Kabar Baik, Ditemukan Spesies Kopi Liar yang Tahan dari Perubahan Iklim

oleh -22 kali dilihat
Kabar Baik, Ditemukan Spesies Kopi Liar yang Tahan dari Perubahan Iklim
Varian Kopi Stenophylla (Coffea Stenophylla) yang Kembali Ditemukan di Sierra Leone, Afrika Barat, Tahan Panas dan DIsebut Masa Depan Kopi yang Tahan Perubahan Iklim. Foto : E. Couturon/IRD/Reuters

Klikhijau.com – Bagi peminum kopi, mendengar kabar bahwa kopi suatu saat akan punah akibat kena dampak perubahan iklim, tentu menyedihkan. Kata seorang peminum kopi, “apa jadinya hari-hari tanpa menyeruput kopi”.

Yah, kopi memang dikhawatirkan terlindas akibat perubahan iklim. Namun, Anda tidak perlu cemas berlebihan, sebab belum lama ini ditemukan suatu spesies kopi liar yang lebih tahan dari perubahan iklim.

Tepatnya di dalam hutan di Sierra Leon, Afrika Barat. Para peneliti menemukan spesies kopi liar yang memiliki daya tahan kuat terhadap panas. Eksistensi spesies tanaman kopi ini kabarnya tak pernah terlacak selama beberapa dekade sebelumnya.

Ini tentu satu kabar gembira, sebab dengan adanya spesies ini, para ahli dan tentu juga penikmat kopi bakal lebih optimis akan komoditas andalan ini. Spesies kopi ini bakal membuat kita tetap meminum kopi, meski ancaman perubahan iklim di depan mata.

Para ahli juga berharap komoditas kopi lebih terjaga dan dan terjamin ketersediannya di masa-masa mendatang.

Dilansir dari laman Intelligentliving, kopi yang bernama latin Coffea stenophylla punya daya tahan pada suhu tinggi dibandingkan jenis Robusta, yang hingga saat ini memenuhi 43% kebutuhan produksi kopi global, sementara 56% sisanya adalah kopi Arabica.

KLIK INI:  Gakkum KLHK Tangkap Penjual Kulit dan Tulang Harimau Sumatera

Aaron Davis, seorang ahli botani dan juga kepala peneliti kopi di Royal Botanic Garden, Kew, Inggris, mengungkapkan, pada awal abad 20, Stenophylla sesungguhnya telah dikembangkan di perkebunan Afrika Barat dan diekspor ke Eropa, sebelum akhirnya ditinggalkan karena popularitasnya kalah oleh Robusta.

Perbandingan 3 Varian Kopi

Mari kita coba bandingkan dengan varian kopi yang ada untuk melihat perbedaannya.

Stenophylla memiliki buah yang berwarna hitam. Dedangkan Robusta dan Arabica, buahnya berwarna cerah yakni merah dan kuning.

Dari sisi harganya di pasaran, Arabica adalah kasta tertinggi dibanding Robusta dan cita rasanya pun dinilai lebih kuat. Robusta umumnya dipakai untuk campuran kopi dan bahan kopi instan.

Namun, meski Arabica adalah kopi mahal dan enak, daya tahannya sangat rendah dan amat sensitif oleh kenaikan suhu akibat dampak perubahan iklim.

KLIK INI:  Tentang Negara G7 dan Cara Mengakhiri Penggunaan Energi Fosil

Itulah sebabnya, produksi global varian kopi ini diperkirakan anjlok hingga 50% pada 2050 mendatang.

Pertanda buruk akibat perubahan iklim sudah mulai dirasakan petani kopi di dunia saat ini.

Kebal suhu tinggi dan cita rasa khas

Coffea stenophylla dapat tumbuh pada rerata suhu tahunan 6,8°C lebih tinggi daripada kopi Arabica, dan lebih tinggi 1,9°C sampai 24,9°C dari kopi Robusta.

Daya tahan spesies ini bagi Aaron Davis tentu dapat menyelamatkan masa depan industri kopi di tengah kenaikan suhu bumi.

Hal ini penting dan sangat berarti, kata Davis, mengingat industri kopi menopang ekonomi dari kehidupan ekonomi sekira 100 juta petani di seluruh dunia.

KLIK INI:  Kabar Baik, Tabung Pasta Gigi Ramah Lingkungan Mulai Dipasarkan

“Idenya adalah Stenophylla dapat ditanam tanpa upaya domestikasi yang rumit. Sebuah varian kopi yang amat bernilai bagi para petani di wilayah bersuhu hangat,” jelas Davis.

Studi ini juga melibatkan 18 ahli tester kopi. Hasilnya menunjukkan, cita rasa Stenophylla amat kompleks, dengan aroma superior yang tak kalah dengan Arabica.

Kadar asam medium tinggi, rasa manis alami, ada selipan aroma buah yang kaya.

“Kami sangat optimis jika Stenophylla adalah masa depan kopi,” komentar Jeremy Torz, salah satu ahli tester kopi dalam studi tersebut.

Stenophylla ditemukan oleh Davis bersama dua koleganya, Jeremy Haggar dan ahli tanaman kopi, Daniel Sarmu pada Desember 2018 di wilayah hutan, sekitar 140 kilometer tenggara Sierra Leone.

Lokasi sekelilingnya berupa hutan tebal dan rimbun, namun Stenophylla berlokasi di kawasan yang lebih kering, terbuka, yaitu di pegunungan, lereng pegunungan, dan daerah bebatuan.

Stenophylla awalnya tak pernah ditemukan sejak 1954 di Sierra Leone dan Pantai Gading pada 1980an.

Meski sangat potensial, Davis sangat mencemaskan keberadaan Stenophylla yang terancam oleh upaya deforestasi yang meluas di Pantai Gadiung, Guinea, dan Sierra Leone.

Ah, semoga Stenophylla dapat terjaga dan terawat di hutan agar kita dapat terus menyeruput kopi sembari terus bergerak mengatasi dampak perubahan iklim.

KLIK INI:  Film Semesta Tayang di Makassar, Balai Perubahan Iklim KLHK Nobar di Nipah Mall