Ini Dampaknya Jika Kadar Gas Rumah Kaca di Atmosfer Meningkat!

oleh -25 kali dilihat
Ini Dampaknya Jika Kadar Gas Rumah Kaca di Atmosfer Meningkat!
Ilustrasi - Foto: Ist

Klikhijau.com – Pada umumnya Gas Rumah Kaca (GRK) dihasilkan dari aktivitas manusia setiap harinya. Misalnya dari kebiasaan membakar sampah dan memakai kendaran bermotor, penggundulan hutan, asap pabrik, penggunaan AC, penggunaan pestisida dan lainnya.

Dilansir dari Encyclopedia gas rumah kaca adalah jenis gas yang memiliki kemampuan untuk memantulkan sinar matahari yang mengenai bumi. Jenis gas ini seperti karbondioksida co2, metana, nitrogen dioksida, dan gas cholorofluorocarbons.

Sebenarnya efek rumah  kaca dibutuhkan untuk menjaga kestabilan suhu bumi agar tetap hangat. Maka tanpa adanya gas rumah kaca akan kondisi bumi mendingin.

Secara alami gas karbondioksida co2, metana dan nitrogen dioksida adalah gas yang secara alami terkandung di dalam atmosfer.

KLIK INI:  Peneliti Temukan Perubahan Iklim Perpendek Usia Pepohonan

Namun, sejak tahun 1950-an gas karbondioksida mengalami peningkatan secara drastis karena aktivitas industri  dan aktivitas manusia terus menciptakan gas cholorofluorocarbons(CFCs), zat yang membuat efek gas rumah kaca menjadi memburuk dan berbahaya.

Dampak peningkatan gas rumah kaca

Berikut ini beberapa efek yang akan terjadi jika gas rumah kaca meningkat:

  1. Menipisnya lapisan ozon

Lapisan ozon adalah lapisan yang paling penting bagi bumi. Sebab lapisan ozon akan menghalangi sinar ultraviolet yang berbahaya dari matahari ketika sampai pada perrmukaan bumi.

Jika lapisan ozon  rusak maka seluruh makhluk hidup akan terdampak bermacam macam penyakit. Bahkan cuaca yang semakin panas kita rasakan sehari hari bisa jadi menjadi gejala menipisnya lapisan ozon.

  1. Kerusakan ekologi

Tak hanya bagi manusia, ketika efek rumah kaca/pemanasan global terjadi, hewan akan cenderung melakukan migrasi dari kutub es ke arah pegunungan, tumbuhan pun akan mengubah arah tumbuhnya dengan mencari tempat baru untuk pindah.

KLIK INI:  Keren, Kini Hadir Semen yang Bisa Dimakan, Terbuat dari Sisa Makanan

Namun aktivitas pembangunan manusia menghalangi hal tersebut membuat spesies terhalangi untuk melakukan perpindahan karena terlahangi lahan yang dibanguni manusia.

  1. Mencairnya es kutub

Pada dasarnya kosentrasi CO2 (Karbondioksida) menjadi faktor paling utama peningkatan pemanasan global. Ketika suhu meningkat lapisan salju dan es di kutub akan menurun.

Melansir dari DW, sebanyak 500 pakar iklim mendiskusikan tentang dampak yang akan muncul ketika pemanasan global terjadi. Selain mengancam keberdaan flora dan fauna, dampaknya pada manusia pun akan begitu besar.

Di masa mendatang jika suhu terus naik 3-4 derajat celcius maka seluruh Greenland akan mencair. Puncaknya ketika permukaan air laut naik besar kemungkinan semua negara kepulauan kecil akan berakhir tenggelam

  1. Perubahan iklim

Efek rumah kaca akan membuat beberapa wilayah yang hangat menjadi lebih lembab. Hal ini terjadi kerena penguapan air lebih proses banyak mendominasi di lautan. Uap air yang menjadi salah satu gas rumah kaca menjadi penyebab efek insulasi pada atmosfer meningkat dan membentuk banyak awan.

Selanjurnya, pantulan matahari dari proses tersebut akan menurunkan proses pemanasan sehingga akhirnya tingginya kelembapan akan meningkatkan curah hujan. Kekeringan akan mudah terjadi karena air sangat cepat menguap dari dalam tanah dan badai akan semakin kering.

Hal ini pun akan berimbas pada ketersediaan pangan sebab kondisi cuaca yang tak menentu akibat perubahan iklim akan membuat kegagalan panen terjadi. Jika pemanasan global terus meningkat beberapa tahun kedepan manusia bisa saja terancam kelaparan.

  1. Peningkatan keasaman air laut

Umumnya gas rumah kaca yang tersebar di udara akan di serap oleh air laut. Namun,  titik masalahnya adalah jika kadar gas yang diserap berlebihan hal ini akan menimbulkan air laut menjadi asam sehingga akan menganggu biota laut menjadi terganggu.

KLIK INI:  Fisiologi Tumbuhan, Pengertian, Lingkup dan Hubungannya dengan Cabang Botani Lainnya