Jarolli Tak Lagi Terbang Menuju Gunung Bawakareang

Publish by -104 kali dilihat
Penulis: Idris Makkatutu
Jarolli Tak Lagi Terbang Menuju Gunung Bawakareang
Jarolli atau perkici pelang mulai langkah di Bulukumba/foto-ist

Jarolli telah "berhenti" terbang menuju gunung Bawakaraeng, ia menghilang di tangan manusia

Klikhijau.com – Berada di jalan pada jelang malam. Jadi waktu yang riuh oleh suara burung jarolli yang lebih dikenal dengan nama burung perkici pelangi.

Pada pagi hari, juga akan demikian. Jarolli akan terbang meneluri jalan menuju ke timur dan jelang malam akan terbang kembali menuju barat, ke arah Gunung Bawakaraeng.

Itu, jika kamu datang sekitar tujuh atau sepuluh tahun lalu. Sebab jika kamu datang sekarang ke Kindang, tepatnya di Desa Kindang. Kicau perkici pelangi akan sulit kau dengar.

Jika orang dulu hanya mengambil anak jarolli saja, agar bisa dilatih berbicara, maka beberapa tahun terakhir orang menangkap induknya juga menggunakan jala.

KLIK INI:  Manggala Agni Dikirim ke Aceh Demi Atasi Kebakaran Hutan

Cara mereka “menghabisi” perkici pelangi adalah memasang jala di jalan yang akan ditempuh pulang pergi. Hal lainnya adalah, semakin banyak senjata angin, atau yang biasa dipakai masyarakat menembak burung menghuni rumah warga.

Dan sepertinya bukan hanya perkici pelangi yang mulai nyaris hilang, tapi banyak jenis burung lain. Namun, kasus perkici merah terasa miris sebab ditangkap dengan cara “brutal” menggunakan jala. Pelakunya menurut orang-orang di desa Kindang adalah penduduk dari luar desa.

Warga tak bisa protes lebih keras, mereka hanya bisa menyayangkan jarolli yang perlahan mulai langka, bahkan saat pohon-pohon tempatnya biasa bertengger mencari makan berbunga, kicaunya terasa senyap. Tak lagi seriuh dulu.

Ketika pulang kampung, saya kerap merindukan kicaunya di belakang rumah. Juga merindukan suara kepakan sayapnya yang riuh ketika sore hari. Ketika kawanan burung itu kembali terbang menuju barat, menuju Bawakaraeng.

Hal-hal lain tentang jarolli

Perihaljarolli atau perkici pelangi, Mas Yadi menulis di jalaksuren memuat seperti berikut:

KLIK INI:  Tangani Buaya, BBKSDA dan Pemerintah Desa Supul Sepakati 4 Pon Ini!

Burung perkici pelangi adalah burung yang ciri ciri nya memang indah sekali. Dan daerah persebarannya juga hanya terbatas di wilayah Indonesia serta Australia saja.

Burung ii di Indonesia tersebar sebagian besarnya di wilayah timur dan ada juga di arah barat mulai dari Jawa, Bali, Sulawesi, Maluku, Papua, Nusa Tenggara. Burung perkici pelangi ini juga banyak menyebar di bagian timur Indonesia, dan ada yang memanggilnya dengan Kwiesier dan Pirihu.

Adapun ciri-ciri burung perkici pelangi ini memiliki ukuran tubuh yang lumayan besar dengan panjang hingga mencapai 30 cm. Pada warna bulunya juga memiliki corak yang terdiri atas lima jenis warna. Antara lain yaitu biru tua, merah, hitam, hijau tua, serta warna kuning.

Warna biru tua juga terlihat menutupi bagian mahkota kepala serta area kedua pipinya. Sedangkan untuk warna merah terlihat di bagian paruh, punggung yang seperti garis tipis, dada, serta pada bagian pangkal perutnya.

KLIK INI:  SIMOLEK, Inovasi BBKSDA Sulsel Monitoring Tumbuhan dan Satwa Liar

Lalu untuk warna hitam juga tampak di bagian bawah kepala, tenggorokan, dada yang seperti garis-garis, serta bagian perutnya. Warna hijau juga bisa dilihat menutupi area tengkuk, punggung, sayap, ekor, sampai bagian perutnya.

Kemudian untuk warna kuning ada di bagian bawah kepala dekat tengkuk serta di sekitaran bawah perut dan juga di dekat kakinya. Di bagian kepala ada yang seperti duri kecil dan paruh bengkoknya tampak panjang dan besar.

Untuk bagian matanya juga berwarna hitam yang mana iris berwarna merah dan berukuran tidak terlalu besar yang berbentuk bulat. Bagian sayapnya agak besar dan panjang hingga ujungnya menyentuh pangkal ekornya. Kakinya berukuran agak panjang dan berwarna hitam kecokelatan dan kukunya tampak sedang.

Perburuan satwa liar terus saja bergerak dengan pasti, jarolli telah jadi korbannya di Desa Kindang, Bulukumba.

KLIK INI:  Pulang, Bento dan Iskandar Kembali ke Tempat Asalnya di Kalimantan

Editor: Idris Makkatutu

KLIK Pilihan!