Hujan yang Berhenti di Bibirmu

Publish by -98 kali dilihat
Penulis: I.R Makkatutu
Hujan yang Berhenti di Bibirmu
Ilustrasi/foto-http://www.bianchigiulia.com/

Riuh. Orang-orang berhamburan keluar rumah menyelamatkan cengkih yang sedang dijemur agar tidak basah. Hujan tiba-tiba saja datang padahal sedang terik.

Biasanya sebelum hujan akan gumuru ‘mendung’ terlebih dahulu. Tapi hari itu tidak demikian, alam seakan dipulaskan sinar matahari. Angin bertiup amat lembut. Penanda hujan tidak ada.

“Sial, kenapa dia datang saat begini,” kecam Ibu dengan geram sambil memungut cengkih yang tercecer ke tanah karena jatuh dari tikar.
“Barangkali ia rindu ingin memetik cengkih,” sambut Ayah sambil tertawa.

Tidak cukup setengah jam setelah hujan tiba-tiba itu, kamu benar-benar datang. Sebuah mobil berwarna merah berhenti di depan rumah dan kamu turun berjalan di tengah hujan.

KLIK INI:  Lelaki yang Menjelma Api

Tetesan hujan yang menerpamu berhenti tepat di bibirmu. Angin berembus kencang mengiringi langkahmu. Dedaunan terbang hingga ke ruang tamu.

Halaman rumah penuh dedaunan kering. Suara kaloro ‘sungai’ Balantieng bergemuruh. Pasti airnya sedang naik karena hujan. Seekor anak anjing meraung-raung terseret air kacera ‘selokan kecil’ di pinggir jalan.

Penanda datangmu adalah hujan. Selalu saja begitu.

Hujan bercerita akan dirimu

Seperti biasa dirimulah yang diikuti hujan. Setiap kali kamu pulang kampung bosi allo bangngi ‘hujan siang malam’ selalu curah. Jika kamu tinggal seminggu di kampung maka hujan pun akan turun selama seminggu.

Wajar saja orang-orang menamaimu perempuan hujan. Wajar pula jika musim petik kopi dan cengkih orang-orang selalu was-was menanti kedatanganmu. Sebab ke mana pun kamu pergi hujan akan menemukanmu.

Barangkali hujan jatuh cinta pada bibirmu yang merah alami. Setiap tetes yang membasahi rambut dan wajahmu akan berhenti di bibirmu tanpa bekas—diserap begitu saja, menjadi darah pada tubuhmu.

Tentangmu rasanya tidak ada istimewa. Wajahmu biasa saja, hidung, rambut, mata, postur tubuh, bentuk telinga, mulut—yang sedikit berbeda dari kebanyakan warga kampung hanyalah bibirmu yang selalu merah.

Ketika kamu berusia lima tahun penyakit puru ‘cacar’ menyerang sekujur tubuh mungilmu, wajahmu penuh cacar. Tidak ada sehelai benang pun bisa menempel di tubuhmu.

Ayahmu, saudara bungsu ibuku lebih banyak panik daripada menemukan solusi kesembuhanmu. Ibumu, perempuan tabah sehingga terus saja memupuk mimpi bisa melihatmu kembali ceria.

Mimpi yang tidak hanya berhenti pada kesembuhanmu, tapi juga ingin melihatmu duduk di pelaminan. Mimpi yang gunung, namun wajar.
Tiga minggu setelah cacar menjejali tubuhmu, kamu sembuh setelah tiga kali dimandikan dengan air hujan tanpa perantara, ditadah langsung dari langit menggunakan gumbang—sebuah wadah terbuat dari tanah liat.

KLIK INI:  Nyanyian Sunyi di Rumpun Bambu

Biasanya pengobatan puru tidak serimut itu, tidak semistik itu. Tidak. Tapi kamu berbeda, bahkan menurut ibumu, tiga kali ia bermimpi aneh. Memasuki sebuah gua yang dipancari cahaya. Ia bertemu seseorang berpakaian hijau lembut, tapi ibumu tidak berhasil mengenali siapa pria itu, sebab wajahnya dilumuri cahaya benderang.

“Jika ingin anakmu sembuh mandikanlah dengan air hujan. Dan nikahkan ia sembilan hari setelah sembuhnya, juga harus menanam sembilan puluh sembilan pohon di hulu sungai.” Pesan orang dalam mimpi itu diutarakan ibumu kepada ibuku. Aku mendengarnya dengan jelas.
“Ini jadi rumit, jangan percaya mimpi itu!” saran ibuku dengan suara bergetar takut.
“Aku tidak ingin percaya, tapi sudah tiga kali mimpi itu datang. Aku pun disuruh menadah hujan dari langit untuk memandikan Renning agar sembuh tanpa bekas cacar di tubuhnya,” terang ibumu dengan suara parau menahan tangis.
“Sekarang sedang timoro ‘kemarau’ bagaimana cara kita menemukan hujan, juga menemukan lelaki yang mau menikahi Renning dengan usia sebelia itu, lima tahun. Persoalan menanam pohon, rasanya tak rumit dipenuhi,” ujar ibuku khawatir.
“Tolong bantu carikan solusi dan rahasiakan ini dari bapaknya Renning!” pinta ibumu.

Tiga hari setelah ibumu datang menemui ibuku, hujan benar-benar turun melepas rindu langit kepada bumi, kekasihnya.

Hujan lebat itu tiga hari tiga malam tidak berhenti. Dan kamu secara ajaib—setelah dimandikan tiga kali selama tiga hari itu dengan air hujan langsung sembuh, bahkan kulitmu lebih halus dan cerah.

Rahasia menyimpan resah

Tidak ada rahasia yang bisa sembunyi selamanya dalam sebuah perahu bernama rumah tangga. Tidak ada yang tahu bagaimana mimpi ibumu sampai kepada ayahmu. Ibuku tidak mungkin menceritakannya.

“Doa kita terkabul, Ma, Renning sembuh bahkan tidak sebiji pun bekas cacar di tubuhnya,”
“Iye, Pak, kita patut bersyukur kepada Karaeng Allata’ala, Allah Swt.”
“Lalu bagaimana dengan pernikahan Renning sembilan hari setelah ia sembuh?”

Ibumu, juga ibuku tersentak kaget mendengar penuturan ayahmu. Keduanya saling tatap penuh curiga. Ibumu mencurigai ibuku telah menceritakannya kepada saudaranya itu. Dan ibuku menatap curiga kepada ibumu karena menganggap ibumulah yang mengkhianati janjinya.

“Kenapa kalian saling tatap, seorang lelaki berpakian hijau menemuiku dalam mimpi. Ia bercerita telah mendatangimu. Ia menagih janji tentang pernikahan Renning. Sulit dipercaya, kita berhubungan dengan orang yang sama dalam mimpi. Tiga kali lelaki itu datang, tapi tidak sekalipun kulihat wajahnya. Wajahnya berlumuran cahaya benderang,” tutur ayahmu panjang lebar.

KLIK INI:  Kepada Pohon Pinus Itu
Angin itu pencuri rahasia

Mengenai kesepakatan ganjil itu, warga geger ketika, entah siapa yang memulai membocorkan rahasia kamu akan dinikahkan sebagai salah satu syarat kesembuhanmu. Hanya syarat pernikahan itu yang bikini geger.

Syarat menanam 99 bibit pohon dihulu sungai dianggap tak layak jadi gosip.
Perihal pernikahanmu, semua orang, termasuk Haji Harumang, seorang ustaz yang biasa dimintai pertimbangan dalam banyak hal, khususnya agama melarang pernikahanmu di usia belia, lima tahun.

Warga berkumpul di lego-lego ‘beranda’ rumahmu dengan suguhan kopi hitam tanpa gula, juga ada sanggara ‘pisang goreng’. Mereka berembuk, lalu keputusan bulat diterima. Mereka menolak pernikahan yang sangat dini itu atas dirimu.

“Kita akan melawan orang dalam mimpi Puang Samina dan Puang Darmang. Saya punya kenalan yang bisa masuk ke dalam mimpi,”

“Panggillah kenalanmu itu, Ruleng, kita perlu bicara dengannya!” perintah Pak RT. Semua orang yang hadir mengangguk tanda setuju.

Tujuh hari setelah sembuhmu, kenalan yang dijanjikan Ruleng tidak datang. Di hari ke delapan ia baru datang. Tapi, bagaimana membuat lelaki bernama Hamisang itu tidur agar bisa melawan orang yang datang dalam mimpi ayah dan ibumu?

“Siapkan ballo ‘tuak’ lima liter!” perintah Ruleng. “Setelah minum ballo ia akan tidur,” lanjutnya.

Lima liter ballo dibawa Bakkaring ke hadapan Hamisang. Ia minum di depan kerumunan orang, termasuk Pak Ustaz ada di situ. Banyak yang prores, melarang Hamasing minum di depan umum.

Protes itu diterima. Hamasing menyingkir minum ke belakang masjid.

KLIK INI:  Dadamu Deru Ombak

“Kurang ajar, jika saja bukan tamu telah kutendang, sekarang minum di belakang masjid,” geram Puang Tassi

Ketika usai minum Hamasing digotong ke atas rumahmu. Ia tertidur, giginya gemeratak.

“Ia sedang bertarung dengan lelaki dalam mimpi” ujar Ruleng. Sambil merogoh kantongnya yang hangat diganjal uang bayaran jasa Hamasing,

Igauan panjang serupa orang berkelahi meluncur dari mulut Hamasing, Ruleng semakin girang. Namun, beberapa menit kemudian, lelaki yang bisa memasuki alam mimpi itu muntah-muntah. Baunya menyengat. Orang yang mengerumuninya berhamburan.

“Kurang ajar, kita ditipu,” ujar Pak Ustaz
“Sepertinya dia kalah bertarung,” alasan Ruleng.

“Itu muntah karena mabuk Ruleng” ujar ayahmu geram. Warga yang berkumpul di lego-lego segera masuk ke ruang tamu, di mana Hamasing berbaring dengan muntahnya. Warga menggotong tubuh Hamasing lalu merendamnya di solongang depan rumahmu.

Hamasing sadar setelah beberpa menit di dalam air. Ia bangun dengan kaget dan perasaan malu. Sementara Ruleng menghilang tanpa ada yang lihat. Sejak kejadian memalukan bagi Hamasing dan Ruleng itu. Keduanya tidak pernah terlihat lagi batang hidungnya.

Hujan ikuti katamu

Warga sepakat tidak ada pernikahan, sementara kamu sibuk bermain masak memasak bersama Darlia, adikku. Aku hanya dua bersaudara, dan kamu sepupu sekaligus saudara keduaku. Aku memiliki dua adik perempuan. Kamu dan Darlia.

Benar-benar tidak ada pernikahan di hari kesembilan dan tidak terjadi apa-apa atas dirimu. Semua orang gembira, tapi di hari kesebelas. Kampung gelap gulita, padahal saat itu seharusnya singara bulang ‘bulan bersinar terang’ apalagi tidak hujan. Jadi, mustahil akan kallangngang ‘gelap gulita’ dan kamu merontah, lehermu seperti ada yang mencekik.

Semua doa terhaturkan malam kesebelas untuk kesembuhanmu. Dua jam kamu tercekik dan setelah lepas, kamu bangun dan duduk bersila meminta peci hitam dan rokok yang dilinting sendiri. Kamu merokok penuh penghayatan. Dan mulai banyak bercerita, tapi itu bukan dirimu. Suaramu adalah suara parau orang tua.

“Renning harus dinikahkan malam ini, itu mempelai lelakinya, kalau tidak, saya akan mengambil nyawanya dengan paksa,” ujar orang yang menguasai tubuhmu. “Dan besok pagi, kalian hadir di rumah ini harus menanam 99 pohon di hulu sungai yang telah gundul,” lanjutnya.

Kamu, bukan kamu, tapi sesorang yang meminjam tubuh mungilmu itu menunjuk seorang lelaki yang berdiri di dekat pintu. Semua orang yang ada malam itu menoleh. Semuanya terlihat heran menyaksikan lelaki itu. Jika saja malam itu ustaz Haji Harumang ada, barangkali pernikahanmu tidak akan terjadi di usia lima tahun.

KLIK INI:  Memilih Wakil Rakyat Peduli Lingkungan

Lelaki yang ditunjuk oleh yang meminjam tubuhmu berdiri gemetaran. Ia ditarik maju, lalu disumpah agar bersedia menerimamu menjadi istrinya. Dan ia akan menjadi suamimu. Benar-benar suami.

Semua mata tertuju kepadanya penuh tanya, sejak kapan lelaki itu berada di rumahmu setelah menghilang cukup lama.

Pernikahan berlangsung khidmat, tapi penuh ketakutan malam itu. Setelah pernihakan usia, hujan turun dengan deras, namun hanya sekejab. Dan entah bagaimana hujan membasahi rambutmu. Padahal kamu dalam ruangan dan hanya kamu sendiri yang basah. Ketika kamu bilang berhenti, hujan pun berhenti.

Dan lelaki yang menikahimu malam itu mengecup keningmu. Aku ingin meninjunya. Aku masih merasa jengkel saat ia menipu orang banyak bersama Hamasing. Aku maju, memanggil namanya dengan geram; Ruleeeng.

Hujan yang enggan berhenti

Tiga hari ini hujan menolak berhenti. Tak ada jemuran kering. Wajah-wajah resah tergambar vulgar. Beberapa orang menyusun rencana mengusirmu dari kampung. Sebab mereka yakini, kamulah yang membawa hujan itu. Jika kamu dibiarkan tinggal lebih lama, cengkih yang sudah dipetik akan membusuk.

Selalu saja begitu—hujan mengikuti langkahmu.

Sebenarnya, sejak malam pernikahanmu dengan Ruleng yang tidak wajar penuh kekurangajaran itu. Banyak warga membencimu.

Maka tidak ada jalan lain. Orang tuamu membawamu ke kampung jauh dan tinggal di sana bersama kerabatmu yang jauh pula. Jadi, kamu tidak harus menjalani hidup mengerikan bersama Ruleng, lelaki peminum itu.

Dan Ruleng tidak keberatan, tapi setelah umurmu menanjak dewasa dan sering pulang ke kampung, Ruleng benar-benar jatuh cinta padamu. Ia menceraikan istrinya agar bisa melanjutkan pernikahan aneh itu bersamamu. Dan aku selalu geram, cemburu tepatnya.

“Sebaiknya kamu pergi,” saranku saat menemuimu kemarin di rumah peninggalan orang tuamu

Kamu hanya tersenyum. Ruleng keluar dari kamarmu. Aku menatapnya geram.

Kindang,  2017-2020

I.R Makkatutu lahir di Bulukumba sekian tahun lalu. Penyuka sastra dan gerimis

KLIK INI:  Kecupan di Kota Sunyi
Editor: Idris Makkatutu

KLIK Pilihan!