‘Indonesia Terserah’ dan Narasi Kecewa Tim Medis

Publish by -271 kali dilihat
Penulis: drg. Rustan Ambo Asse Sp.Pros
Indonesia Terserah
Tagar #IndonesiaTerserah yang lagi viral - Foto/TintaHijau

Klikhijau.com – ‘Indonesia Terserah’, sebuah narasi yang mendadak jadi tagar paling populis beberapa hari terakhir. Apa makna yang bisa dibaca di balik narasi kritis ini?

Seorang dokter harus menjalani protokol ketat dalam menjalankan tugasnya sebagai tim medis penanganan Covid 19. Setelah pulang dari rumah sakit dia harus karantina mandiri selama empat belas hari sebelum pulang ke rumah, bercengkerama dan memeluk anak-anaknya.

Jika melepas kerinduan dengan keluarga telah usai, dia akan berangkat lagi ke rumah sakit melanjutkan sebuah tugas yang tak mudah. Virus yang tak nampak ini mengharuskan seorang dokter memakai Alat Pelindung Diri (APD) berlapis-lapis.

Dengan serangkaian mekanisme cara pemakaian APD yang harus disertai kewaspadaan tinggi itu beberapa jam kemudian semua aktivitas pribadi seperti makan,minum, menelpon dan buang air mesti ditunda beberapa jam ke depan.

Setelah tugas di rumah sakit selesai lagi, dokter tersebut akan melakukan karantina mandiri  selama empat belas hari untuk memastikan kembali bahwa dirinya tidak memiliki gejala covid 19. Demikianlah siklus rutinitas seorang dokter yang bekerja dalam penanganan Covid 19.

KLIK INI:  TORA dan PS untuk Rakyat Sejahtera dan Hutan Lestari

Sejak aturan Stay At Home, Social Distancing, Cuci tangan pakai sabun, Mamakai masker diterapkan oleh pemerintah, sebagian masyarakat telah mengikuti anjuran itu dengan hati-hati. Mereka tidak keluar rumah jika benar-benar tidak urgen, kalaupun keluar rumah senantiasa memakai masker membawa hand sanitizer dan serangkaian protokol jaga jarak di area publik.

Dua kisah faktual di atas memberikan gambaran bahwa tenaga medis yang berjuang mati-matian dan sekelompok orang yang disiplin mengikuti protokol memutus mata rantai penularan virus adalah masyarakat yang meyakini bahwa memutus mata rantai penyebaran virus covid 19 membutuhkan pengorbanan,kesabaran, kedisipilinan dan kerjasama yang baik antar semua elemen masyarakat.

Kepatuhan Masyarakat

Kepatuhan masyarakat memiliki wajah yang beragam. Sikap masyarakat yang berbeda-beda ini secara proporsional mesti dianalisis dengan cermat agar para stakeholder memiliki langkah yang tepat.

Label keras kepala barangkali tidak berlebihan jika diberikan kepada sebagian masyarakat yang tidak patuh aturan Stay At Home dan Sosial Distancing. Sikap yang acuh tak acuh ini tentu sangat berlawanan dengan semangat untuk memutus mata rantai penularan virus. Ketika tenaga medis dan sebagian yang lain sudah berjuang maka mereka tetap tidak patuh aturan dengan berbagai alasan dan argumentasi.

Ketika anjuran memakai masker diwajibkan di banyak tempat, mereka tetap melakukan aktivitas di luar sana seperti biasa.Tanpa memakai masker, berkerumun dan berkumpul tanpa jarak, bahkan diantara mereka menampakkan sikap perlawanan seolah-olah wabah virus ini adalah hoax dan tidak membahayakan nyawa manusia.

Mereka yang tidak patuh aturan ini beragam pihak. Ada sekelompok orang yang memang benar-benar tidak peduli. Ketidakpedulian itu tidak disertai sikap tanggung jawab sosialnya sebagai bagian dari warga masyarakat. Mereka tidak paham bahwa sikap melawan aturan itu tidak hanya membahayakan dirinya sendiri tapi menjadi ancaman untuk semua orang.

KLIK INI:  Omnibus Law, Hukum Agraria Kolonial dan Ancaman Kedaulatan Pangan

Kelompok yang lain adalah mereka kaum dhuafa  yang tak punya pilihan. Kita bisa membayangkan mereka yang bekerja hari ini untuk makan nanti malam, mereka yang bekerja serabutan hanya untuk mempertahankan hidup di esok hari.

Kelompok terakhir adalah mereka yang banyak berkicau dan protes. Merasa miskin dan tidak bisa mempertahankan hidup tapi memiliki gadget dan bisa beli rokok, paket data untuk bersosial media siang dan malam. Kelompok ini cenderung tidak logis, merasa tidak terwadahi dalam sebuah kebijakan tapi di sisi lain tidal berbuat apa-apa yang memberi konstribusi dalam memutus mata rantai virus.

Efektif Leadership

Australia memiliki alur penanganan Covid yang holistik. Filosofi paling mendasar bahwa manusia (Human Interest) adalah episentrum menjadi dasar kebijakan. Ekonomi dan politik kelihatannya bukan hal dominan di negara itu pada masa pandemi covid.

Dari human interest kemudian melahirkan pelayanan berkualitas (Quality Care) hingga secara nasional membentuk sebuah kepercayaan ( Trusth) antara masyarakat dan pemerintah.

Kebijakan sebuah Negara pada masa pandemi yang utama adalah kepercayaan (Trusth) . Bagaimana membangun sebuah kepercayaan itu sehingga masyarakat bisa mematuhi segala protokol penanganan covid.

Jepang memberikan contoh terbaik bagaimaana masyarakat yang stay at home diberikan sejumlah uang. Di Taiwan masyarakatnya tidak perlu khwatir semua data kesehatan warganya telah terekam dan menerima tes pemeriksaan covid bagi semua orang tanpa terkecuali.

KLIK INI:  Sengkarut Data Penerima Bansos, TII: Negara Mestinya Memiliki Manajemen Data

Kepemimpinan yang efektif dan kemampuan mengimplementasikan sebuah kebijakan hingga ke hal teknis memang taruhanya adalah kepercayaan. Kebijakan PSBB, penutupan bandara dan jalur-jalur zona merah tujuanya adalah agar transmisi lokal virus tidak terjadi.

Bantuan Langsung Tunai (BLT) yang sangat dibutuhkan oleh kaum dhuafa harus benar-benar tepat sasaran. Tantanganya adalah bagaimana pemerintah daerah bisa detail dalam pendataan masyarakat.

Kebijakan-kebijakan yang memberi kesan plin plan, berubah-ubah, terlalu konseptual dan tidak teknis serta tidak berbasis science justru akan membuat kepercayaan masyarakat semakin melorot, bahkan dalam kondisi tertentu berpotensi untuk menimbulkan sikap apatis atau sebaliknya yaitu sebuah kepanikan sosial.

 Indonesia Terserah

Hastag ‘Indonesia terserah’ adalah sebuah metafora kritik sosial dari tenaga medis. Akumulasi perasaan kecewa dari sebuah kebijakan yang tidak serius. Pelonggaran PSBB yang  berbanding lurus dengan pelanggaran massal protokol Social Distancing dan Stay At Home.

Kebijakan yang demikian dianggap tidak berbasis ilmiah dan berpotensi membuka peluang terjadinya gelombang kedua serangan pandemi. Dengan adanya kondisi itu transmisi lokal pada suatu tempat dapat menciptakan cluster-cluster baru yang lebih mengerikan.

Indonesia terserah seolah-olah mengirim pesan bahwa perjuangan tenaga kesehatan adalah upaya sia-sia jika aspek kebijakan dan kepatuhan masyarakat tidak mampu memberi peran konkret secara konsisten.

Indonesia terserah adalah jawaban sekaligus titik balik dari rasa kecewa yang mendalam.Ibarat sementara berperang dokter dan paramedis telah melakukan tugasnya di medan perang tapi  masyarakat yang sebelumnya berlindung dari serangan tiba-tiba keluar dan berlari di sebuah padang luas yang berisi ribuan  bom yang ditanam.

Indonesia terserah, dalam sebuah kemungkinan yang tidak kita inginkan, pandemi covid-19 berpotensi tidak akan berakhir selama kita semua tidak disiplin dengan aturan yang kita buat sendiri. Semoga saja tidak demikian!

KLIK INI:  Tentang “Surrogate Mother” dalam RUU Ketahanan Keluarga
Editor: Ahmad Fikri

KLIK Pilihan!