Digital Decluttering, Cara Efekif Membersihkan Sampah Digital

oleh -142 kali dilihat
Memanfaatkan Internet untuk Mengurangi Penggunaan Kertas di Kampus
Ilustrasi internet/foto-Ist

 

Klikhijau.com – Sampah digital, terdengar masih asingkan? Sampah jenis ini memang tidak banyak disorot.  Meski begitu, keberadaannya harus pula dibersihkan.

Sampah digital ini bersumber dari aktivitas kita sehari-hari melalui penggunaan internet, yang bisa menghasilkan jejak karbon.

Dan telah menjadi pengetahuan umum, jika jejak karbon adalah salah satu penyebab perubahan iklim.

Dengan adanya penggunaan internet yang tinggi, maka sampah digital juga akan semakin menumpuk jika tidak dibersihkan.

KLIK INI:  Melindungi Tanaman dari Patogen Mematikan dengan Rumput Liar

Di Indonesia, pada tahun 2014 lalu saja pengguna internet mencapai 83.7 juta. Sementara di dunia saat ini  ada sekitar 4.1 miliar orang yang menggunakan internet.

Parahnya, penggunaan internet ini dapat menghasilkan jejak karbon digital yang setara dengan 3.7% emisi global. Bahkan, angka ini diprediksi dapat meningkat dua kali lipat pada 2025.

Pertanyaan mendasarnya adalah, dari mana jejak karbon digital itu berasal? Ia berasal ddari proses manufaktur dan pengiriman perangkat elektronik yang dapat menimbulkan polusi udara.

Selain itu, jejak karbon digital juga bersumber dari pengeluaran energi perangkat elektronik yang sebagian besar masih bersumber dari energi fosil.

Aktivitas digital saat sulit dihindari. Namun, bukan berarti kita tidak bisa bijak dalam penggunaannya.   Membersihkan jejak karbon digital adalah salah satunya.

KLIK INI:  Tanaman Gambas, Alternatif Spons Cuci Piring yang Ramah Lingkungan

Cara membersihkannya dengan melalui kegiatan digital decluttering. Digital decluttering merupakan   upaya memilah dan membersihkan sampah digital yang terdapat pada gadget yang kita gunakan.

Sampah digital tersebut dapat berupa data atau dokumen yang menumpuk, riwayat pencarian internet, dan spam email.

Dengan menghapus sampah digital yang tidak kita perlukan lagi, aktivitas digital kita dapat lebih terorganisir dan efisien sehingga dapat meningkatkan produktivitas.

Berikut langkah efektif dalam melakukan melakukan digital decluttering?

KLIK INI:  Mudik Lebaran Menyisakan Lonjakan Emisi Karbon
  • Menetapkan prioritas aktivitas digital dan membatasi screen time

Pengolahan sampah konvensional lebih baik dilakukan dengan mengurangi sampah terlebih dahulu sebelum mendaur ulangnya. Hal ini pun sama dengan sampah digital. Kita dapat mengurangi jejak karbon dan sampah digital dengan mengurangi aktivitas digital yang tidak perlu.

Cobalah pilah aktivitas digital mana yang perlu kamu prioritaskan dan buatlah batasan. Salah satu contoh yang bisa kita lakukan adalah mengurangi konsumsi video yang tidak perlu. Menurut sebuah lembaga penelitian di Prancis, menonton video online dapat menghasilkan jejak karbon sekitar 1% dari total emisi global.

  • Membersihkan Email

Jejak karbon digital bisa berasal dari email. Karena itu perlu dibersihkan. Email yang menumpuk merupakan sampah digital akan menghasilkan pula jejak karbon yang menumpuk pula.

Email standar dapat menghasilkan jejak karbon sekitar 4 gram CO2e dan email dengan lampiran dapat menghasilkan jejak karbon sekitar 50 gram CO2e.

Karena itu, langkah bijak untuk menguranginya adalah  dengan menghapus email yang sudah dibaca, spam, dan berhenti berlangganan newsletter yang tidak perlu.

KLIK INI:  Pengertian dan Dampak Jejak Karbon yang Penting Diketahui
  • Pilah dan hapus data digital yang tidak perlu

Foto, video, dokumen hingga  riwayat penelusuran internet yang tidak lagi diperlukan perlu untuk dihapus.

Karena hal itu dapat menjadi sampah digital yang menyumbang jejak karbon. Jadi, jangan dibiarkan menumpuk pada gadget atau penyimpanan cloud storage.

Data yang kita simpan pada penyimpanan cloud storage sebenarnya disimpan di data center atau pusat data.

Data center membutuhkan energi untuk mengoperasikannya. Jejak karbon dari data center setara dengan 2% emisi global. Angka ini diperkirakan akan naik 3.2% di 2025 dan 14% di 2040.

 Mana yang Lebih Ramah Lingkungan, Konvensional atau Digital?

Meskipun aktivitas digital dapat menghasilkan sampah digital dan jejak karbon digital, perlu kita ingat bahwa dalam kondisi tertentu aktivitas digital dapat lebih ramah lingkungan daripada aktivitas yang kita lakukan secara konvensional.

Jika kita ingin melakukan rapat, rapat virtual dapat lebih ramah lingkungan daripada rapat tatap muka. Rapat virtual hanya memproduksi jejak karbon sebesar 7% dari jejak karbon rapat tatap muka. Selain itu, membaca secara digital juga lebih baik daripada membaca menggunakan kertas secara konvensional.

KLIK INI:  Menyorot 3 Peran Bambu bagi Kemerdekaan Indonesia

Untuk mendukung implementasi konsumsi dan produksi berkelanjutan dari sektor digital, kita juga dapat mengurangi jejak karbon digital dengan menjaga gadget kita agar lebih tahan lama dan tidak menyebabkan e-waste atau sampah elektronik.

Ada sebuah studi dari University of Edinburgh menemukan bahwa memperpanjang penggunaan komputer dan monitor dari 4 ke 6 tahun dapat mencegah sekitar 190 kg CO2e.

Jadi, jagalah gadget yang kita punya agar bisa lebih tahan lama. Jika ingin membeli gadget, kamu juga bisa mempertimbangkan gadget bekas yang masih berkualitas. Aktivitas pengurangan jejak karbon digital ini tentunya sesuai dengan prinsip konsumsi dan produksi berkelanjutan.

Mari belajar bijak menggunakan perangkap elektronik kita dan juga internet.

KLIK INI:  Waspada, Streaming dan Main Game Dapat Hasilkan Jejak Karbon!

sumber:greeneration.org