Di Wakatobi, Wamen LHK Berpesan tentang Pentingnya Menjaga Mangrove

oleh -168 kali dilihat
Di Wakatobi, Wamen LHK Berpesan tentang Pentingnya Menjaga Mangrove
Wakil Menteri LHK, Alue Dohong saat meninjau Program Padat Karya Penanaman Mangrove di Wakatobi, Jumat 13 November 2020 - Foto/Ist

Klikhijau.com – Mangrove memiliki peran penting terhadap kehidupan, karenanya harus dijaga. Menjaganya harus secara bersama-sama dengan melibatkan semua pihak, pemerintah, masyarakat dan swasta.

Demikian pesan Wakil Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (Wamen LHK), Alue Dohong di depan masyarakat di Taman Nasional (TN) Wakatobi, Sulawesi Tenggara, Jumat 13 November 2020.

Kedatangan Wamen Alue Dohong di Wakatobi dalam rangka kunjungan kerja dan melihat perkembangan Taman Nasional di masa pandemi Covid-19.

Alue Dohong juga memantau program Padat Karya Penaman Mangrove (PKPM) di Wakatobi. Program ini merupakan bagian dari agenda Pemilihan Ekonomi Nasional (PEN) di Sulawesi Tenggara.

Bertempat di Pulau Kaledupa, Wakatobi, Wamen Alue Dohong berdiskusi dengan masyarakat dan para stakeholders setempat. Dirinya mengajak semua pihak untuk bersama-sama berkolaborasi menjaga kawasan konservasi dan melestarikan mangrove.

KLIK INI:  Memaksimalkan Potensi Karbon Biru Indonesia untuk Mengatasi Perubahan Iklim

Terkait dengan program PKPM, Wamen Alue Dohong menyadari bahwa Pandemi COVID-19 di Indonesia dan dunia memberikan dampak buruk dalam berbagai sektor, utamanya dalam perekonomian.

Oleh sebab itu, kata Alue Dohong, merespons situasi pandemi, pemerintah pusat telah membuat dua kebijakan strategis yakni Pemulihan Kesehatan Nasional (PKN) dan Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN).

“Kementerian LHK dalam upaya PEN ini menggunakan pendekatan pola padat karya bersama masyarakat dalam merehabilitasi hutan mangrove,” kata Wamen.

Manfaat mangrove untuk kehidupan

Di hadapan warga Wakatobi, Wamen Alue Dohong juga menjelaskan kepada masyarakat, bahwa mangrove memiliki fungsi ekologi sebagai habitat dan berkembang biak biota laut.

“Ekosistem mangrove yang baik akan membuat ikan dan satwa laut lainnya semakin berlimpah, tentunya hal tersebut akan mendatangkan pendapatan tambahan bagi para nelayan,” terang Wamen Alue Dohong.

KLIK INI:  DLH Makassar, Gojek dan Mitra Hijau Asia Menanam Mangrove di Lantebung

Selain itu, mangrove juga berfungsi sebagai pemecah gelombang laut yang akan mencegah abrasi pantai dan intrusi air laut serta melindungi daratan dari ancaman gelombang tsunami.

Hutan mangrove berperan dalam pengendalian perubahan iklim karena dapat menyerap karbon dalam jumlah besar yaitu sekitar 1.000-1.200 Ton karbon per hektare.

“Kita harus optimis dalam menghadapi Pandemi ini. Percayalah bahwa ekonomi akan pulih, dan keadaan akan semakin baik. Mari kita jaga lingkungan kita, karena lingkungan yang baik akan mendatangkan manfaat yang baik juga bagi kita,” pesan Wamen Alue Dohong kepada masyarakat.

Kepala Balai TN Wakatobi, Darman melaporkan kepada Wamen Alue Dohong bahwa luas kawasan yang ditanam mangrove dalam rangka PEN adalah seluas 108 Hektare (Ha) di Pulau Wangiwangi dan Kaledupa. Bahkan sebelum adanya padat karya, Darman menerangkan bahwa masyarakat sudah menanam mangrove dengan kesadaran sendiri.

Karenanya, kata Darman, masyarakat sangat senang saat mendengar bahwa pemerintah akan membayar masyarakat yang menanam mangrove.

KLIK INI:  Menyandarkan Harapan pada Potensi Karbon Biru di Indonesia

Saat ini, jumlah Kepala Keluarga (KK) yang terlibat sebanyak 245 KK, namun dalam pelaksanaannya menjadi 4-5 kali lipat karena mereka melibatkan seluruh keluarganya dalam menanam mangrove.

Bagi Darmin, program padat karya mangrove ini sangat istimewa dan manfaatnya dirasakan langsung masyarakat. Paling penting, tambahnya, masyarakat merasa sangat diperhatikan oleh pemerintah pusat.

Darmin juga melaporkan TN Wakatobi yang luasnya sebesar 1,39 juta Ha, di dalamnya terdapat sekitar 75 desa yang memiliki potensi untuk masuk dalam Program Kampung Iklim (Proklim).

Selain itu, dapat juga dibentuk Masyarakat Peduli Api (MPA), karena Wakatobi suhunya tinggi, sehingga masyarakat dan Balai TN Wakatobi dapat bekerja bersama-sama untuk mengelola dan menjaga kawasan konservasi.

Menanggapi hal hal tersebut di atas, Wamen Alue Dohong menyetujui dan meminta Direktur Jenderal Pengendalian Perubahan Iklim untuk membantu mewujudkannya.

Pelaksana Jabatan Sementara Bupati Wakatobi, Aslaman Sadiq, pada kesempatan yg sama, menyampaikan bahwa luas TN Wakatobi hampir sama dengan luas administratif Kabupaten Wakatobi.

Maka dari itu menurut Aslaman Sadiq, pembangunan di Wakatobi tentunya memerlukan dukungan dari Balai TN Wakatobi dan juga Kementerian LHK. Selama ini, berbagai kerja sama juga telah dilakukan bersama dengan Balai TN Wakatobi untuk meningkatkan postensi wisata alam di Wakatobi.

KLIK INI:  3 Capaian Gemilang Indonesia pada COP Madrid