Hari Bumi, Kapitalisme dan Tragedi di Negeri Makmur

oleh -286 kali dilihat
Hari-Bumi,-Kapitalisme-dan-Tragedi-di-Negeri-Makmur
Ilustrasi/Foto-republika.co.id

Klikhijau.com – Hari Bumi mungkin menjadi harapan tersendiri bagai sang bumi untuk melimpahkan segala keluh kesah atas apa yang telah terjadi padanya.

Seorang senator Amerika Gay Nelson, mungkin tidak akan pernah bermimpi tentang apa yang telah digagas tentang perlunya kita semua peduli pada perkembangan bumi hari ini, 36 tahun yang lalu.

Tepatnya, 2 April 1970 dia mengajak ribuan orang untuk berkumpul meluangkan waktu untuk menggugat kesadaran masyarakat. Terkhusus negara pada bumi yang semestinya kita jaga kelestariannya.

Hari ini 22 April, khususnya komunitas peduli lingkungan dengan berbagai jargon dan “bendera” masing- masing kembali melakukan refleksi hari bumi.

Berakhirnya perang dunia kedua dan masuknya masa perang dingin antara Kapitalisme dan Sosialisme Komunisme yang dipimpin oleh Uni Soviet kemudian diikuti oleh banyaknya Negara didunia ketiga.

Negara yang ramai- ramai memproklamasikan kemerdekaannya dipandang sangat berbahaya bagi Negara di Eropa barat dan Amerika.

Mereka dilanda ketakutan besar disebabkan sebagian besar Negara yang baru merdeka lebih tertarik untuk menggunakan paham Sosialisme untuk pembangunan negaranya.

KLIK INI:  TORA dan PS untuk Rakyat Sejahtera dan Hutan Lestari

Hal ini diperparah oleh ancaman kebangkrutan atas tingginya biaya perang yang harus ditanggung oleh Eropa dan Amerika.

Atas dasar inilah Amerika kemudian melakukan konsolidasi bersama Negara- Negara Eropa barat untuk tetap mempertahankan dominasi.

Bagi mereka dominasi kapitalisme sulit dipertahankan lewat jalur penjajahan secara fisik. Untuk maksud tersebut dihasilkanlah keputusan untuk tetap mendominasi namun lewat jalur non- fisik.

Keyakinan mereka untuk menerapkan paham kapitalisme didunia ketiga sangatlah besar.

Dengan berlandaskan pengalaman atas apa yang telah mereka raih. Lahirlah kemudian konsep modernisasi sebagai solusi dominasi mereka.

Kalau modernisasi di negara barat berhasil menelorkan konsep demokrasi maka di negara berkembang termasuk Indonesia yang dihasilkan adalah dominasi penguasa atas semua sumber daya termasuk alam.

Konsep ekonomi kapitalisme dengan janji pemerataan kekayaan dan kesejahteraan ekonomi dengan cara tetesan rejeki. Ternyata yang justru terjadi adalah pemerataan kemiskinan bagi rakyat didunia ketiga termasuk Indonesia.

Hal ini terbukti jumlah total penduduk AS dan Eropa Barat yang Cuma 17 % dari total penduduk dunia ternyata menguasai 75 % atau 2/3 dari seluruh kekayaan dunia.

Kalau kasus ini di Indonesiakan, juga tidak akan jauh berbeda. Maksudnya 140 juta total penduduk Indonesia yang berpenghasilan Rp 2.692/ hari sedangkan sekitar 10 orang konglomerat menguasai sekitar 50 triliun. (Eggi Sudjana , 1998).

Kemenangan Negara- Negara Eropa dalam perang dunia kedua yang nota bene penganut paham kapitalisme merupakan modal besar bagi pemaksaan konsep mereka untuk melanggengkan penjajahan mereka.

Kapitalisme: paham penghancur Bumi

Kegagalan kapitalisme di bidang lingkungan sebenarnya diakui secara tidak langsung oleh Negara-Negara dedengkot paham tersebut.

Ini dapat dilihat dari efek eksploitasi besar- besaran tanpa adanya upaya pelestarian yang telah mereka lakukan sejak era industrialisasi di negara masing- masing.

Dampaknya, terlihat pada bermunculannya berbagai macam masalah lingkungan seperti pencemaran air dan tanah, efek rumah kaca, polusi udara, kebakaran hutan dan berbagai macam masalah serupa.

Penjarahan alam yang over lapping dalam konsep ekonomi kapitalistik adalah sebuah hal yang dianggap biasa. Sebab semakin besar produksi yang dilakukan maka semakin besar kebutuhan akan bahan- bahan mentah.

KLIK INI:  Klik Ini, Pesan Siti Nurbaya Bagi Perempuan Pelestari Lingkungan

Meski pada akhirnya mereka juga berusaha untuk melakukan rehabilitasi dan perbaikan atas kerusakan alam dengan cara- cara yang jelas kapitalistik (tetap mengharapkan keuntungan), namun itu juga tidak menghasilkan apa- apa.

Mengingat sumber daya alam yang mereka kelola sebagian adalah sumber daya alam yang tak dapat diperbaharui.

Namun bagi mereka sekali lagi itu adalah hal yang biasa. Ketakutan akan kehancuran alam yang mereka diami rupanya menggelitik mereka untuk melemparkan semua masalah ini pada negara- negara yang baru berkembang.

Invasi industri barat sejak berakhirnya perang dunia kedua sebagai proyek pelanggengan dominasi untuk melakukan eksploitasi habis-habisan di negara- negara berkembang.

Maka dibuatlah “pintu” penjajahan gaya baru berupa IMF (1947), World Bank (1946), dan General Agreement tariff and trade/GATT (1947) sebagai lembaga yang akan mengendalikan ekonomi negara-neraga dunia ketiga yang pada saat itu baru meraba-raba konsep pengembangan ekonomi mereka.

Memasuki era pasar bebas yang juga merupakan salah satu proyek penjajahan gaya baru kapitalisme di awal milenium ini diwarnai dengan perlombaan para ilmuwan atas dorongan para pemegang modal.

Untuk terus membuat terobosan- terobosan baru dalam industrialisasi, demi percepatan produksi ternyata tidak mereka sadari juga semakin mempercepat kehancuran bumi.

Indonesia: kerusakan alam dan dosa orde baru

Jatuhnya kepemimpinan Soekarno dinilai oleh banyak kalangan baik di Indonesia maupun diluar negeri adalah masa awal dominasi AS dengan paham kapitalisme masuk untuk menjajah kembali negeri ini.

Negeri yang di masa Soekarno sangat mengharamkan pengaruh AS masuk ke Indonesia. Masa setelah Soekarno adalah masa pahit bagi bumi Indonesia dimana semua kontrak karya proyek eksploitasi alam termasuk tambang dari ujung barat sampai timur Indonesia ditanda tangani oleh pemerintah.

Inilah masa dimana rakyat merasa terasing di negeri sendiri. Banyak masyarakat diusir dari tanah yang sejak dulu mereka diami dengan cara- cara militeristik. Mereka dijajah oleh sesama pribumi.

Rupanya jebakan ekonomi yang dilakukan rezim kapitalisme dunia telah membutakan mata para pemimpin kita waktu itu.

Triliunan dolar yang menjadi utang pemerintah atas nama pembangunan tidak jelas diarahkan secara tepat. Kemudian dibebankan pada rakyat yang nyaris tidak merasakan dampaknya secara langsung.

Keberhasilan sebuah pembangunan di mata mereka dinilai dari banyaknya gedung pencakar langit yang berdiri kokoh. Gunung dengan hutan yang lebat yang dulu menjadi “gudang air” bagi rakyat di sekitar, kini telah menjadi sumber bencana.

Laut yang dulu menjadi sumber penghasilan dan sumber kehidupan rakyat di pesisir, kini menjadi tempat berkumpulnya limbah- limbah industri.

Sementara janji kesejahteraan untuk rakyat dari hasil bumi yang dikelola oleh Negara tidak diperuntukkan untuk kesejahteraan rakyat (baca: prioritas rakyat miskin).

KLIK INI:  Bumi Bulat atau Datar, Begini Penjelasan Sains dan Alquran

Yang ada hanyalah setumpuk masalah lingkungan yang dibebankan atau dituduhkan pada masyarakat sebagai justifikasi pemerintah.

Perselingkuhan kekuasaan dengan kapitalisme semakin menjadi godam yang menghantam rakyat di Indonesia sampai tertanam begitu dalam di lumpur penistaan atas bangsanya sendiri.

Keberpihakan pemerintah pada kapitalisme dunia yang telah melakukan pengrusakan terhadap alam kita sangatlah tidak beralasan.

Munculnya masalah- masalah lingkungan diseluruh wilayah di negeri kita bisa dijadikan barometer ketidakberhasilan pemerintah memanfaatkan sumber daya alam untuk kesejahteraan rakyat yang notabene adalah pewaris sah negeri kita.

Utang yang selalu dijadikan alasan bagi pemerintah lagi – lagi di luar logika rakyat kita. Sebab kalau kita mau menagih kerusakan– kerusakan ekologi yang disebabkan oleh mereka, tentulah jauh lebih besar utang mereka pada bangsa kita ini.

Coba kita pikir bersama, kerusakan yang ditimbulkan oleh tambang- tambang asing di negeri kita apakah ini setimpal? Saya rasa tidak.

Apa yang harus dilakukan?

Banyaknya perusahaan yang melakukan eksploitasi di bumi kita ini idealnya berdampak baik pada ekonomi penduduk.

Faktanya, yang terjadi justru sebaliknya. Rakyat dibuat semakin miskin ditambah lagi dengan perampasan tanah adat. Serta kerusakan alam menambah catatan dosa industri tambang dan indutri lainnya.

Hal ini kemudian yang mendorong kita untuk melakukan sebuah perumusan tentang apa yang semestinya dilakukan.

Upaya yang dapat dilakukan adalah antara lain menuntut pemutihan utang, menuntut jaminan bagi hasil yang seadil- adilnya terkhusus masyarakat di sekitar perusahaan.

Yang terakhir adalah menuntut agar perusahaan memelihara sumber kehidupan masyarakat setempat dalam hal ini tidak mencemari seperti sumber air, melakukan netralisasi/penyaringan limbah polusi sebelum dilepas ke alam.

Kelompok pencinta Lingkungan dan gerakan pencerdasan rakyat

Ide Soe Hok Gie dan kawan- kawannya waktu itu untuk membentuk sebuah organisasi yang pada akhirnya bernama Mapala UI sebagai organisasi Mapala tertua di Indonesia bukanlah tanpa alasan. Landasan berpikir mereka sangat ideologis.

Mereka beranggapan bahwa semestinya sebagai generasi muda kita harus lebih mengenal wilayah Negara kita termasuk alamnya. Sebab kecintaan yang tulus mustahil lahir tanpa terlebih dahulu mengenal objek yang akan kita cintai.

Ide Soe Hok Gie ini semestinya dijiwai oleh kawan-kawan entah itu dari Mapala, KPA atau kelompok- kelompok yang lain yang sama orientasinya.

KLIK INI:  Usung Tema “Melindungi Spesies Kita” Miliaran Orang Bergerak Selamatkan Bumi

Aktivitas- aktivitas kawan-kawan semestinya diwarnai dengan semangat tersebut. Kedekatan kawan- kawan pada alam lengkap dengan interaksi kita dengan penduduk di sekitar alam tersebut.

Ini adalah potensi besar bagi gerakan pencerdasan masyarakat untuk menjaga dan memelihara kelestarian alam di sekitarnya.

Mengingat hampir semua tambang berada di pedalaman-pedalaman Indonesia termasuk sebagian tambang yang memiliki wilayah konsesi dalam hutan lindung.

Potensi ini yang kurang bahkan nyaris tidak dimiliki oleh kelompok lain. Namun hal ini tidak bisa terwujud jika kita belum berbekal diri.

Semestinya kegiatan mendaki, panjat tebing, susur gua atau apapun bentuk kegiatannya bukan lagi menjadi sekedar pelampiasan hobi. Tetapi lebih dari itu menjadi sarana untuk melakukan edukatif interaction pada masyarakat setempat secara sistematis dan berkelanjutan.

Kalau ini dapat dijalankan oleh seluruh “pencinta alam”, pada akhirnya akan tercipta satu bumi tanpa penindasan, tanpa pemerasan. Selamat hari bumi! Selamat hari bumi!

KLIK INI:  Tentang Hari Bumi Sedunia dan Fakta Historis di Baliknya