Hanjuang, Tanaman Ritual yang Jadi Pembatas Kebun

Publish by -1.706 kali dilihat
Penulis: Idris Makkatutu
Hanjuang, Tanaman Ritual yang Jadi Pembatas Kebun
Tanaman hanjuang/foto-Idris

Klikhijau.com – Hanjuang atau Cordyline fruticosa merupakan tanamn yang menarik. Warna daunnya yang ungu kemerah-merahan  bercampur hijau jadi kombinasi yang cantik.

Tanaman ini biasanya dijadikan tanaman hias, yang menjadi ‘bunganya’ adalah daunnya  sendiri. Di kampung saya, Kindang. Tanaman ini lebih banyak dimanfaatkan masyarakat untuk menandai batas kebunnya. Warga menamainya siri merah.

Dipilihnya tanaman hanjuang karena tidak merambat ke mana-mana. Pun batangnya tidak tumbuh besar seperti kayu pada umumnya. Ia  memiliki bentuk tegak, jarang bercabang, dengan kisaran tinggi 2-4 meter saja.

Sebagai pembatas kebun atau sawah. Warna daunnya sangat membantu, sebab dari jauh  kita sudah mengetahui batas kebun satu warga dengan warga yang lainnya.

KLIK INI:  Wow, Bunga Sakura Mekar di Karanganyar

Bukan hanya di kampung saya, waktu berkunjung ke kampung Senggaang, Bulukumba. Saya juga temukan banyak tanaman hanjuang yang dijadikan pembatas kebun oleh warga setempat.

Tanaman ini memiliki daun berbentuk lanset lebar memiliki variasi warna merah tua, merah kecoklatan atau hijau.

Ujung daunnya berbentuk runcing, pangkalnya runcing, tepinya berombak, susunan tulangnya menyirip, dagingnya seperti kertas,  dan batang arah pertumbuhannya secara monopodial.

Warna ungu kemerah-merahan disebabkan karena warna yang diserap dari cahaya matahari untuk fotosintesis, yaitu warna merah dan biru atau ungu. Hal ini karena warna lain dari cahaya matahari di refleksikan atau diserap lalu direfleksikan.

Warna ungu dapat diserap oleh tanaman karena nilai intensitasnya lebih rendah dari warna lainnya, yaitu 10−14 . Warna biru yang memiliki nilai intensitas 10−12 akan menginduksi pertumbuhan daun dan warna merah yang  memiliki nilai intensitas 104 dikombinasikan dengan warna biru akan merangsang perbungaan, (Imam Safir Alwan Nurza, 2019).

KLIK INI:  Kayu Merah yang Terancam Punah, Ini 6 Fakta Menarik di Baliknya!
Tanaman makam

Sedangkan akar tanaman ini memiliki akar serabut karena akar sekundernya lebih banyak bercabang. Hal ini disebabkan akar primernya telah hilang dan digantikan dengan akar sekunder.

Tanaman ini memiliki bagian kuncup apikal yang akan terus tumbuh. Kuncup yang terus tumbuh dapat menyebabkan bagian kuncup lateral mengalami dormansi. Bila kuncup apikal di potong maka kuncup lateral akan hilang masa dormansinya dan mengakibatkan arah perumbuhannya menjadi simpodial

Hanjuang tidak hanya dijadikan sebagai tanaman pembatas kebun dan tanaman hias di pekerangan rumah. Namuni dulu, menurut Abdul Rahman (70) hanjuang dijadikan sebagai tanaman pada kuburan atau makam.

Tanaman ini seolah wajib ada di kuburan sebagai penanda. “Dulu dijadikan sebagai tanaman pada kuburan. Entah apa maksudnya?” ujar Abdul Rahman, 12 November 2020.

Tanaman ritual

Rahman akui bahwa di kebunnya, ia juga menanam hanjuang sebagai pembatas. Selain pembatas kebun dan tanaman makam. Hanjuang juga biasanya dipakai dalam ritual—khususnya saat ada pesta perkawanian.

Biasanya mempelai pria atau wanita sebelum masuk ke rumah mempelai pasangannya akan disediakan air dalam satu wadah. Salah satu isi air itu adalah tanaman hanjuang.

Sekali lagi di kampung saya, Kindang, Bulukumba, nama tanaman ini adalah siri, yang bisa diartikan sebagai tanaman siri’ sehingga dengan menggunakannya diharapkan mempelai pria dan wanita memiliki nilai siri’—sebagai budaya bugis Makassar saat mengarungi bahtera rumah tangganya.

Khusus sebagai tanaman makam, hanjuang kini tidak lagi wajib menghuni makam jika ada yang meninggal dunia. Tanaman dengan warna menawan ini lebih banyak difungsikan sebagai tanaman penanda batas kebuh dan ritual saja, khususnya saat ada pesta pernikahan.

Bukan hanya masyarakat Kindang yang menjadikan tanaman ini sebagai tanaman ritual. Namun, bagi masyarakat Sunda, hanjuang adalah tanaman yang dianggap istimewa, bukan saja dianggap sebagai tanaman hias dan obat, tetapi juga sebagai sawen tulak bala.

Sawen tulak bala adalah cara tradisional yang dipercaya oleh masyarakat Sunda untuk menolak berbagai gangguan kekuatan gaib dan wabah penyakit. Inti dari sawen tulak bala adalah jenis tumbuhan tertentu yang dianggap mengandung kekuatan magis, dalam hal ini tanaman hanjuang yang diikat dan diberi ritual doa lalu diletakkan pada tempat tertentu, baik di dalam maupun di luar rumah agar terhindar dari bencana untuk mendapatkan keselamatan, (Ani Rostiyati, 2020)

Sementara itu, di Bali tanaman ini juga digunakan untuk keperluan upacara munar lembur. Satu batang tanaman ini—yang masih berdaun akan  dipotong. Pada saatnya nanti, batang tersebut akan ditancapkan ke tanah agar kelak tumbuh berakar. Dalam upacara munar lembur, hanjuang memiliki makna sebagai batas juga sebagai simbol bahwa manusia harus senantiasa berjuang dalam berbagai aspek kehidupan (Yudi Putu Satriadi Ria Andayani Somantri, 2016)

Begitulah sahabat hijau sekilas tentang tanaman hanjuang. Semoga bermanfaat!

KLIK INI:  Pohon Kamboja, Berbunga Menawan dan 7 Fakta Menarik di Baliknya
Editor: Idris Makkatutu

KLIK Pilihan!