Di Tangan Mahasiswa Arab Saudi, Sampah Laut Merah Jadi Karya Seni

oleh -25 kali dilihat
Daur ulang sampah laut
Sampah Laut Merah yang disulap jadi karya seni-foto/Saudi Gazette

Klikhijau.com – Daur ulang sampah masih dianggap cara efektif menguranginya.  Universitas Effat, Arab Saudi pun melakukannya. Mereak menggaungkan kampanye daur ulang sampah.

Sampah menjadi permasalahan yang rumit dan terus membukit. Ia bisa ada di mana-mana sehingga sangat mudah ditemukan yang membuat pandangan terasa terganggu. Tak hanya pandangan terganggu, tapi juga kesehatan.

Maka salah satu langkah yang perlu diambil adalah mendaur ulangnya—menjadikannya barang baru yang memiliki nilai seni dan ekonomi.

Sesungguhnya dampak dari daur ulang bukan hanya pengurangan sampah. Lebih dari itu, yakni bisa mengubah sudut pandang orang dalam melihat sampah.

KLIK INI:  Margini, Ratu Daur Ulang Sampah dari Riau yang Karya-Karyanya Memukau

Jika selama ini sampah menjadi barang menjijikkan. Maka setelah didaur ulang dan berubah bentuk jadi cantik. Orang akan mengaguminya, bahkan berniat membeli untuk jadi koleksi atau pajangan di rumah.

Daur ulang, menjadi penting pula untuk menggali potensi kreatifitas seseorang dalam melihat persoalan sampah. Ia bisa mengubahnya menjadi memiliki nilai ekonomi atau nilai seni yang tinggi.

Tidak sedikit tangan-tangan kreatif mampu melahirkan karya seni yang indah dari barang bekas.  Semisal yang   yang dilakukan sejumlah mahasiswi sekaligus karyawan Universitas Effat, Arab Saudi.

Mereka membuat suatu terobosan, yakni  mendaur ulang sampah  Laut Merah.  Hasilnya, dari tangan kreatif para mahasiswa itu, lahirlah  model estetika dan karya seni yang memukau,   yang turut mewarnai corniche sentral di Jeddah.

Sampah di laut semaki meresahkan

Sampah di lautan harus diakui bersama memang meresahkan dan menumpuk. Banyak orang menganggap jika sampahnya telah sampai ke laut persoalan pun usai. Namun, sebenarnya tidak demikian. Justru akan menjadi masalah baru yang lebih rumit.

KLIK INI:  7 Negara dengan Predikat Terbaik Pendaur Ulang Sampah

Dan untuk mengurai masalah itu, salah satu yang dibutuhkan adalah tangan-tangan kreatif  seperti para mahasiswa Universitas Effat, Arab Saudi.

Para mahasiswa yang tergabung dalam proyek ini merupakan bagian dari pesan kesadaran universitas bertajuk “Laut Merah adalah kekayaan, mari kita lestarikan”.

Laut Merah adalah laut yang penuh sejarah. Laut yang tidak bisa dipisahkan dari Nabi Musah AS. Di laut itulah Nabi Musa menunjukkan mukjizatnya dengan membela lautan dengan hentakan tongkatnya.

Laut Merah pula yang menjadi kisah akhir dari kezaliman Fir’aun. Namun, siapa sangka jika laut penuh sejarah tersebut tidak lepas dari kepungan sampah.

Beruntunglah ada mata jeli yang melihat peluang sampah di Laut Merah bisa menjadi karya seni. Maka tidak tanggung-tanggung   proyek tersebut melibatkan partisipasi 136 relawan.

Para  relawan itu  bertugas menanamkan budaya tanggung jawab sosial terhadap lingkungan. Mereka bergelut dengan proyek tersebut  selama enam pekan.

Tujuan dari kegiatan itu adalah  kampanye agar masyarakat membuang berbagai jenis sampah dengan cara yang inovatif, bukan dengan cara tradisional.

Selain itu, kegiatan atau proyek dari universitas yang berlokasi di Jeddah, Mekah itu adalah  untuk meningkatkan kesadaran lingkungan di masyarakat tentang mekanisme penanganan limbah yang tepat, mengatasi kebiasaan membuang sampah sembarangan dan melestarikan lingkungan laut.

Membuang sampah sembarangan memang menjadi masalah yang sulit diurai. Masyarakat seolah melihat jika semua tempat adalah tempat sampah, khususnya laut.

KLIK INI:  Mahasiswa Jepang Belajar Mangrove di Sinjai, Begini Agendanya!
Bisa jadi inspirasi

Maka dengan adanya gagasan melalau proyek seperti yang dilakukan oleh  Universitas Effat. Setidaknya bisa memberikan kontribusi bagi lingkungan sekaligus  memberikan pengalaman dan keterampilan kepada mahasiswa dan karyawan  universitas tersebut, bagaimana rasanya menjadi “penyelamat” lingkungan.

Selain itu, juga bisa mengasah keterampilan mahasiswa dalam berkarya  mengubah limbah atau sampah menjadi model dan lukisan yang estetis dan bernilai.

Sebagaimana dijelaskan oleh Rektor Universitas Effat, Haifa Jamal Al-Lail bahwa proyek tersebut demi mengembangkan dan mendorong bakat para mahasiswa  menjadi lebih kreatif.

“Termasuk mengubah karya seni yang menggambarkan alam dengan mendaur ulang sampah menjadi bentuk estetik,” jelas  Haifa, Senin,  3 Mei 2021 sebagaimana dilansir dari Republika.

Apa yang dilakukan oleh Universitas Effat, bisa menjadi inspirasi bagi pengelolah universitas—termasuk di Indonesia untuk terlibat langsung dalam menangani sampah, baik di darat maupun di laut.

Sebab, mengurangi sampah dan memeranginya adalah tanggungjawab semua pihak yang harus dipikul bersama-sama.

Mengurangi sampah dengan mendaur ulangnya,  tidak akan membuat rugi. Justru sebaliknya akan membuat kita lebih bermanfaat  bagi lingkungan, satwa, tanaman, dan tentu saja kepada sesama manusia.

KLIK INI:  Ibu-Ibu, Koran Bekas dan Inspirasi dari Seorang Dosen Seni UNM