Hari Pangan Sedunia dan 7 Isu Relevan yang Menyertainya Kini

Publish by -141 kali dilihat
Penulis: Redaksi
Hari Pangan Sedunia dan 7 Isu Relevan yang Menyertainya Kini
Ilustrasi -Foto/KH

Klikhijau.com – Hari pangan sedunia diperingati pada 16 Oktober setiap tahun. Peringatan ini didasarkan pada momen berdirinya organisasi pangan dan pertanian dunia yakni Food and Agriculture Organization (FA)) pada 16 Oktober 1945.

Momentum penting ini diperingati untuk memperkuat kesadaran tentang ragam masalah pangan seperti gizi buruk dan ancaman kelaparan. Setiap tahunnya, ada 150 negara yang menggelar even di momen ini dan mengkampanyekan pangan sehat dan berkelanjutan.

Di Indonesia, peringatan hari pangan sedunia biasanya digelar oleh sejumlah LSM di bidang pertanian dan pangan. Isu utamanya berkisar pada pentingnya mendorong suatu policy yang kuat untuk menciptakan kedaulatan pangan atau akses pangan yang berkeadilan.

Adapun tema hari Hari pangan sedunia 2020 adalah “Grow, Nourish, Sustan, Together”. Tema ini tentu relevan dengan beragam masalah yang dihadapi dunia, terlebih di tengah isu pandemi Covid-19.

KLIK INI:  Iyakah, Kupu-kupu Asing Bertengger di Gerbang Bantimurung?
Tujuh  isu pangan

Berikut setidaknya ada 7 isu penting yang menyertai momen hari pangan:

  1. Akses pangan masyarakat di belahan bumi masih rendah. Faktanya, sebagaimana dikutip dari laman Hindustan Times, ada cukup makanan yang tersedia, namun masih ada sekitar 820 juta orang di dunia yang kelaparan.
  2. Pihak paling rentan dengan masalah pangan justru petani dan nelayan. Padahal, produksi pangan ada di pihak mereka sebagai tulang punggung ketersediaan pangan. Hal ini menunjukkan bahwa ada tata kelola pangan yang keliru dan tidak menguntungkan petani dan nelayan.
  3. Di tengah populasi manusia yang terus meningkat, kita sedang menghadapi masalah serius yakni ancaman malnutrisi yang mengintai balita. Jumlahnya tidak sedikit yakni mencapai 17 juta anak.
  4. Kelaparan dan kemiskinan umumnya terjadi di pelosok desa, di sanalah kehidupan petani dan nelayan berlangsung.
  5. Dunia sedang menghadapi masalah stunting di berbagai negara. Stunting menghantui sekitar 489 juta dari 815 juta orang kekurangan gizi. Selain stunting, masalah obesitas juga mengancam masyarakat dunia. Obesitas disebabkan oleh pola makan yang salah dan cara pandang yang keliru dalam memahami nutrisi makanan. Obesitas diprediksi telah menjadi epidemi global dimana ada 2,8 juta orang meninggal setiap tahun akibat obesitas.
  6. Isu pemanfaatan pangan lokal menjadi sangat penting dewasa ini. Di Indonesia, potensi pangan lokal menjadi sangat penting karena menjadi bagian dari kearifan lokal di setiap daerah. Pangan lokal dapat menyelamatkan manusia dari ketergantungan pada beras.
  7. Masalah pangan sangat berkaitan dengan kelestarian keanekaragaman hayati. Oleh sebab itu, aksi-aksi untuk pemulihan lingkungan dan upaya menjaga kekayaan alam merupakan bagian dari perjuangan menjaga sumber-sumber pangan.
KLIK INI:  Membangun Sistem Pangan Berkelanjutan, Memberdayakan Petani dan Desa
Pangan dan pandemi

Tema peringatan hari pangan sedunia ke-75 ini “Grow, Nourish, Sustain, Together” tentu sangat relevan dengan krisis yang melanda dunia akibat pandemi covid-19.

Pandemi memaksa setiap orang mengkonsumsi pangan sehat dan paling mendasar mendapatkan akses makanan yang cukup nutrisi demi kesehatan. Di sinilah peran menyuarakan pentingnya kebersamaan untuk bahu-membahu memikirkan sumber-sumber pangan yang dapat diakses secara memadai.

Pangan bergizi dan mudah diakses merupakan upaya penting dalam menghadapi situasi pandemi. Di sisi lain, para petani dan nelayan harus mendapat perlindungan yang baik agar bisa bertahan dalam situasi krisis.

Oleh sebab itu, pemerintah harus memberi dukungan kuat pada petani dan nelayan dan semua yang bekerja di sektor pangan. Memastikan mereka dapat menjalankan kehidupannya secara baik, sehingga distribusi dan produksi pangan dapat dijalankan di tengah pandemi.

Skema perlindungan sosial yang dibuat negara harus memastikan tak ada kelompok rentan yang terdampak. Hal lainnya yang tak kalah pentingnya adalah perlunya mendorong pangan sehat yang berkelanjutan.

Pangan berkelanjutan akan sangat berkaitan dengan model-model pemanfaatan lahan dan sistem pertanian yang rama lingkungan. Sistem pangan yang ramah lingkungan berkaitan dengan kondisi iklim dan kelestarian alam.

Kata kuncinya adalah pertanian harus memperhitungkan masalah lingkungan dan akses yang berkeadilan atau dinikmati bersama (together).

Selamat hari pangan sedunia!

KLIK INI:  Mengapa Masih Ada Sampah Plastik di Antara Kita?
Editor: Anis Kurniawan

KLIK Pilihan!