GLI Siapkan Generasi Pemimpin Berwawasan Lingkungan

oleh -20 kali dilihat
Antisipasi Karhutla, Menteri Siti Ajak Penyuluh Kehutanan Kerjasama Masyarakat
Menteri LHK, Siti Nurbaya - Foto/Ist

Klikhijau.com – Green Leadership Indonesia (GLI) bertujuan untuk menjaring calon pemimpin. Calon yang ingin dijaring adalah yang berasal dari beragam latar belakang. Tujuannya agar semua segmen dalam masyarakat memiliki calon pemimpin yang punya prespektif green dan keberpihakan nyata bagi penyelamatan dan pelestarian lingkungan hidup.

Program (GLI) ini diinisiasi oleh Institut Hijau Indonesia, serta didukung oleh Walhi, KNTI dan HUMA. Program ini akan memfasilitasi anak muda sebagai generasi penerus bangsa agar memiliki perspektif keadilan sosial dan lingkungan hidup dan keberpihakan kepada lingkungan hidup.

Untuk mewujudkan “mimpinya” itu, program ini kembali menggelar  Pelatihan dan Pendidikan kepada 350 pemuda dari berbagai regional dalam tajuk “Green Leadership Indonesia (GLI) angkatan ke-2” secara virtual.

Pelatihan dan pendidikan itu sendiri diresmikan oleh Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK), Prof. Siti Nurbaya secara virtual, Sabtu (17/9/2022).

KLIK INI:  25 Komoditas Pertanian dan Rempah Indonesia Diekspor ke Mancanegara

Para peserta didik akan ditemani oleh para leaders, akademisi, praktisi, dan aktivis yang memiliki rekam jejak panjang dalam bidang masing-masing.

Sebelumnya, GLI angkatan 1 yang lalu telah menelurkan sebanyak 118 leaders dari berbagai daerah di Indonesia. Menteri LHK, Siti sendiri telah mewisuda mereka pada bulan Desember tahun 2021

Peserta meningkat

Kini, terdapat peningkatan jumlah siswa menjadi 350 peserta yang terbagi dalam 9 regional yang menjadikan program pelatihan dan pendidikan lebih merata.

Siti dalam sambutannya mengungkapkan kegembiraan dan apresiasinya kepada GLI  dan seluruh generasi muda Indonesia yang aktif dalam mengatasi masalah-masalah lingkungan dan sumber daya alam yang cukup krusial saat ini.

Menurut Siti, keadilan merupakan kata kunci yang harus diwujudkan dalam setiap aspek. Termasuk dalam pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan serta dalam pembangunan secara umum, yaitu adil secara sosial dan adil secara ekologis.

KLIK INI:  Sambut HPSN 2020, Paguyuban Bank Sampah DIY Gelar Pelatihan Daur Ulang Sampah Massal

“Seperti cita-cita negara Indonesia ketika didirikan, yaitu untuk bersatu, berdaulat, adil dan makmur. Itulah yang akan kita wujudkan bersama dan ditempuh melalui pencapaian tujuan negara seperti tercantum dalam Pembukaan UUD 1945, yakni melindungi segenap tumpah darah Indonesia, memajukan kesjehateraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut melaksanakan ketertiban dunia berdasrakan perdamaian dan keadilan,” ucap Siti kepada peserta GLI Batch 2.

Siti mengharapkan, para peserta dapat menimba ilmu, teoritik dan empirik. Dengan demikian, dirinya meyakini bahwa akan hadir generasi muda Indonesia yang tangguh dan syarat pengetahuan pada dirinya dalam ikut mengelola negara ini.

GLI angkatan 2 ini akan menyiapkan generasi pemimpin dengan wawasan lingkungan, yang sangat dibutuhkan untuk pengelolaan sumber daya alam Indonesia yang begitu luas dan kaya.

“Sumber daya alam ini harus dikelola secara sustainable dan harus mampu menyediakan lingkungan yang baik bagi rakyatnya sebagaimana pesan UUD 1945 Pasal 33 dan Pasal 28 H.  Di sinilah modal bagi saudara-saudara dalam aktualisasi penyelenggaraan negara atau governance yang mencakup kenegaraan, pemerintahan dan kemasyarakatan,” terang  Siti.

Siti mengingatkan kepada seluruh peserta GLI batch 2 ini, untuk menjadi seorang calon pemimpin yang memiliki perspektif keadilan sosial dan ekologis, wajib memegang teguh tiga prinsip dasar yaitu adil, jujur dan beradab. “

“Ukurannya sederhana, pegang teguh nilai-nilai universal termasuk nilai-nilai dalam budaya, agama, pengetahuan, teknologi dan nilai umum lainnya,” tuturnya.

KLIK INI:  Rembuk Komunitas MTS, Upaya Kolaborasi Penanggulangan Sampah di Kota Makassar
7 prinsip public life dan internalisasi

Lebih rinci, Siti menjelaskan dalam konsep kerja bersama ada kepentingan publik, maka terdapat beberapa hal  menjadi  acuan  yang harus dapat dipahami, yaitu prinsip-prinsip public life dan internalisasi, yakni:

  1. Tidak berpikir untuk sendiri (selflessness), kepentingan publik dan tidak berbuat dalam rangka memperoleh keuntungan material untuk dirinya sendiri, keluarga atau teman-temannya.
  2. Integritas (integrity), tidak terikat pada ikatan diluar  kantor  dalam bentuk ikatan finansial maupun  kewajiban lainnya yang  dapat mempengaruhi didalam menjalankan kewajibannya
  3. Obyektif (objectivity) dalam melaksanakan urusan publik termasuk dalam hal perjanjian publik, kontrak kerja dengan berbagai pihak serta dalam merekomendasikan  untuk penghargaan dan hukuman harus berdasarkan sistem merit
  4. Accountability, akuntabel dalam keputusannya serta langkah-langkah di lapangan dan kesiapan dalam menerima pendalaman, pemeriksaan ataupun gugatan public.
  5. Openness,  terbuka sedapat-dapatnya tentang semua keputusan-keputusan dan langkah-langkah yang diambil beserta alasan-alasannya dalam memutuskan. Menjaga informasi hanya dalam situasi dimana masyarakat luas menghendaki dengan permintaan dan pertimbangan yang jelas.
  6. Honesty, kejujuran, dimana  pegawai harus jujur menyampaikan kepentingannya terkait dengan kewajiban publik dan dalam mengambil langkah penyelesaian konflik dengan selalu melindungi kepentingan publik; dan
  7. Leadership, perlunya kepemimpinan untuk selalu mendorong keenam prinsip tersebut dengan contoh-contoh keteladanan.

Mengakhiri sambutannya, Siti memberikan apresiasi pada peserta pendidikan GLI angkatan ke-2 ini.

Menurutnya, cara belajar seperti ini adalah bagian penting dalam pengembangan diri, mulai dari meluaskan wawasan, membuka dan meluaskan jaringan. Kegiatan seperti ini juga dapat meningkatkan kemampuan personal dalam berkomunikasi dan menyampaikan pandangan yang akan berdampak besar pada diri peserta di kemudian hari.(*)

KLIK INI:  Pembangkit Listrik Tenaga Surya Terbesar Sulsel Resmi Beroperasi di Selayar