Dokter Reisa, Edhy Prabowo, dan Stunting

Publish by -77 kali dilihat
Penulis: Redaksi
Dokter Reisa, Edhy Prabowo, dan Stunting
Dokter Reisa Broto Asmoro/foto-Galih Pradipta/Antara

Klikhijau.com – Stunting atau pendek atau kerdil menjadi permasalahan global, termasuk di Indonesia. Penyebab utama  adalah karena gizi.

Kenapa stunting menjadi masalah, itu karena  berhubungan dengan meningkatnya risiko terjadinya kesakitan dan kematian, perkembangan otak suboptimal sehingga perkembangan motorik terlambat dan terhambatnya pertumbuhan mental.

Stunting merupakan masalah kurang gizi kronis yang disebabkan oleh asupan gizi yang kurang dalam waktu cukup lama. Ini akibat pemberian makanan yang tidak sesuai dengan kebutuhan gizi.

Stunting terjadi mulai janin masih dalam kandungan dan baru nampak saat anak berusia dua tahun. Kekurangan gizi pada usia dini meningkatkan angka kematian bayi dan anak, menyebabkan penderitanya mudah sakit dan memiliki postur tubuh tak maksimal saat dewasa (Sutarto dkk, 2018).

KLIK INI:  Berpegangan Tangan dengan Orang yang Dicintai, Cara Sehat yang Romantis

Sederhananya ‘penyakit” ini merupakan bentuk kegagalan pertumbuhan (growth faltering) akibat akumulasi ketidakcukupan nutrisi yang berlangsung lama mulai dari kehamilan sampai usia 24 bulan.

Di Indonesia berbagai upaya telah dilakukan untuk mencegah masalah stunting berkepanjangan. Salah satunya mengedukasi para remaja.

Remaja, menurut Indiana Basitha dari Program Advocacy and Communications Manager Tanoto Foundation adalah calon ibu yang akan mengalami fase kehamilan, melahirkan, dan mengasuh buah hatinya.

Oleh karena itu, remaja harus mulai diedukasi sebelum menikah hingga akhirnya memasuki fase pernikahan. Masalah kekerdilan ini tidak hanya isu untuk orang tua dan pasangan yang sudah menikah. Namun, juga mereka yang belum menikah.

Mengedukasi remaja dianggap penting, ini karena apabila ibu mengalami asupan gizi kurang sejak remaja. Si ibu akan berisiko punya anak kurang gizi dan si anak akan mencontoh pola makan ibunya dan terus berputar.

Data Riskesdas 2018 menunjukkan, 8,7 persen remaja usia 13-15 tahun dan 8,1 persen remaja usia 16-18 berada dalam kondisi kurus dan sangat kurus.

KLIK INI:  Selain Sehat dan Ramah Lingkungan, Ini 9 Manfaat Bersepeda Menurut Penelitian!

Global Health survei 2015 menunjukkan, penyebabnya antara lain remaja jarang sarapan, 93 persen kurang makan serat sayur buah. Ditambah angka pernikahan remaja di Indonesia tinggi, padahal hal ini berkontribusi pada kejadian stunting.

Dokter Reisa dan stunting

Eks juru bicara Covid -19 dr Reisa Broto Asmoro menyarankan agar sekolah memasukkan materi edukasi stunting dan gizi ke dalam kurikulum.

Ia  bahkan menilai jika Indonesia telah masuk zona darurat stunting. Karenanya, dibutuhkan   gerakan yang nyata. Gerakan  yang bisa mengubah kondisi tersebut.

“Kondisi anak sudah stunting tidak bisa berubah, yang penting bagaimana kita harus menyelamatkan generasi setelahnya,” harapnya.

Bagi dr Reisa, edukasi di usia remaja, sejak usia 10-19 tahun adalah masa krusial. Harus tepat informasinya. Apalagi Indonesia kebanyakan mitosnya yang belum tentu benar tapi lebih dipercaya. Takutnya info yang kurang tepat akan mereka bawa terus sampai nanti punya anak.

“Kalau masa remaja enggak dapat ilmu, akan sulit untuk membangun keluarga berkualitas. Indonesia adalah negara emergency terhadap stunting. Kita harus mulai berubah. Stunting adalah kondisi yang tidak bisa balik lagi. Makanya selamatkan generasi setelahnya,” tambahnya.

Ia juga berpendapat bahwa perlu mengintervensi gizi remaja dan mengedukasi mereka agar punya persiapan sebelum akhirnya menjadi orang tua nantinya.

KLIK INI:  Selain Tenggelamkan Kapal, Ini 4 Aksi Menteri Susi untuk Lingkungan
 Perlu konsumsi ikan

Sedangkan Menteri Kelautan dan Perikanan, Edhy Prabowo punya solusi lain untuk mencegah stunting. Caranya, dengan banyak mengonsumsi ikan.

“Dari sekian banyak sumber pangan yang ada, ikan merupakan sumber protein hewani yang sangat tepat untuk mendukung program perbaikan gizi masyarakat dan penanganan stunting,” katanya beberapa waktu lalu.

Kenapa pula harus ikan? Itu karena ikan mengandung banyak nutrisi yang penting bagi tubuh. Di antaranya vitamin A, D, B12, kalsium, zinc, protein hingga omega-3.

Kandungan gizi pada ikan juga berperan penting bagi ibu hamil, 1.000 Hari Pertama Kehidupan (1000 HPK), perkembangan otak anak-anak di bawah usia dua tahun (Baduta), usia remaja serta lanjut usia.

“Stunting perlu ditangani dengan baik untuk mencegah lost generation di masa mendatang, apalagi kita akan menghadapi bonus demografi,” tegas Edhy seperti dikutip dari laman Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP).

Berdasarkan data, angka konsumsi ikan nasional pada 2019 mencapai 54,49 kg/kilogram atau naik 4 persen dari tahun sebelumnya. Sementara permasalahan gizi di masyarakat masih tinggi, di mana 30,8 persennya di antaranya adalah masalah stunting berdasarkan data dari Rikesdas, 2018.

KLIK INI:  Bahaya Stunting (Kekerdilan) bagi Kualitas SDM Indonesia
Editor: Idris Makkatutu

KLIK Pilihan!