Hari Anak Nasional, Penting Mengajak Anak Cinta Lingkungan Sejak Dini

Publish by -90 kali dilihat
Penulis: Anis Kurniawan
Hari Anak Nasional, Penting Mengajak Anak Cinta Lingkungan Sejak Dini
Kegiatan Forum Anak Makassar (FAM) yang mengajak anak-anak mengenal dan menanam pohon sejak dini - Foto/IG; FAM

Klikhijau.com – Hari Anak Nasional (HAN) diperingati setiap tanggal 23  Juli. Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, perayaan kali ini bersamaan dengan pandemi Covid-19. Tetapi, pesannya tetap sama yakni komitmen melindungi anak agar dapat tumbuh maksimal.

Hari anak juga penting dilihat dalam kacamata keberlanjutan bumi. Seperti dibahas Klikhijau sebelumnya, perubahan iklim dan ragam bencana ekologis lainnya ternyata berdampak pada masa depan anak.

Generasi saat ini telah mewariskan sejumlah masalah serius seperti bahaya sampah yang semakin parah, pencemaran lingkungan, pembalakan liar, eksploitasi satwa dan banyak lagi.

Dampaknya sudah mulai terasa saat ini diantaranya yang paling mencemaskan adalah kemunculan penyakit zoonosis, banjir hingga naiknya suhu bumi.

Oleh sebab itu, kesadaran kolektif harus dimulai yakni dengan mengubah paradigma dalam mengelola sumber daya, termasuk dalam menjalankan aktivitas keseharian. Di sinilah, korelasi antara isu keberlanjutan dan bagaimana edukasi lingkungan dibangun pada anak sejak dini.

KLIK INI:  Berbagi Rasa Merdeka Bersama Anak-Anak di Pesisir Pantai Tamo

Anak-anak saat ini harus lebih baik dari generasi sebelumnya. Mereka harus memiliki minset menjaga kelestarian lingkungan agar seluruh aktivitas maupun cara mereka mengambil keputusan di kemudian hari tak merusak lingkungan.

Pertanyaannya, apakah pendidikan lingkungan pada anak sudah berjalan? Di negara-negara maju dengan tingkat kedisiplinan tinggi seperti di Jepang mungkin saja, iya. Di Indonesia, pendidikan lingkungan pada anak masih jadi pekerjaan rumah.

Di ruang formal (sekolah), anak-anak memang intens diedukasi agar peduli pada lingkungan. Tapi, begitu keluar dari sekolah, mereka akan bertemu kenyataan berbeda. Karenanya, rumah adalah ruang edukasi perdana yang harus diciptakan, lingkungan kondusif di luarnya mengikut setelahnya.

Keteladanan dari rumah

Model pendidikan lingkungan secara formal rupanya belum menjadi suatu budaya. Masalahnya, anak-anak kita tidak semuanya terlahir dari keluarga yang sudah menerapkan gaya hidup ramah lingkungan.

KLIK INI:  4 Fakta Unik Seputar Gerhana Matahari 26 Desember 2019

Faktanya, pendidikan lingkungan harus dimulai dari rumah. Keteladanan pada hal-hal kecil misalnya bagaimana memperlakukan sampah, budaya menanam pohon dan lainnya sejatinya telah bertumbuh sejak di rumah. Orang tua tentu punya tanggungjawab akan hal ini.

Budhi Hermanto, aktivis anak mengatakan, anak-anak harus dilibatkan sejak dini melalui pendidikan lingkungan. Budi mencontohkan, anak-anak kita harus tahu dan paham mengapa kita harus menjaga hutan.

“Orang tua bisa mendidik anaknya dalam bentuk sederhana misalnya dengan mengajak menanam pohon,” kata Budi.

Di situ ada andil besar orang tua dan pendidikan informal di rumah. “Anak-anakku, jaga hutan dan lingkungan kita,” pesan Budi melalui Klikhijau, Kamis 23 Juli 2020.

KLIK INI:  Eco Fiesta, Even Kreatif Kampanye Sadar Lingkungan bagi Murid-Murid SD
Ruang ramah anak

Hal serupa dituturkan Dermawan Denassa, Founder Rumah Hijau Denassa, orang tua harus menjadi teladan bagi anak-anaknya dalam kepedulian terhadap lingkungan.

“Orang dewasa jangan lagi menjadi penyebab perilaku yang bisa menyebabkan bencana. Anak-anak tetap menjadi bagian warga paling rentan menjadi korban ketika bencana terjadi. Korban terbesar adalah trauma, menjadi pengungsi atau kehilangan orang terkasih,” kata Denassa sapaan akrabnya.

Lebih lanjut, Denassa menegaskan perlunya komitmen bersama untuk melindungi hak anak. Anak berhak punya ruang yang nyaman dan aman, makanan sehat dan bergizi juga akses pangan yang beragam.

“Mari saling peduli untuk menjadikan semua bagian dalam negeri kita layak bagi anak-anak kita. Selamat Hari Anak Nasional 2020!” tutur Denassa.

KLIK INI:  Dari Rumah, Murid SDN Borong Tetap Gelorakan Semangat Adiwiyata

Alifiah Nurul Qalbi (17) dari Forum Anak Makassar (FAM) juga mengakui betapa pentingnya pendidikan lingkungan bagi anak. Keluarga dan lingkungan sangat berperan penting, kata Alifiah.

“Pembentukan karakter anak dimulai dari pendidikan keluarga. Namun, lingkungan tempat anak bergaul juga sangat penting.  Saya secara pribadi banyak belajar dari teman yang memang terlahir dari keluarga yang misalnya punya jiwa sosial dan kepedulian,” cerita Alifiah.

Menurut anak yang baru tamat SMK ini, anak-anak Indonesia harus memiliki kepedulian lingkungan sejak dini. “Anak-anak harus terus menjaga dan melestarikan lingkungan hingga ia dewasa nanti. Itu bisa dilakukan jika dibiasakan sejak usia dini,” katanya.

Di komunitas FAM misalnya beragam aktivitas dilakukan untuk peduli pada lingkungan. Diantaranya ada program PETUAH (Peduli Tumbuhan dan Anak-Anak). “Program itu mengajak anak-anak menanam dan menggambar tumbuhan sambil bermain,” cerita Alifiah.

KLIK INI:  Kabar Mengejutkan dari Manohara, Ia Menemukan Bra di Pantai

Editor: Anis Kurniawan

KLIK Pilihan!