Di Tangan Nurhadi, Sampah Styrofoam yang Bebal Jadi Jinak dan Berharga

Publish by -176 kali dilihat
Penulis: Anis Kurniawan
Styrofoam
Nurhadi pegiat daur ulang styrofoam di Riau-Foto/Ist

Klikhijau.com – Keprihatinan terhadap pemakaian styrofoam yang massif dan kebanyakan hanya berakhir sebagai sampah di lautan, menginspirasi seorang Nurhadi (42) untuk berkreasi.

Di daerah tempatnya bermukim yaitu di Batam Kepulauan Riau, ia melihat betapa rumitnya mengurus sampah styrofoam. Belum lagi, aktivitas masyarakat yang memang telah menjadikan benda ini sebagai pilihan yang praktis dan murah.

Nurhadi mengamati, betapa masyarakat saat ini menangani styrofoam dengan cara membakar atau membuangnya begitu saja. Padahal, bila berada di lautan, benda ini akan mengapung dan memerlukan waktu puluhan bahkan ratusan tahun untuk bisa terurai. Sedangkan bila dibakar, asapnya akan mengganggu kesehatan manusia.

Nurhadi menyulap styrofoam jadi karya

“Karena begitu banyaknya tumpukan sampah styrofoam di sekitar tempat tinggal saya, akhirnya memotivasi saya untuk menguranginya. Pertama kali saya terpikir untuk melakukan semacam eksperimen menjadikannya sebuah karya atau kreativitas,” cerita Nurhadi pada Klikhijau, 8 Maret 2020 lalu.

Seperti kata pepatah, sebuah motivasi akan mempertemukanmu dengan cara dan karya. Nurhadi yang cukup berani berkreasi secara otodidak akhirnya menemukan ide-ide kreasi.

Ia pun menghasilkan karya kerajinan tangan berupa replika pohon berbahan styrofoam. Hasil karyanya diperlihatkan pada keluarga dan masyarakat di sekitarnya, banyak yang kagum dan tentu saja mengapresiasi.

KLIK INI:  Kisah Tini, Perempuan Tuna Netra Penjaga Owa Jawa di Hutan Lekong

Nurhadi pun terus bersemangat, ia mengembangkan kreativitasnya tanpa henti dengan daya imajinasinya. Bukan sesuatu yang memberatkan dirinya, sebab Nurhadi melakukannya sebagai sebuah hoby dan keinginan menyelamatkan lingkungan.

Seiring waktu, beragam karya pun dihasilkannya antara lain hiasan dinding relief, miniatur air terjun, replika berbagai jenis pohon, artifisial bonsai, hingga ornamen aquarium.

ornamen aquarium styrofoam
ornamen aquarium berbahan sampah styrofoam karya Nurhadi-Foto/Ist

Imajinasinya seolah tanpa batas. Karya-karyanya tampak hidup dan menggoda karena mengutamakan dimensi seninya. Nurhadi mengembangkan sendiri ide-idenya. Inspirasi terbaiknya adalah dirinya sendiri dan dari perkembangan karya-karyanya.

Tidak heran, bila karya-karya Nurhadi yang memang populer seperti ornamen aquarium atau bonsai sungguh tampak hidup dan futuristik.

Ayah dua anak ini mengajak kita melihat karyanya sebagai sebuah dunia baru. Pada bonsai berdaun mungil, kita menjumpai semangat ketelatenan dan komposisi yang apik dan sempurna. Sedangkan pada ornamen aquarium-nya, kita menemukan semacam gagasan tak biasa yang memaduakan antara estetika kolam ikan mini dan kebutuhan desain ruang yang tak membosankan.

replika bonsai styrofoam
replika bonsai berbahan sampah styrofoam karya Nurhadi-Foto/Ist
KLIK INI:  Bahaya Laten Penggunaan Styrofoam bagi Kesehatan dan Lingkungan?
Tidak sekadar karya daur ulang

Melihat karya-karya Nurhadi, rasanya tidak sekadar melihat suatu peristiwa perpindahan dunia, suatu metamorfosa. Dari sampah styrofoam yang bebal menjadi karya artistik yang mewah—ini juga suatu proses berkarya yang di baliknya menyimpan pesan mendalam. Pesan filosofis bahwa pada segala apa pun, sejatinya dapat berpotensi dimodifikasi menjadi lebih berarti.

Dalam konteks ini, Nurhadi seolah ingin berkata: plastik sekali pakai dan styrofoam adalah benda-benda tak berdosa. Benda ini akan menjadi musuh bagi manusia dan lingkungan, karena manusia itu sendiri kehilangan nalar dan cara menjinakkannya.

Begitulah kreasi daur ulang menaruh pesan terdalam bahwa manusia harus bisa mengendalikan sampahnya dengan cara yang elegan. Dan tanggungjawab itu ada setiap individu, setiap kita yang setiap harinya menghasilkan sampah.

Kini, di rumahnya di Kompleks Ruko muka kuning indah II Blok B2 No 03, Batu Aji, Batam, Nurhadi dan keluarga terus berjuang dengan karya kreatifnya. Ia masih mengerjakannya sendiri, namun berharap suatu waktu keahliannya ini dapat ditularkan ke orang-orang di sekitarnya. Agar semakin banyak yang mengambil peran.

Bersama istrinya (Srinurgiatwati), ia mulai memanen hasil karyanya dengan pemesanan yang berdatangan dari mana-mana. Harganya cukup bervariasi, mulai yang puluhan ribu, ratusan bahkan ada yang seharga Rp 1 juta. “Tergantung tingkat kerumitan, estetika dan tingkat kerumitannya Bung,” tuturnya.

Pada Sahabat Hijau, Nurhadi berpesan agar kreasi daur ulang sampah terus berkembang. Menurutnya, edukasi harus terus dilakukan agar masyarakat semakin peduli bahwa pada plastik sekali pakai dan styrofoam ada bahaya terbesar yang terus mengintai.

Nurhadi juga seolah mengajak kita berpikir bahwa ada tantangan baru di masa datang yakni daur ulang tak sekadar memanfaatkan kembali apa yang terbuang atau sampah. Lebih dari itu, diperlukan inovasi dan kreativitas tanpa henti, sentuhan estetika dan imajinasi tanpa batas—sebab tantangan kita adalah bagaimana mengubah perilaku.

KLIK INI:  Zero Waste, Gerakan dan Sinergitas Tanpa Batas Melawan Sampah
Editor: Anis Kurniawan
Sumber: Klikhijau.com

KLIK Pilihan!