Karena Manusia, Populasi Satwa Liar Terjun Bebas Menuju Kepuhanan

Publish by -47 kali dilihat
Penulis: Redaksi
satwa liar monyet dare
Monyet dare - Foto/BBKSDA Sulsel

Klikhijau.com – Di tangan manusia, dunia satwa liar mengalami kesuraman.  Populasinya menurun rata-rata  68  persen. Itu terjadi hanya dalam waktu relatif singkat, 40 tahun.

Kesuraman itu dipengaruhi oleh penggundulan hutan, pertanian yang tidak berkelanjutan dan perdagangan satwa liar ilegal sangat berdampak pada kehidupan mereka.

Dan semua penyebab itu dilakukan oleh satu makhluk yang bernama manusia. Iya, kamu tak salah baca, yang menyebabkan ancaman kepunahan satwa liar adalah kita—manusia.

Meski para pakar mengatakan, keberadaan spesies pendatang dan perubahan habitat padang rumput, sabana, hutan, dan lahan basah sebagai akibat perubahan iklim juga merupakan komponen kunci.

KLIK INI:  Pendaki Gunung Everest Mulai Dilarang Bawa Plastik Sekali Pakai

Namun, penyebab utama perubahan iklim juga berada pada manusia. Jadi, jika kita sederhanakan, manusialah biang keroknya.

“Deforestasi, dan dalam arti yang lebih luas hilangnya habitat, yang didorong oleh cara kita memproduksi dan mengonsumsi pangan, jadi  penyebab utama penurunan yang drastis ini,” kata Fran Price, pemimpin praktik hutan global di WWF International.

Data populasi satwa liar yang menurun itu dilaporkan oleh  WWF Living Planet Report. Hasil tersebut memberikan gambaran betapa mengkhawatirkannya dunia satwa liar.

Keadaan mereka bisa saja  terus memburuk jika membicarakan kondisi satwa liar di planet kita. Laporan pada 2018 misalnya, mengungkapkan bahwa populasi global dari spesies vertebrata telah menurun 60% antara 1970 hingga 2014.

Marco Lambertini, Direktur Jendral WWF International berpendapat bahwa manusia tidak dapat mengabaikan bukti tersebut.  Namun, penurunan populasi satwa liar menjadi indikator bahwa alam sedang terganggu dan memberikan peringatan kepada kita mengenai kegagalan sistem.

KLIK INI:  Mencemaskan, Kebakaran Hutan Bolivia Memanggang Jutaan Satwa?
Juga berdampak pada manusia

Akibat kerusakan lingkungan, misalnya penggundulan hutan tidak hanya berdampak bahaya pada populasi satwa, namun juga manusia—sang biang kerok..

Kenapa bisa demikian, tim ilmuwan mengatakan kerusakan lingkungan yang cepat berperan penting dalam penyebaran zoonosis, penyakit-penyakit yang ditularkan dari hewan ke manusia, seperti Covid-19 yang saat ini masih terus meneror dengan kematian.

Ancaman tangan jahil manusia yang tak pernah puas itu, menyebabkans salah satu populasi sangat terpukul, yakni  gorila dataran rendah timur.

Jumlahnya di Taman Nasional Kahuzi-Biega di Republik Demokratik Kongo telah menurun sekitar 87% antara tahun 1994 dan 2015.

Penurunan populasinya disebabkan oleh sebagian  besar  perburuan ilegal. Tidak hanya gorilla, burung beo abu-abu Afrika di barat daya Ghana juga mengalami nasib serupa.

Jumlah mereka bahkan berkurang hingga 99% antara 1992 dan 2014 akibat perdagangan liar dan hilangnya habitat.

KLIK INI:  Selamat Datang Kembali Menteri Siti, Ini Prestasinya Selama Menjabat!

Wilayah yang menghadapi imbas besar penurunan populasi satwa liar adalah  Amerika Latin dan Karibia. Penurunan populasi satwa liar di wilayah tersebut rata-rata 94 persen.

Pemimpin praktik hutan global di WWF International, Fran Price percaya produksi komersial skala besar minyak sawit, kedelai dan daging sapi di daerah itu turut menyebabkan penurunan itu.

Bagaimana cara WWF Living Planet menemukan data itu, WWF Living Planet Report 2020 bekerja sama dengan lebih dari 125 ahli dari seluruh dunia dan bergantung pada Living Planet Index, catatan mengenai 21 ribu populasi dari 4.000 spesies vertebrata dari tahun 1970 hingga 2016 yang dikumpulkan Zoological Society of London.

Adakah cara  melindungi keanekaragaman hayati ke depan, khususnya satwa liar? Para pakar lingkungan member solusi, yakni  melestarikan hutan dan memulihkan kerusakan mengurangi risiko banjir, membantu membatasi pemanasan global dengan menyimpan lebih banyak karbon dan melindungi keanekaragaman hayati.

Hanya saja tantangan untuk melestarikan hutan cukup berat. Menurut data   Global Forest Watch hingga 2019 lalu hutan di seluruh dunia, menunjukkan hutan tropis berkurang dengan kecepatan 12 juta hektar per tahun  akibat deforestasi. Sementara hutan ada rumah bagi keanekaragaman hayati.

KLIK INI:  Konservasi Sudah Jadi Bagian Perhatian Publik, Benarkah?
Editor: Idris Makkatutu

KLIK Pilihan!