Hati-Hati, Konsumsi Protein Berlebih Bisa Sebabkan Kerusakan Hati

oleh -160 kali dilihat
Hati-Hati, Konsumsi Protein Berlebih Bisa Sebabkan Kerusakan Hati
Ilustrasi foto-aladokter

Klikhijau.com – Protein merupakan komponen penting dari setiap sel dalam tubuh. Jadi, tidak mengherankan jika konsumsi protein bermanfaat bagi tubuh dalam pembentukan tulang, otot, tulang rawan, kulit, dan darah.

Protein juga berfungsi untuk membangun, memperkuat, dan memperbaiki atau mengganti jaringan tubuh. Membuat antibodi untuk sistem kekebalan tubuh dan banyak lagi yang lainnya.

Tubuh membutuhkan 10 hingga 35 persen dari total konsumsi harian. Protein menjadi satu makronutrien penting yang dibutuhkan tubuh dalam jumlah cukup besar.

Dikutip dari Kompas.com, pakar Gizi dr. Saptawati Bardosono mengungkapkan jika di Indonesia, memenuhi 10 sampai 15 persen protein sudah bagus. 35 persen masih aman tapi harus dihitung antara bayi, anak dan dewasa berapa maksimal protein yang masuk.

KLIK INI:  Tak Hanya Penting bagi Bayi, ASI Eksklusif Juga Baik Bagi Ibu Menyusui

Mendiskusikan soal perlunya asupan protein berkualitas yang cukup, sudah sering dilakukan. Namun, tahukah Anda bahwa asupan protein berlebih juga tidak dianjurkan? Jika berlebihan, dapat menyebabkan kerusakan beberapa organ tubuh.

Asupan protein berlebihan ini rupanya cukup banyak terjadi di Indonesia, umumnya pada orang dewasa.

Saptawati menjelaskan, kelebihan asupan protein akan membuat kerja organ tubuh berlebihan sehingga memicu terjadinya gangguan fungsi.

Gejala dan dampak kelebihan protein

Beberapa gejala dan dampaknya antara lain adalah rasa tidak nyaman atau mual di perut karena terlalu banyak mencerna protein. Hal ini paling terasa pada organ lambung.

Asam amino dari protein yang sudah diserap oleh usus akan didistribusikan ke seluruh tubuh oleh hati.

Ketika asupan protein berlebih, hati akan kerepotan sehingga sel-selnya bekerja terlalu berat dan lama-lama akan rusak. Pada akhirnya, fungsi hati akan terganggu. Sisa-sisa protein akan dibuang melalui ginjal.

Namun, asupan protein berlebih akan membuat ginjal kesulitan menyaringnya. Pada akhirnya saringan pada ginjal akan bocor dan membuat protein keluar melalui kencing. Warna air seni pun bisa berubah menjadi keruh karena protein.

Mestinya, jika kencing itu tidak ada protein. Begitu yang dikatakan Saptawati.

Asupan protein harusnya disesuaikan dengan kebutuhan tubuh. Jika rata-rata kebutuhan kalori harian adalah 2000 KKal, maka usahakan konsumsi protein minimal 10 persennya atau sekitar 200 kalori.

Jika dikonversikan, maka akan menjadi sekitar 50 gram (protein per gram menghasilkan 4 kalori).

Ingat pula untuk memilih sumber-sumber protein berkualitas. Piramida gizi seimbang bisa menjadi acuan.

Beberapa sumber protein yang baik dikonsumsi antara lain daging tanpa lemak, ikan, makanan laut, telur, daging, unggas, kacang-kacangan, hingga susu.

KLIK INI:  5 Kreasi Minuman Penambah Energi Alami Agar Kuat Menanti Hasil Quick Count