Evolusi Pesan-Pesan Lingkungan pada Film-Film Godzilla

Publish by -24 kali dilihat
Evolusi Pesan-Pesan Lingkungan Film Godzilla: King of the Monsters
Evolusi pesan-pesan lingkungan dalam film Godzilla: King of the Monsters/Foto-Youtube

Klikhijau.com – Sudah nonton film tentang raksasa, Godzilla: King of the Monster? Film ini pertama kali tayang di bioskop Indonesia pada 29 Mei 2019 lalu.

Film Godzilla yang baru-baru ini tayang tampaknya membuang pesan anti-nuklir seperti versi lama yang identik dengan bencana nuklir yang mengerikan.

Film ini lebih fokus menyajikan masalah lingkungan terkini kepada publik. Misalnya perubahan iklim dan kepunahan massal.

Godzilla, monster hasil mutasi yang berwujud seperti dinosaurus kerap kali menyebarkan pesan lingkungan kepada publik. Meski pesannya berubah-ubah seiring zaman.

Para pemeran dan produser film ini telah menyatakan dukungannya pada tema lingkungan yang diangkat.

Godzilla zaman sekarang

Dalam film versi terbaru, sang monster merupakan makhluk purba yang berevolusi sejak lama ketika bumi lebih bersifat radioaktif. Godzilla ditampilkan sebagai penjaga alam yang berusaha membawa keseimbangan bumi yang dirusak oleh manusia.

Di film terbaru ini, energi nuklir dianggap sebagai sumber energi yang alami. Bom nuklir tidaklah berbahaya karena sang monster menggunakan energi tersebut untuk mengisi kekuatannya dan bertarung melawan sekelompok monster lain.

Selain itu, Godzilla juga bersekutu dengan militer Amerika Serikat (AS) untuk menaklukkan lawan-lawan mereka demi merebut gelar sebagai ‘raja dari segala monster’.

Bagi para pecinta lingkungan, film Godzilla tahun ini akan tampak seperti film bertema lingkungan hidup yang dangkal.

Namun, film bertema lingkungan yang lebih dalam seperti An Inconvenient Truth atau Before the Flood mungkin hanya menarik minat orang-orang yang memang sudah terpengaruh oleh pesan lingkungan. Sementara, Godzilla berpotensi menarik penonton dari beragam kalangan untuk menonton film bertema lingkungan.

Jika berpikir positif, kita bisa berharap bahwa separuh dari penonton akan tergerak hatinya untuk sedikit lebih peduli terhadap masalah lingkungan akhir-akhir ini. Namun sayangnya, banyak yang akan bertanya secara kritis tentang peran ‘nuklir’ atau ’militer ‘ sebagai penyelamat bumi.

Produser film Godzilla yang terbaru menjalin hubungan kerja yang baik dengan militer AS untuk memastikan representasi militer dan angkatan laut yang kredibel. Hubungan tersebut menjamin tersedianya akses pembuat film terhadap senjata canggih militer, seperti misalnya tank dan kapal perang.

Angkatan Darat AS tampak puas dengan hasilnya, tetapi karena adanya dampak lingkungan dari kegiatan militer yang dilakukan, mungkin para produser seharusnya bekerja dengan para penggiat konservasi ketika mereka berusaha menggambarkan Godzilla sebagai mahkluk ekologis.

Godzilla di masa lalu

Secara fiksi, Godzilla berusia sekitar 65 juta tahun. Namun faktanya, ia berusia 65 tahun. Film Godzilla pertama, atau Gojira dalam bahasa Jepang yang dibuat pada tahun 1954 di Jepang.

Karakter Godzilla adalah monster yang secara tidak sengaja dibangkitkan oleh percobaan bom atom di Samudra Pasifik. Sang monster kemudian sampai di darat dan menghancurkan Ibu Kota Jepang, kota Tokyo.

Pesan pada film pertama jelas, “bom nuklir dan polusi nuklir itu mengerikan”. Bermain-main dengan nuklir akan mengundang malapetaka bagi alam dan kemanusiaan.

Tema tersebut sesuai dengan Jepang yang pada saat itu baru saja pulih dari serangan bom atom yang menghancurkan Hiroshima dan Nagasaki.

Namun, jika tujuan utama film ini adalah untuk mencegah pengembangan nuklir yang berbahaya, upaya itu gagal. Sebab Jepang memulai program energi nuklir besar-besaran setelah itu.

Selain tidak efektif, Godzilla mungkin juga dianggap tidak orisinal. Banyak penggemar fiksi ilmiah mengakui Godzilla versi 1954 menjiplak karakter film Hollywood yang berjudul The Beast from 20,000 Fathoms tahun 1953.

Karakter utama di film The Beast from 20,000 Fathoms adalah dinosaurus raksasa yang juga lahir dari ledakan uji coba nuklir .

Para penulis The Beast from 20,000 Fathoms berhasil mengangkat peran militer Amerika Serikat dan menguraikan kekuatan senjata-mega buatan sendiri.

Namun, para penulis Godzilla tahun 1954 tidak melakukan hal yang sama. Mereka tidak menyalahkan militer Jepang sendiri sebagai penyebab kehadiran monster tersebut, tetapi karena uji coba nuklir AS di Pasifik.

Dengan melakukan ini, Godzilla asli menghindari menyelidiki pertanyaan tentang obsesi Jepang terhadap kekuatan militer. Sebagai gantinya, memilih menyalahkan AS atas kekerasan yang dilakukan pada Perang Dunia II dan bom nuklirnya yang tidak manusiawi.

Sikap anti-Amerika warisan Godzilla tahun 1954 harus dihapus sebelum tayang di bioskop AS.

Evolusi Godzilla

Sejak film pertama tahun 1954, lebih dari tiga puluh film Godzilla telah diproduksi. Di era 60-an dan 70-an, film ini dianggap sebagai film murahan.

Publik menganggapnya sebagai film aneh yang menyajikan dua aktor yang berpakaian karet sebagai monster yang saling menyeringai dan saling memukul.

Beberapa kritikus mencemooh film versi 60-an dan 70-an ini dan tidak memiliki nilai seni serta kekanak-kanakan. Tetapi ada pula pengamat film lainnya yang telah mengakui nilai dan pesona yang ditampilkan film ini.

Film Godzilla dianggap sebagai film eksentrik yang pertempurannya dapat ditiru secara imajinatif oleh anak-anak sekolah yang penuh energi.

Walau ringan, film-film Godzilla tahun 60-an dan 70-an sering berhasil menyebarkan pesan lingkungan dengan mengangkat kembali tema anti-nuklir atau jenis polusi lainnya.

Misalnya, film Godzilla tahun 1971 yang berjudul “Godzilla Vs the Smog Monster”. Film ini memunculkan karakter mengerikan yang berasal dari limbah polusi laut dan asap kota.

Pesan anti-nuklir tampak muncul kembali dalam film yang dirilis tahun 2014. Adegan pembuka film ini menggambarkan pembangkit nuklir yang mengalami kebocoran seperti reaktor Fukushima di Jepang dan kota mati yang menyerupai kota hantu, Fukushima.

Namun, segera diketahui bahwa bencana tersebut disebabkan oleh mutan yang haus akan radiasi yang besar. Bukan juga karena kelalaian kerja atau kesalahan teknologi.

Secara keseluruhan, Godzilla sering dipuji oleh para kritikus dan para penggemarnya karena pesannya yang mencerminkan keprihatinan publik terhadap bencana lingkungan. Sama seperti film terbaru King of the Monster yang mengangkat isu lingkungan akibat kelebihan populasi manusia di bumi.

Tapi, pesan lingkungan yang disampaikan film Godzilla: King of the Monster sayangnya terganggu oleh kacaunya alur narasi dalam film ini. Demikian juga dengan banyak versi lainnya, sering kali dibebani dengan narasi yang lain.

Selain itu, kebutuhan pasar akan tontonan yang fantastis membuat pesan lingkungan yang ingin disampaikan menjadi membingungkan atau kurang kuat.

***

Artikel ini saya kutip dari Theconversation.com yang diterjemahkan dari bahasa Inggris oleh Jamiah Solehati. Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Inggris.

Editor: Ian Konjo
Sumber: Theconversation.com

KLIK Pilihan!