Gurita Sampah di Laut, Penyelam Berpotensi Menyelam Sambil Minum Sampah?

oleh -45 kali dilihat
Gurita Sampah di Laut, Penyelam Berpotensi Menyelam Sambil Minum Sampah
an) Swietenia Puspa Lestari, Founder Divers Clean Action, Dr Rita Ramayulis, DCN, M.Kes, Nutrisionis, M. Reza Cordova Ph.D, peneliti Pusat Riset Oseanografi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Febrian, Influencer & Travel Blogger dan Marischka Prudence, Influencer & Travel Blogger dalam Talkshow dengan “Sambil Menyelam Minum Sampah?” di Pameran Deep and Extreme 2022, Hall A Jakarta Convention Center (JCC) pada tanggal 4 September 2022 - Foto: Ist

Klikhijau.com – Indonesia sudah dikenal dunia sebagai salah satu destinasi wisata bahari yang paling banyak diminati oleh wisatawan mancanegara.

Kekayaan laut inilah yang menarik minat para penggiat wisata bahari, khususnya para penyelam untuk datang ke Indonesia dan menjelajahi alam bawah laut Indonesia.

Sayangnya, seiring semakin banyaknya aktivitas manusia baik di darat maupun di laut sangat berpengaruh kepada kelestarian laut. Maka dari itu, Divers Clean Action (DCA) menghadirkan Talkshow dengan judul “Sambil Menyelam Minum Sampah”.

Kegiatan ini digelar padaPameran Deep and Extreme 2022, Hall A Jakarta Convention Center (JCC) pada tanggal 4 September 2022. Ini adalah bentuk edukasi kepada masyarakat, khususnya para penyelam, terkait ancaman mikroplastik terhadap lingkungan, aktivitas penyelaman serta dampaknya bagi kesehatan masyarakat di panggung utama pameran Deep and Extreme 2022.

KLIK INI:  Tafsir Budaya “Rewako Gowa”, Kearifan Lokal dan Masa Depan  

Reza Cordova, peneliti Pusat Riset Oseanografi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memaparkan hasil penelitian lapangan dari program MicroSEAP, program kolaborasi antara BRIN, DCA dan Burung Indonesia dengan University of Portsmouth UK.

Ancaman mikroplastik

MicroSEAP adalah sebuah program riset kolaborasi untuk mendapatkan data terkait bagaimana mikroplastik memberikan dampak pada perairan, biota laut, serta memberikan rekomendasi terkait kebijakan di Indonesia dalam sudut pandang regional ASEAN.

Menurut Reza Cordova, hasil riset Science Advances pada tahun 2021 menemukan bahwa saat ini Indonesia menduduki peringkat kelima, dari sebelumnya peringkat kedua, penyumbang sampah ke lautan dunia.

Diperkirakan, lebih dari 500.000 ton sampah bocor ke laut setiap tahunnya. Namun, tingkat mikroplastik yang ditemukan baik di air, sedimen, dan biota laut semakin meningkat.

KLIK INI:  Mikroplastik dalam Feses Bayi Jauh Lebih Banyak dari Feses Orang Dewasa

“Contohnya, pada sampel kerang hijau di Jakarta, telah meningkat dari 70% mengandung mikroplastik sekarang sudah 100%. Selain itu tidak hanya di air, namun juga di udara Jakarta, mikroplastik sudah ditemukan,” katanya.

Dari sudut pandang kesehatan, plastik ternyata memiliki dampak buruk untuk tubuh manusia.

Nutrisionis Dr. Rita Ramayulis, DCN, Mkes mengatakan mikroplastik bisa masuk ke tubuh manusia melalui saluran pencernaan dan pernafasan.

Jika mikroplastik sudah masuk ke dalam tubuh, cara menurunkan efek dan risiko seperti menjadi penyebab kanker dan gangguan organ reproduksi, dan atau penyakit lainnya adalah kita dapat meningkatkan barrier tubuh kita agar dapat mengeluarkan mikroplastik yakni: meningkatkan kesehatan pencernaan, meningkatkan fungsi sel-sel imunitas, dan meningkatkan pengeluaran cairan melalui urin dan keringat.

Aktivitas manusia, termasuk kegiatan pariwisata berpotensi menghasilkan sampah dan tentu saja bisa berdampak buruk bagi kebersihan dan kelestarian lingkungan dan dirasakan pula oleh para penikmat wisata selam, diving influencer dan travel blogger.

KLIK INI:  Seiring Perubahan Iklim, Pencurian Air oleh Korporasi Besar Merajalela

Perkuat kebijakan

Karenanya, Marischka Prudence mengajak para Influencer untuk mengurangi dan menanggulangi sampah melalui konten yang menarik, namun aksi bersih-bersih saja memang tidak cukup.

Hal ini harus dibarengi dengan dukungan pemerintah melalui kebijakan dan implementasi yang tegas.

Hal senada dikatakan Febrian yang memiliki pengalaman berkeliling Indonesia dan mengamati bahwa memang peraturan terkait sampah belum merata dan belum tersosialisasi dengan baik.

Akibatnya kampanye tidak dapat maksimal dilakukan untuk mendorong perubahan perilaku baik wisatawan dan penduduk lokal.

“Sehingga ketika mengedepankan peraturan merata dan perubahan perilaku yang baik dari seluruh lapisan masyarakat, kita tidak lagi menyelam sambil minum sampah,” kata Febrian.

Oleh sebab itu, pelestarian lokasi wisata untuk mencegah dampak buruk sampah ke lingkungan dan kesehatan manusia harus dilakukan setiap penyedia jasa wisata, penikmat wisata bahari, dan seluruh masyarakat Indonesia.

Jadi, mari kita mengurangi dan memilah sampah dari rumah dan saat berwisata agar di masa yang akan datang kita tidak akan semakin banyak menelan sampah plastik ke tubuh kita secara tidak sengaja saat menyelam.

KLIK INI:  Sapardi Djoko Damono, Hujan, dan Mikroplastik