Ekosistem yang Sehat, Kunci Pelestarian Satwa Liar

oleh -20 kali dilihat
Ekosistem yang Sehat, Kunci untuk Pelestarian Satwa Liar

Klikhijau.com – Ekosistem yang sehat dan harmonis menjadi kunci lestarinya satwa liar. Topik ini menjadi isu penting pada Webinar yang digelar Belantara Foundation pada Kamis (04/8).

Diskusi virtual bertajuk “Restorasi Ekosistem untuk Pelestarian Satwa Liar” ini digelar dalam rangka memperingati Hari Konservasi Nasional 10 Agutus 2022.

Belantara Foundation bekerjasama dengan Prodi Manajemen Lingkungan Sekolah Pascasarjana Universitas Pakuan, LPPM Universitas Pakuan, Fakultas Biologi Universitas Nasional, LPPM Universitas Nasional, Rainforest Rising dan PT REKI ini disiarkan langsung via YouTube Belantara Foundation pada pukul 08.30 sd 12.30 WIB.

Belantara Learning Series (BLS) merupakan program peningkatan kapasitas yang diinisiasi oleh Belantara Foundation berkolaborasi dengan berbagai institusi pemerintahan maupun LSM lingkungan lainnya.

BLS diperuntukkan untuk mahasiswa, praktisi, peneliti tahap awal, jurnalis serta staf pengelolaan sumber daya alam dan keanekaragaman hayati. Program BLS juga mendukung upaya perlindungan dan restorasi hutan, penelitian, pemberdayaan masyarakat, dan juga aksi iklim.

KLIK INI:  Musim Hujan Juga Musim Petaka Bagi Pepohonan

Ekosistem yang sehat

Ekosistem yang sehat merupakan kunci untuk melestarikan satwa liar, mengurangi laju kepunahan keanekaragaman hayati, mitigasi dan adaptasi perubahan iklim, sekaligus meningkatkan kualitas hidup masyarakat.

Ekosistem yang sehat juga turut berperan penting dalam menurunkan emisi gas rumah kaca, meningkatkan stok karbon, melestarikan biodiversitas, membantu pengayaan koridor satwa dan menyediakan sumber pakan atau satwa pakan, pengelolaan dan konservasi keanekaragaman hayati terutama satwa liar terancam punah seperti harimau, gajah dan orangutan.

“Seperti kita ketahui, saat ini harimau sumatra, gajah sumatra dan orangutan statusnya kritis atau sangat terancam punah (critically endangered) menurut IUCN. Merestorasi habitat mereka merupakan salah satu langkah tepat dan mendesak untuk dilakukan secara bersama guna membantu menekan laju kepunahan keanekaragaman hayati, terutama ketiga spesies kharismatik yang juga dilindungi oleh Pemerintah Indonesia”, ujar Direktur Eksekutif Belantara Foundation, Dr. Dolly Priatna.

Pada kesempatan yang sama, Rektor Universitas Pakuan, Prof. Dr. rer. pol. Ir. Didik Notosudjono, M.Sc. mengatakan pemanfaatan teknologi dalam pengelolaan konservasi dan restorasi sangat dibutuhkan. “Teknologi dapat membantu dalam melindungi serta mengamankan plasma nutfah dan material genetik satwa liar yang berstatus terancam kritis dari kepunahan” pungkas Didik.

KLIK INI:  Kawasan Lindung, Benteng Terakhir bagi Satwa Liar

Prof. Dr. Ir. Hadi Sukadi Alikodra, MS. , Guru Besar Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University menambahkan, “Ancaman perubahan iklim semakin nyata terhadap lingkungan hidup satwa liar, terutama terjadinya kekeringan, kebakaran hutan dan lahan menyebabkan berkurangnya sumber air, tempat berkubang, sumber pakan, kematian pohon tidur, sarang, dan istirahat.

Diperlukan percepatan restorasi habitat dengan spesies lokal yang tahan kekeringan dan tahan api, serta teknik konservasi tanah dan air dengan teknologi pengaturan aliran air, dam, dan embung”.

PBB melalui UN Decade Ecosystem Restoration 2021-2030 telah menyerukan upaya perlindungan dan pelestarian ekosistem di seluruh dunia. Seruan ini bertujuan untuk menghentikan laju degradasi ekosistem dan memulihkannya untuk mencapai tujuan global.

Menurut UN Decade Ecosystem  Restoration 2021-2030, upaya restorasi seluas 350 juta hektar ekosistem darat dan perairan yang terdegradasi berpotensi dapat menghasilkan US$9 triliun dalam bentuk jasa ekosistem. Selain itu, restorasi ekosistem juga dapat menghilangkan 13 hingga 26 gigaton gas rumah kaca dari atmosfer.

Di Indonesia, restorasi ekosistem berpotensi untuk menurunkan emisi gas rumah kaca sebesar 52,92 juta ton karbon ekuivalen, yang meliputi restorasi ekosistem lahan kering, gambut, dan mangrove.

Turut hadir sebagai pembicara kunci yaitu Prof. Dr. Ir. Hadi Sukadi Alikodra, MS., Guru Besar Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University; dan Prof. Dr. rer. pol.Ir. Didik Notosudjono, M.Sc., Rektor Universitas Pakuan.

Selain itu, juga hadir pembicara yang ahli pada bidangnya, yaitu Alaric Balibrera, Director of Rainforest Rising; Yokyok ‘Yoki’ Hadiprakarsa, Pendiri Rangkong Indonesia; Puspa D. Liman, M.Sc. , Direktur Program TFCA Kalimantan dan Mangarah Silalahi, M.Sc., MT., Presiden Direktur PT REKI.

KLIK INI:  Kini Satwa Mulai Gantikan Manusia Kuasai Kota