Fakta Miris Kebakaran Hutan di Seluruh Dunia Tahun 2019

Publish by -14 kali dilihat
Penulis: Redaksi
Fakta Miris Kebakaran Hutan di Seluruh Dunia Tahun 2019
Kebakaran hutan terjadi hampir di seluruh dunia taun 2019 ini/foto-Ist

Tahun 2019 diiringi dengan fakta miris dari kebakaran hutan di seluruh dunia

Klikhijau.com – Berakhirnya tahun 2019 ini, tak mengakhiri banyak kisah di dalamnya. Kisah itu tidak hanya merangkum yang manis saja, tapi juga terdapat kisah miris di baliknya.

Kisah miris itu datang dari berbagai ranah,termasuk datang dari hutan yang terbakar di seluruh dunia. Kebakaran yang tak hanya menyebabkan asap, tapi juga menyebabkan tumbuhan hingga satwa terancam hilang.

Berikut ini, adalah kisah miris dari kebakaran hutan yang dimaksud:

  • Dunia Koala nyaris berakhir

Koala dianggap rentan terhadap kepunahan, dan kebakaran hutan tahun ini membuat masa depan hewan yang lambat dan tak berdaya ini semakin terancam.

KLIK INI:  Orang Utan, Idola Wisatawan Mancanegara di Taman Nasional Tanjung Puting

Kebakaran yang terjadi di Australia, yang disebabkan oleh kekeringan, suhu panas dan angin kering. Membuat lebih dari satu juta hektar hutan dan lahan terbakar.

Kebakaran itu menyebabkan empat orang tewas dan 1.000 koala tewas.

  • Api juga berkobar di Arktik

Tahun ini, kebakaran juga terjadi di dalam lingkaran Kutub Utara. Di Siberia, ratusan kebakaran selama tiga bulan menghancurkan lebih dari 4 juta hektar hutan.

Kebakaran tersebut menciptakan awan jelaga dan abu di seluruh UE, sehingga militer Rusia harus dikerahkan.

Tercatat ada 400 kasus kebakaran juga melanda Alaska. Greenland dan Kanada pun tidak luput dari kobaran api.

  • Neraka di hutan California

Percikan api dari infrastruktur lama yang dikipasi angin panas dan kering diduga menjadi penyebab kebakaran hutan yang melanda negara bagian California, AS.

Karena kondisi kering di wilayah tersebut langsung berubah cepat menjadi neraka.

KLIK INI:  Populasi Meningkat, Konservasi Satwa Liar Prioritas di Indonesia Libatkan Masyarakat

Kebakaran hebat ini menghancurkan rumah dan tanah, menewaskan tiga orang, memaksa puluhan ribu warga mengungsi dan hampir satu juta orang terpaksa hidup tanpa listrik.

  • Lahan basah tropis terbakar kering

Kebakaran juga bahkan melanda ekosistem lahan basah air tawar terbesar di dunia, Pantanal.

Pantanal sebagian besar terletak di Brasil tetapi meluas hingga ke Bolivia dan Paraguay.

Lebih dari 8.000 kasus kebakaran terjadi di sana, membuat sekitar 1,2 juta hektar hutan di Bolivia hancur. Para ilmuwan menyebut tragedi ini sebagai bencana terbesar bagi keanekaragaman hayati.

  • Malapetaka bagi orang utan

Di Indonesia, kebakaran hebat melanda Sumatra dan Kalimantan. Kebakaran itu menghancurkan lebih dari 40 ribu hektar hutan dan lahan. Orang utan yang sudah terancam punah juga terbunuh.

Mereka yang selamat memiliki habitat yang jauh menyusut. Lahan gambut membuat kebakaran ini sangat sulit dipadamkan dan juga berbahaya bagi iklim karena sekitar 700 juta ton CO2 dilepaskan ke atmosfer.

KLIK INI:  Mengintip Terobosan untuk Tingkatkan Produktivitas Hutan Produksi
  • Terbakarnya keanekaragaman hayati

Di Brasil, bukan hanya hutan amazon yang terbakar tahun ini. Ada lebih banyak kasus kebakaran terjadi di sabana Cerrado, selatan Brasil.

Sabana Cerrado merupakan salah satu daerah dengan keanekaragaman hayati terbesar di dunia.

Cerrado juga merupakan daerah yang paling terancam punah. Sabana sangat rentan terhadap kebakaran dan separuh area hijau telah hilang, sebagian besar karena pertanian kedelai.

  • Bumi kehilangan paru-parunya

Kebakaran di Amazon, Brasil, meningkat 82% pada Januari – Agustus dibanding tahun-tahun sebelumnya.

Hutan hujan terbesar di dunia terbakar hebat selama berminggu-minggu. Pada bulan Agustus dilaporkan lebih dari 30.000 kebakaran terjadi. Penyebab kebakaran ini diduga karena pembukaan lahan untuk tanaman dan ternak.

Kebakaran hutan amazon, yang juga dikenal dengan paru-paru bumi. Menyebabkan bumi kehilangan separu paru-parunya.

Kisah kebakaran hutan di atas, menjadi kisah miris di tahun 2019. Kita patut berdoa, semoga kejadian serupa tidak terulang di tahun-tahun mendatang.

KLIK INI:  Menteri Siti: Gerakan Pramuka Bisa Jadi Penggerak Perbaikan Lingkungan
Editor: Idris Makkatutu
Sumber: DW

KLIK Pilihan!