Jadi Cover Depan Vogue, Greta Thunberg Kritik ‘Greenwashing’ Industri Fesyen

oleh -118 kali dilihat
Jadi Cover Depan Vogue, Greta Thunberg Kritik Greenwashing Industri Fesyen
Greta Thunberg - Foto/ Youtube

Klikhijau.com – Laporan iklim terbaru Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) setebal 42 halaman dan dikenal dengan nama Ringkasan untuk Pembuat Kebijakan memberikan peringatan tajam; beberapa bencana iklim tak dapat terelakkan, dan itu datang lebih cepat dari yang kita kira.

Namun, laporan yang dirilis pada senin, 9 Agustus 2021 ini mengeluarkan pesan ‘harapan’ bahwa masih ada waktu untuk mencegah laju krisis iklim, jika kita mengambil tindakan sekarang.

Hal ini senada dengan apa yang dikatakan Greta Thunberg, aktivis lingkungan berusia 18 tahun, dan yang kali pertama menjadi bintang sampul Vogue Scandinavia Minggu, 8 Agustus 2021. Ia juga menyerukan persoalan krisis iklim dan merespons laporan IPCC teranyar di media sosial

“Terserah kita berani dan mengambil keputusan berdasarkan bukti ilmiah yang tergambar jelas dalam laporan ini,” tutur Greta.

“Kita masih bisa menghindari risiko terburuk, tetapi itu tidak akan bisa tercapai jika kita terus seperti ini, tak menganggap krisis ini sebagai krisis,” lanjutnya.

Greta Thunberg terus membunyikan alarm krisis yang kian hari kian darurat ini di pelbagai platform yang memungkinkan, termasuknya Vogue, di mana Greta membahas bagaimana mode fesyen berkontribusi terhadap lingkungan dan krisis iklim.

KLIK INI:  Empat Bank di Indonesia Abaikan Komitmen Atasi Krisis Iklim

“Industri fesyen merupakan penyumbang besar bagi keadaan darurat iklim dan ekologi. Belum lagi dampaknya terhadap pekerja dan komunitas di dunia yang tak terhitung banyaknya telah dieksploitasi untuk memenuhi kebutuhan beberapa orang yang menikmati fast fashion yang oleh mereka dianggap sebagai barang sekali pakai,” ungkap Greta.

Greta juga mengkritik tentang daya tarik greenwashing. Greenwashing merupakan sebentuk strategi marketing perusahaan yang berusaha tampil bertanggung jawab secara socsal sambil mempertahankan kebijakan lingkungan yang (senyatanya) di belakang layar berbahaya.

Greta menunjukkan fenomena trend dari industri fesyen yang mengklaim perusahaannya sebagai merek yang sustainable atau berkelanjutan. Namun faktanya produksi pakaian massal terus memiliki dampak ekologis yang buruk.

Semisal penggunaan air yang berlebihan, serat mikroplastik yang menjadi limbah dan bisa merusak ekosistem, dan berakhirnya pakaian di tempat pembuangan sampah.

Kenyataan yang lain, banyak industri mode yang mengandalkan tenaga sweatshop, melanggengkan dinamika tenaga pekerja yang ekspoitatif, sambil menggaungkan klaim “ramah lingkungan” untuk menutupi ‘boroknya’.

Jadi Cover Depan Vogue - Foto/Ig Greta
Jadi Cover Depan Vogue – Foto/Ig Greta
KLIK INI:  Saatnya Agama Mengambil Peran Besar Mengendalikan Perubahan Iklim

Perusahaan fesyen beroperasi dengan meningkatkan penggunaan bahan organickdan daur ulang. Mereka memang turut mengurangi jejak karbon, dan mengumpulkan pakaian untuk didaur ulang.

Namun, upaya ini belum mencapai skala, sementara kritik menyatakan masalah terbesarnya adalah volume pakaian yang diproduksi saban hari, dan volume ini tak menurun.

Dalam story cover, Greta Thunberg mengungkapkan bahwa ia belum membali pakaian apa pun dalam tiga tahun, dan hal terakhir yang ia beli adalah barang bekas. Ia memilih untuk meminjam barang dari orang yang ia kenal. Namun, ia juga menjelaskan bahwa perubahan konsumsi individu tak akan memenuhi kebutuhan utama saat ini.

Dalam wawancaranya dengan Vogue, ia menyatakan bahwa konsumen yang membeli fast fashion telah mendorong proses yang berbahaya. Ia memahami pembeli yang membeli produk fesyen karena mereka ingin bisa mengekspresikan diri dan identitas mereka.

“Anda tidak dapat memproduksi fesyen secara massal dan menjadi konsumen yang sustain jika menyebabkan dunia seperti ini. Itulah salah satu alasan mengapa kita membutuhkan perubahan pada sistem,” lanjut Greta di utas Twitternya.

Perubahan sistem kemungkinan menjadi satu-satunya hal yang dapat mengurangi laju krisis yang diuraikan dalam laporan terbaru IPCC, yang menemukan fakta bahwa tersebab emisi karbon, suhu global kemungkinan akan meningkat lebih dari 1,5 celcius di atas tingkat praindustri.

Batasan tersebut merupakan sebuah tonggak sejarah yang diteken Perjanjian Iklim Paris 2015, yang berupaya menciptakan consensus global untuk memerangi perubahan iklim dalam 10-20 tahun ke depan.

Suhu global yang lebih tinggi pasti akan menyebabkan naiknya permukaan air laut dan peningkatan iklim yang ekstrem. Pun, laporan IPCC menegaskan bahwa beberapa dari perubahan ini sekarang benar-benar tak bisa dihindari.

KLIK INI:  ProKlim, Upaya Unggulan KLHK Hadapi Perubahan Iklim