Hari Bumi Dirayakan Secara Virtual di Tengah Pandemi Covid-19

Publish by -96 kali dilihat
Penulis: Zakiyatur Rosidah
Hari Bumi Dirayakan Secara Virtual di Tengah Pandemi Covid-19
Ilustrasi-Foto/livegreen2go

Klikhijau.com – Hari Bumi dirayakan secara virtual di seluruh dunia hari ini, Rabu, 22 April 2020. Momen ini melibatkan pemimpin dunia, musisi, aktor, hingga aktivis yang bergabung secara virtual di tengah pandemi covid-19.

“Kita menemukan diri kita sendiri hari ini di dunia yang menghadapi ancaman global membutuhkan respons kompak global. Untuk Hari Bumi 2020, kami akan membangun sebuah generasi baru aktivis-aktivis lingkungan. Melibatkan jutaan masyarakat seluruh dunia,” ungkap Kathleen Rogers, Earth Day Network President di laman resmi earthday.org.

Hari bumi dirayakan secara virtual tahun ini selama 24 jam nonstop diisi dengan pesan-pesan, pertunjukkan, imbauan dan ajakan kuat untuk beraksi mengatasi krisis iklim di laman resmi Earth Day Network dan media sosial Twitter.

Berbagai komunitas global  memperlihatkan antusiasmenya dalam perayaan ini. Mereka dapat mencurahkan pesan dan menunjukkan komitmen mereka terhadap planet bumi.

“Terlepas dari keberhasilan luar biasa dan puluhan tahun kemajuan lingkungan, kita mendapati diri kita menghadapi tantangan lingkungan global yang bahkan lebih mengerikan, hampir eksistensial. Dari hilangnya keanekaragaman hayati hingga perubahan iklim hingga polusi plastik, yang membutuhkan aksi di semua tingkat pemerintahan,” kata Denis Hayes, Ketua Dewan Jaringan Hari Bumi Emeritus dan penyelenggara Hari Bumi pertama pada 1970 silam.

KLIK INI:  Balai Gakkum Kalimantan Ringkus Pedagang Burung Dilindungi di Katingan
Tunjukkan aksi baikmu

Hari Bumi pertama diperingati pada 22 April 1970 dengan memobilisasi jutaan warga Amerika Serikat (AS) untuk melindungi  bumi.

Saat itu sekitar 20 juta orang Amerika atau sekitar 10 persen dari populasi AS turun ke jalan. Pihak kampus dan ratusan kota ikut memprotes pengabaian lingkungan dan menuntut langkah maju baru bagi bumi.

Perayaan Hari Bumi saat itu menjadi tonggak berlakunya undang-undang lingkungan hidup di Amerika Serikat. Termasuk air bersih, udara bersih, dan penyelamatan keanekaragaman hayati terancam punah. Banyak negara segera mengadopsi undang-undang serupa.

Tanggal 22 April 2016, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) juga memilih Hari Bumi sebagai hari penandatanganan Kesepakatan Paris (Paris Agreement) guna mengatasi pemanasan global yang menyebabkan krisis iklim.

Sekitar 50 anak muda dari 16 negara di Asia Selatan dan Asia Tenggara, yakni Afghanistan, Bhutan, Bangladesh, Kamboja, Maldives, India, Indonesia, Malaysia, Laos, Myanmar, Nepal, Thailand, Pakistan, Filipina, Vietnam, dan Timor-Leste menunjukkan apa yang telah mereka lakukan untuk lingkungan.

Beberapa yang terpenting untuk digalakkan adalah melindungi keanekaragaman hayati. Juga membantu manajemen sampah, menaikkan tutupan hijau, bergerak untuk zero waste, melindungi dan tak mengeksploitasi Sumber Daya Alam.

KLIK INI:  Kondisi Jembatan Kembar Sungguminasa Kabupaten Gowa
Editor: Anis Kurniawan

KLIK Pilihan!