Harga Kopi Bisa Melangit karena Perubahan Iklim

oleh -13 kali dilihat
Kopi dan Manifestasi Rasa Pahit yang Tertinggal
Ilustrasi minum kopi - Foto/Ist

Klikhijau.com – Perubahan iklim bisa mengubah banyak hal. Termasuk harga segelas kopi. Apabila  lapisan es kutub  mencair dan hutan amazon di Brasil menggundul, maka hal itu bisa terjadi dan dampak perubahan iklim akan semakin nyata.

Jika dua hal di atas benar-benar terjadi (es kutub mencair dan hutan amazon gundul) bisa dipastikan banyak penikmat kopi akan merasakan dampaknya, karena harga secangkir kopi bisa saja melonjak. Itu disebabkan oleh harga biji kopi yang akan melangit.

Masalah utama harga kopi akan tinggi berpangkal di Brasil. Sebagai penghasil kopi terbesar di dunia,  saat ini Brasil mulai merasakan dampak perubahan iklim denga terjangan cuaca dingin. Temperatur dingin itu menyebabkan kelembapan yang tinggi sehingga menyebabkan kekeringan.

Hal itu diperparah pula dengan serangan pandemi Covid-19 yang membuat rantai pasok terusik.  Saat ini saja, harga kopi telah mencapai $4,44 per kilogram.

KLIK INI:  IPCC Soroti Perubahan Iklim dan Tanah Bagi Kelangsungan Hidup Manusia

Itu merupakan harga tertingga, kemungkinan besar harga tinggi tersebut dipicu oleh serangan cuaca dingin pada bulan Juli lalu yang menyebabkan bagian utama penghasil kopi arabika di Brasil rusak sepertiga dari tanaman kopi mereka.

Masalah lain adalah salju yang sering terjadi di musim panas. Namun tahun ini, petani kopi di sebagian negara bagian Minas Gerais dikejutkan oleh parahnya suhu beku. Hal itu dipicu oleh suhu ekstrim yang terjadi akibat perubahan  di kutub selatan atau antartika yang belum pernah terjadi sebelumnya.

KLIK INI:  Cara Simpel Menurunkan Gas Rumah Kaca dari Rumah
Mendorong cuaca ekstrim

Perubahan iklim tampaknya telah mendorong cuaca ekstrim di Brasil dan bahkan di seluruh dunia. Petani kopi khawatir, negara asal Neymar itu tidak akan pernah kembali ke musim normalnya.

Negara pengoleksi gelar piala dunia terbanyak  itu telah diganggu oleh serangkaian  kekeringan. Brasil tidak lagi memiliki musim hujan yang khas seperti dulu. Dalam satu dekade terakhir iklim Brasil telah berubah.

Andre Selga, salah seorang pedagang kopi di Brasil seperti dilansir dari The Guardian mengatakan bahwa fenomena tersebut belumm pernah dilihat  dan dialami oleh sebagian besar petani.

“Es di daerah itu normal, tetapi tidak pada intensitas itu dan tidak pada ketinggian itu. Saya pernah mendengar tentang petani yang kehilangan segalanya. Semua tanaman. Mereka sedang menunggu sekarang untuk melihat apakah beberapa dari mereka dapat pulih. Mereka telah kehilangan seluruh mata pencahariannya,” ujarnya.

Selga juga mengungkapkan bahwa harga impor dari biji kopi miliknya telah naik hingga 60 persen. Namun, ia akui jauh lebih khawatir dengan perubahan iklim daripada kenaikkan harga kopi.

“Ini lebih besar dari ongkos angkut, penyebabnya sangat  terstruktural,” katanya.

Ia menambahkan bahwa perubahan iklim beberapa tahun yang lalu hanyalah sesuatu yang   didiskusikan oleh para petinggi dan  politisi, tapi saat ini dampaknya telah menyentuh level yang lebih bawah, yakni  masyarakat biasa, yang harus berurusan pula dengan perubahan iklim.

KLIK INI:  Menteri Siti: Gerakan Pramuka Bisa Jadi Penggerak Perbaikan Lingkungan
Bagaimana di Indonesia

Perubahan iklim tidak hanya menyerang satu negara saja, tapi hampir semua negara. Indonesia termasuk di dalamnya.

Di Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan, misalnya. Tahun ini petani kopi tidak mendapat hasil panen yang memuaskan karena buah kopi tidak sebanyak sebelum-sebelumnya. Bahkan banyak kopi yang tidak berbuah.

Penyebabnya karena kemarau datang dengan intensitas kurang memadai. Dan tahun ini, kisah tersebut bisa saja terulang. Penyebabnya sama dengan tahun lalu, hujan lebih banyak daripada kemarau.

Beberapa tahun terakhir, cuaca memang tak lagi menentu, terkadang sudah memasuki musim kemarau tapi hujan masih curah atau saat seharusnya musim hujan, justru yang datang adalah terik matahari.

KLIK INI:  Kabar Baik, Pabrik Penangkap CO2 di Udara Telah Lahir