai persoalan yang harus ditangani bersama.

KLIK INI:  Seringnya Bencana Terjadi di Indonesia Akibat Perubahan Iklim

Kita belum sepenuhnya menjadikan isu sadar lingkungan sebagai sebuah narasi besar. Selama ini, semua pihak baru bicara soal kepentingan lingkungan saat bencana telah menerjang.

Oleh sebab itu, ruang edukasi dan diskursus wacana mengenai pentingnya sadar lingkungan harus dibangun.

Pemerintah dan stakeholder terkait juga berperan, misalnya dalam hal mendistribusi pengetahuan baik melalui hasil kajian maupun studi lapangan.

Sebab, masyarakat yang cerdas dan sadar lingkungan akan mengambil peran sebagai pengawas kelestarian lingkungan.

Kisah tentang Daeng Kulle di awal tulisan ini hanyalah contoh betapa masalah banjir telah mengganggu kemaslahatan masyarakat.

Atau kisah tragis Nurjannah, seorang nenek yang wafat setelah menyelamatkan cucunya dari terjangan banjir. Cukuplah itu semua jadi pelajaran.

Mari berbenah. Jangan lagi ada banjir di antara kita!

KLIK INI:  Menghitung Potensi Nilai Ekonomi Karbon yang Bisa Diperoleh Indonesia