Elang Ular Sulawesi, Elang Endemik yang Kehadirannya Dirindukan Petani

Publish by -131 kali dilihat
Penulis: Taufiq Ismail
Elang Ular Sulawesi, Elang Endemik yang Kehadirannya Dirindukan Petani
Elang ular sulawesi (Spilornis rufipectus), endemik Sulawesi - Foto/Ramli

Klikhijau.com – Elang ular sulawesi (Spilornis rufipectus), yuk kenalan dengan salah satu satwa liar endemik di Sulawesi satu ini. Elang ular masih mudah kita jumpai di Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung.

Terbang mengintai mangsa di kawasan karst Bantimurung Bulusaraung. Sesuai dengan namanya pemangsa puncak ini juga mengincar ular sebagai makanan pokoknya.

Perannya cukup siginifikan yakni menjaga populasi satwa mangsanya. Dengan begitu populasi ular atapun tikus yang menjadi mangsanya tetap stabil.

Wah menarik ya….! Dengan begitu kehadirannya bagi petani sangat dibutuhkan. Terutama karena kehadiran tikus yang cukup mengganggu petani. Karenanya kemunculannya selalu dinanti.

Hanya saja belakangan ini kesukaan memelihara binatang liar mulai marak lagi. Termasuk elang. padahal semua jenis elang dilindungi loh. Ini berarti satwa ini tak bisa sembarang dipelihara pehobi.

KLIK INI:  Konflik Buaya dan Manusia di Towuti Berlanjut, BBKSDA Sulsel Evakasi Buaya

Tak heran beberapa waktu lalu tepatnya: 20 Mei 2020, Balai Besar KSDA Sulawesi Selatan melakukan pelepasliaran elang di kawasan Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung. Sebanyak 8 ekor elang yang berhasil mereka rilis ke alam. Elang-elang tersebut merupakan hasil sitaan dan serahan dari masyarakat.

Bagaimana ciri-ciri elang ular sulawesi?

Elang ular sulawesi ini nampak unik dengan bulu tegak di belakang kepala. Elang karismatik ini memiliki dada berwarna merah karat.

Sayap dan ekor elang ini memiliki stip hitam dan putih. Kaki dan paruhnya berwarna kuning. Elang ini bisa melayang tanpa mengepak. Biasanya fungsi ini ia gunakan saat memantau satwa incarannya.

Menurut Coates dan Bishop (2000), elang ular sulawesi ini memiliki kepala pucat bercoret. Bagian atas coklat bebercak gelap, bagian bawah putih dengan coretan gelap di dada.

KLIK INI:  Pohon Johar, Peneduh Berbunga Kuning dan Ragam Manfaatnya Bagi Kesehatan

Ketika sedang terbang dari bawah terlihat pucat, bulu terbang dan ekor berpalang gelap, penutup sayap bawah merah-karat, bertotol putih. Ukurannya sedang 41 sampai dengan 50 cm.

Habitatnya?

Elang ular sulawesi menyukai wilayah berhutan, pegunungan, hutan karst hingga perkebunan. Meski begitu Di Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung sendiri tim moitoring elang sering menjumainya di tepian karst.

Juga terkadang sering dijumpai mencari mangsa di sekitar persawahan milik warga. “Oktober 2019 lalu kami menjumpai 11 ekor pada spot monitoring kami di Pangkep. Termasuk jenis yang paling banyak yang kami jumpai,” terang Ramli, Pengendali Ekosistem Hutan Taman Naional Bantimurung Bulusaraung.

Lebih lanjut Ramli menerangkan hasil monitoringnya. “Hasil pantauan kami, pada monitoring plot Dusun Bantimurung, Desa Bantimurung, Tondong Tallasa, Pangkep, kepadatan elang sekitar 1,786 individu/km2.

Di plot lain, di Dusun Parang Luara, Desa Bantimurung, dengan estimasi kepadatan sebesar 0,008 individu/km2. Lokasi pengamatan berada di hutan karst  dengan ketinggian 186 sampai dengan 265 meter di atas permukaan laut,” tambah Ramli.

KLIK INI:  Mendeteksi Satwa Liar di Angkola Selatan dengan Camera Trap

Sebaran elang ular sulawesi tak begitu luas. Hanya terbatas di Sulawesi dan Kepulauan Sula. Hal ini membuat spesies ini rentan menjadi langka, bahkan rawan menghilang dari muka bumi.

Belum lagi habitatnya kian hari makin menipis. membuatnya sulit mencari tempat yang layak untuknya menetap.

Karenanya momen peringatan hari keanekaragaman hayati yang jatuh pada 22 Mei lalu, menjadi mementum untuk peduli kehadiran satwa di sekitar kita. Satwa adalah bagian dari keragaman hayati. Begitu besar menopang kehidupan manusia. Tanpa mereka, manusia akan kesulitan baik dalam memenuhi kebutuhan pokok mereka.

Kenali satwa sekitar Anda, biar kita tahu manfaat darinya. Dengan begitu rasa cinta akan kehadirannya akan tumbuh dengan sendiri.

Terkadang jika kita cinta pada sesuatu tak membuat kita harus memilikinya. Apalagi satwa, mereka akan lebih berharga untuk alam jika ia hidup di rumahnya sendiri. Melaksanakan tugas yang diembannya.

KLIK INI:  Cegah Konflik dengan Manusia, KLHK Pantau Gajah Sumatera dengan Teknologi GPS
Editor: Anis Kurniawan

KLIK Pilihan!