Hujan Ekstrem Jadi Penanda Indonesia Alami Krisis Iklim?

Publish by -17 kali dilihat
Penulis: Redaksi
Hujan Ekstrem Jadi Penanda Indonesia Alami Krisis Iklim?
Hujan ekstrem yang melanda Jabodetabek, sebuah penanda krisis iklim/foto-Kompas

Apabila melihat dalam perspektif iklim, fenomena hujan ekstrem telah mengindikasikan terjadinya krisis iklim

Klikhijau.com – Hujan ekstrem yang bertamu ke Jabodetabek bagi Greenpeace Indonesia bukanlah efek perubahan iklim.

Greenpeace Indonesia sepertinya ingin mengatakan jika perubahan iklim dampaknya tidak akan separah itu.

Namun, yang terjadi sesungguhnya lebih mendebarkan dari perubahan iklim, yakni telah masuk ke kategori krisis iklim.

Kepala Greenpeace Indonesia, Leonard Simanjuntak seperti yang diberitakan Republika mencontohkan curah hujan ekstrem yang terjadi di wilayah Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta pada 1 Januari 2020 mencapai 377 mm.

KLIK INI:  Ibu yang Menyusui Bisa Atasi Perubahan Iklim, Benarkah?

Curah hujan ektrem itu merata, karena juga terjadi di kawasan Taman Mini Indonesia Indah, curah hujan tercatat sebesar 335 mm, dan di Jatiasih, Bekasi curah hujan sebesar 259 mm.

“Kalau dari kami melihatnya, merupakan bukti atau indikasi yang kuat bahwa memang kita sudah masuk krisis iklim. Salah satu fenomena yang sudah teridentifikasi kuat sebagai fenomena krisis iklim adalah curah hujan ekstrem yang terjadi pada waktu yang singkat,” ujarnya

Katanya lagi, curah hujan ekstrem yang mencapai 377 mm adalah bukti kuat yang mengindikasikan bahwa Indonesia mengalami fenomena krisis iklim.

Leonardo juga mengatakan banjir-banjir besar di Jakarta yang terus terulang belum pernah mencapai 377 mm dalam waktu satu malam.

“Itu sudah jauh dari curah hujan normal Jakarta dalam satu bulan dan itu terjadi dalam satu malam. Jadi bisa dibayangkan, kalau hujan satu malam sudah lebih dari yang normalnya satu bulan,” katanya.

Dia mengakui curah hujan ekstrem memang bukan satu-satunya penyebab banjir. Namun apabila melihat dalam perspektif iklim, kata dia, fenomena itu telah mengindikasikan terjadinya krisis iklim.

KLIK INI:  Gletser di Puncak Jaya akan Hilang, Indonesa Patut Berduka

“Ini fenomena yang sudah teridentifikasi kuat sebagai fenomena krisis iklim, curah hujan ekstrem yang terjadi pada waktu yang singkat,” ujarnya.

Curah hujan ekstrem yang mencapai 377 mm, kata dia, tercatat yang paling tinggi dalam sejarah banjir besar Jakarta dalam 1 dekade terakhir. Sebelumnya, ungkap Leonard, curah hujan ekstrem juga pernah melanda Jakarta sebesar 340 mm pada 2007.

“Bahwa krisis iklim sudah terjadi, dan kalau dalam konteks bencana banjir Jakarta dia berkombinasi dengan kelemahan-kelemahan atau salah urus dari banyak hal, di perkotaan, tata tuang, sampah, penurunan muka air tanah kalau di Jakarta utara, dan rusaknya daerah tangkapan air di hulu, jadi dia kombinasi dari itu semua,” tegasnya

Musim hujan belum sampai puncak

Sementara itu, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprediksi puncak musim hujan diperkirakan akan terjadi pada Februari hingga Maret 2020. Artinya, pada Januari ini musim hujan belum mencapai puncaknya. Meskipun begitu, kondisi hujan saat ini membuat banjir melanda sejumlah wilayah di Indonesia.

KLIK INI:  Rasakan Panas Terik yang Sangar Hari Ini? Begini Penyebabnya!

Deputi Bidang Klimatologi BMKG Herizal meminta masyarakat tetap waspada menghadapi musim hujan, terutama memasuki masa puncak mulai Februari mendatang.

“BMKG mengimbau agar semua pihak dan masyarakat tetap waspada terhadap peluang curah hujan tinggi yang masih mungkin. Mengingat puncak musim hujan diprakirakan akan terjadi pada bulan Februari hingga Maret,” kata Herizal seperti yang dimuat Republika, Sabtu 04 januari 2020

Herizal menambahkan, BMKG mendefinisikan puncak musim hujan sebagai periode ketika akumulasi curah hujan mencapai jumlah tertinggi pada suatu dasarian untuk tiap zona musim. Tahun ini, kata Herizal, BMKG mencatat curah hujan ter tinggi tercatat sepanjang sejarah 150 tahun terakhir.

BMKG sendiri memprediksi hujan ekstrem akan kembali terjadi pekan depan. Kepala BMKG Dwikorita Karnawati menjelaskan, curah hujan ekstrem tersebut diperkirakan berlangsung hingga 10 Januari 2020.

“Curah hujan ekstrem lebih tinggi 150 mm per hari yang turun cukup merata di wilayah DKI Jakarta telah memicu banjir besar sebagaimana telah terjadi di tahun 2015 dan 2007 lalu,” kata Herizal.

Menurutnya, di wilayah Jabodetabek, berdasarkan data 43 tahun terakhir. Curah hujan harian tertinggi per tahun memang mengindikasikan tren kenaikan intensitas 10-20 mm per sepuluh tahun. Peluang terjadinya hujan pun meningkat 2 sampai 3 persen dibandingkan 100 tahun lalu. “Hal ini menandakan hujan-hujan besar yang dulu jarang, kini lebih berpeluang kerap hadir pada kondisi iklim saat ini,” tutur Herizal.

Curah hujan tersebut terjadi akibat udara basah yang bergerak dari timur Afrika. Udara basah bergerak berarak-arakan menuju Samudra Pasifik, tapi jalurnya akan melewati sejumlah wilayah di kepulauan Indonesia.

KLIK INI:  Tingkat Oksigen Laut Turun, Polusi Salah Satu Penyebabnya
Editor: Idris Makkatutu
Sumber: Republika

KLIK Pilihan!