Dirjen PSLB3 KLHK Apresiasi Komitmen Lingkungan PT Mitra Hijau Asia

oleh -183 kali dilihat
Dirjen PSLB3 KLHK Apresiasi Komitmen Lingkungan PT Mitra Hijau Asia
Dirjen PSLB3 KLHK bersama PLT Bupati Barru saat peletakan batu pertama pembangunan tempat pengelolaan limbah B3 PT Mitra Hijau Asia - Foto/ Gano
Irhyl R Makkatutu

Klikhijau.com – Terus bergerak melakukan terobosan. Rasanya kata-kata itu tepat untuk PT Mitra Hijau Asia atau MHA.

Terbaru, perusahaan yang telah berumur 7 tahun ini dengan berani melakukan sesuatu yang baru—sebuah terobosan yang terbilang langka.

Karena, di antara 12 ribu industri yang menyesaki Indonesia, hanya 20 Industri saja yang bergerak di bidang Pengelolaan Sampah, Limbah, Bahan Beracun dan Berbahaya (PSLB3).

Di antara ribuan perusahaan, MHA berani memasuki “rimba” tersebut dengan mendirikan pabrik Pengelolaan Sampah, Limbah, Bahan Beracun dan Berbahaya (PSLB3) di kawasan Timur Indonesia, tepatnya di Kabupaten Barru, Sulawesi Selatan.

“Kehadiran Mitra Hijau Asia di sini (Barru) adalah salah satu investasi yang langka,” kata  Rosa Vivien Rahmawati, Direktur Jenderal Direktorat Jenderal PSLB3 Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK).

Pernyataan itu disampaikan oleh Vivien saat menghadiri acara peletakan batu batu pertama pembangunan pabrik pengelolaan limbah B3 PT MHA di Kabupaten Barru, Sabtu, 20 Februari 2021.

KLIK INI:  Balai Gakkum LHK Terima Cakrawana, Senjata Teranyar Pindad

Karenanya, Dirjen KLHK tersebut meminta agar pemerintah daerah harus mendukung dan berterima kasih terhadap MHA atas pembangunan pabrik tersebut. Sebab dengan kehadiran pabrik pengelolaan limbah b3 itu, akan membuka ruang yang luas bagi para pelaku industri khususnya di Barru dan kawasan timur Indonesia.

Persoalan selama ini jika ada yang ingin mendirikan indusri adalah masalah limbahnya, “Dengan adanya pabrik limbah ini, persoalan limbah di sini (Barru) telah selesai,” ungkap Vivien.

Vivien juga menjelaskan jika pihaknya selalu mendukung pihak swasta yang mau berinvestasi dalam hal pengeloaan sampah dan limbah.

Progres PT Mitra Hijau Asia

Momen peletakan batu pertama pembangunan tempat pengelolaan limbah B3, PT. Mitra Hijau Asia digelar di Kecamatan Mangempang Kecamatan Barru Kabupaten Barru.

Ini adalah bentuk kontribusi perusahaan ini untuk terus mengembangkan usaha pengelolaan limbah B3 sesuai dengan spirit perusahaan MHA yaitu “protect the environment”.

Dalam sambutannya, Direktur Utama PT Mitra Hijau Asia, Riory Rivandy mengatakan, peletakan batu pertama yang dilaksanakan hari ini terwujud berkat arahan Ibu Dirjen PSLB3.

KLIK INI:  Balai Gakkum Kalimantan Ringkus Pedagang Burung Dilindungi di Katingan

“Untuk diketahui, PT Mitra Hijau Asia didirikan  pada tahun 2014 atas dorongan Ibu Dirjen Rosa Vivien Ratnawati, bahwa perlu membantu pemerintah dengan membangun pengelolaan limbah B3, karena seharusnya limbah B3 dari Sulawesi Selatan tidak di kirim ke Pulau Jawa untuk dimusnahkan,” kata Riory.

“Sejak itu kami mencanangkan pembangunan pengelolan limbah B3 dan hari ini dapat terwujud. Sebagai tahap pertama yaitu pembangunan insenerator sebanyak 2 unit dengan kapasitas 12 ton/hari untuk limbah medis dan limbah industri serta pengumpulan 193 jenis limbah B3  pada luas lahan 2,3 ha,” tambahnya.

Untuk tahap kedua, PT Mitra Hijau Asia akan mengembangkan pemanfaatan limbah B3 menjadi bata merah dan bata putih serta pengelolaan oli bekas. Dan pada tahap ketiga akan di kembangkan landfill dengan luas  39,7 ha  sehingga luas seluruhnya  mencapai  42 hektare dengan  investasi sedikitnya mencapai 150 – 200 miliar rupiah.

“Perlu kami laporkan bahwa bisnis kami selama ini adalah pengangkutan/ transportasi  limbah B3 sejak tahun 2014, dengan jumah armada truk dan mobil box sebanyak 62 unit dengan kantor cabang di 16 propinsi masing-masing di Kalimantan, Sulawesi,  Maluku, Papua, NTT  serta Surabaya dan Jakarta,” jelas Riory.

Riory menegaskan bahwa yang paling sulit sejauh ini adalah pengangkutan dari pulau-pulau terluar seperti Pulau Saumlaki yang berbatasan dengan Australia dan Pulau Wetar yang berbatasan dengan Timor Timur. Dimana trasporter bahkan perlu mencarter kapal khusus mengangkut truk paling sedikit 2 hari baru ke Ambon, untuk selanjutnya dari Ambon ke makassar, Makassar ke Surabaya/Jakarta. sehingga seluruhnya dibutuhkan waktu 14 hari.

“Sebenarnya lebih dekat ke General Santos Filipina di banding Ke Manado yang bukan hanya sulit dijangkau juga menunggu cuaca bagus serta kedatangan kapal, pernah sampai 21 hari dibutuhkan untuk mengangkut satu kontainer.  Hal yang sama juga dengan Nunukan yang berbatasan dengan Malaysia atau bahkan kabupaten Sekadau Kalimantan Barat yang jaraknya hanya 200 meter dari Malaysia,” tambah Rio

Demikian halnya dengan   Pulau Tahuna yang berbatasan dengan Filipina, ditempuh dengan kapal selama 2 hari dari Manado.

“Dengan adanya tempat pengelolaan limbah B3 di Barru, tentu akan berdampak terhadap efisiensi indutsri dan rumah sakit khususnya di Kawasan Timur Indonesia,” pungkasnya.

KLIK INI:  Jaga Fungsi Hutan, Solusi Cegah Bencana Banjir