Kala Gunung Es Besar Retak di Antartika

oleh -48 kali dilihat
Kala Gunung Es Besar Retak di Antartika
Kala Gunung Es Besar Retak di Antartika - Foto/bas.ac.uk
Azwar Radhif

Klikhijau.com – Sebuah rekaman video yang diambil menggunakan drone memperlihatkan retakan lapisan es terbesar yang terjadi di Benua Antartika. Dalam rekaman video di situs nbcnews.com yang diunggah pada 26 Februari lalu, terlihat garis pemisah retakan di rak es Brunt yang luasnya mencapai 1270 km².

Fenomena retakan rak es Brunt telah diamati langsung oleh British Antarctic Survey (BSA), lembaga penelitian antartika yang berasal dari Inggris. Selama 10 tahun terakhir, BSA memberi perhatian pada retakan rak es Brunt ini yang kemudian mencapai puncaknya pada Januari lalu.

Rak es Brunt memiliki tebal 150 meter dengan panjang 490 mil persegi. Pemisahan Rak Es Brunt mengawali pembentukan gunung es baru di sekitar wilayah antartica.

Profesor Dame Jane Francis, Direktur BAS mengatakan “Selama beberapa minggu atau bulan mendatang, gunung es mungkin akan menjauh; atau bisa kandas dan tetap dekat dengan Rak Es Brunt,” tuturnya dalam rilis media BAS.

Dalam rilisnya, BAS menjelaskan selama Januari aktivitas pemisahan gunung berlangsung dengan kecepatan hingga 1 km perharinya. Lapisan es Brunt mengalir dengan kecepatan 2 km pertahunnya ke arah barat menuju laut lepas.

KLIK INI:  Betapa Repotnya Beradaptasi dengan Toilet Amerika

Lapisan es Brunt merupakan lokasi stasiun Halley VI berada, salah satu pusat pengamatan cuaca atmosfer dan ruang angkasa di zona sensitif iklim dalam kawasan ini. Pada 2016 lalu, BAS mengantisipasi dampak pemisahan gunung es ini dengan memindahkan markas mereka menuju wilayah pedalaman Antartika.

Hadirnya pusat pengamatan di tempat ini menjadi penting untuk mengamati perubahan lapisan es, sekaligus memberi penekanan kepada pemerintah Inggris akan dampak perubahan iklim.

“Pemantauan cuaca luar angkasa yang dilakukan di Halley berkontribusi pada Kelompok Ahli Dampak Lingkungan Luar Angkasa yang memberikan nasihat kepada Pemerintah Inggris tentang dampak cuaca luar angkasa pada infrastruktur dan bisnis Inggris,” sambung Direktur BAS.

Meski begitu, BAS menganggap peristiwa retakan rak es Brunt berlangsung secara alamiah. BAS belum menemukan adanya keterkaitan peristiwa retakan dengan fenomena perubahan iklim atau peningkatan suhu bumi selama beberapa waktu terakhir yang kian mengkhawatirkan.

KLIK INI:  Perusahaan Ini Ubah Tinja Manusia Jadi Bahan Bakar Ramah Lingkungan