Di Balik Topeng Investasi, Indonesia Kehilangan 684 Ribu Hektare Hutan

Publish by -199 kali dilihat
Penulis: Muhammad Imran Irwan
Di Balik Topeng Investasi, Indonesia Kehilangan 684 Ribu Hektare Hutan
Ilustrasi kerusakan hutan/foto-Ist

Klikhijau.com –  Banyaknya kerusakan lahan di Indonesia disebabkan kedok investasi dengan cara merusak alam, tetapi pemerintah Indonesia belum sepenuhnya berbuat maksimal.

Setiap tahun, Indonesia kehilangan hutan seluas 684.000 hektar akibat pembalakan liar, kebakaran hutan, perambahan hutan dan alih fungsi hutan.

Menurut data yang dirilis Badan Pangan dan Pertanian Dunia (FAO) berdasarkan data dari Global Forest Resources Assessment (FRA), Indonesia menempati peringkat kedua dunia tertinggi kehilangan hutan setelah Brasil yang berada di urutan pertama.

Padahal, Indonesia disebut sebagai megadiverse country karena memiliki hutan terluas dengan keanekaragaman hayatinya terkaya di dunia.

KLIK INI:  Memeluk Pohon, Cara India Mencintai Bumi
Kedok investasi

Direktur Eksekutif Nasional Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI), Nur Hidayati mengatakan bahwa krisis lahan di Indonesia disebabkan oleh adanya oknum perusahaan yang berkedok investasi tetapi kenyataannya mereka hanya merusak alam.

“Berbagai krisis yang terjadi sama sekali tidak membuat negara ini berubah. Investasi dibiarkan terus merusak Alam. Negara dan korporasi jadi aktor utamanya,” ujarnya, Senin 10 Agustus 2020.

Situasi saat ini, lanjutnya malah dimanfaatkan korporasi perusak lingkungan untuk menggusur masyarakat adat, merampas bahkan membunuh pejuang agraria dan lingkungan hidup yang berjuang mempertahankan ruang hidupnya dan keberlanjutan alam.

“Dengan memanfaatkan kedok investasi, para oknum dengan seenaknya merusak alam, merampas bahkan membunuh pejuang agraria tanpa melihat ada masyarakat adat yang berjuang untuk melakukan pemenuhan pangan masyarakat di desa,” tambahnya.

Tetapi di tengah kebijakan sumberdaya alam yang eksplotatif, Masyarakat Adat di Indonesia membuktikan mampu menjaga dan melestarikan hutan seluas 574.119 hektar.

KLIK INI:  27 Juli, Hari Peduli Sungai Nasional, Apa Aksimu Saat Sungai Semakin Tercemar?

Project Officer KLIMA Yayasan Madani Berkelanjutan, Yosi Amelia mengatakan bahwa peran penting masyarakat adat dalam pencapaian komitmen iklim Indonesia dengan menjaga hutan adat terbukti mampu menjaga hutan tetap lestari.

“Masyarakat Adat memiliki peranan penting dalam pencapaian komitmen iklim Indonesia. Praktik-praktik arif masyarakat adat dalam menjaga hutan adat terbukti mampu menjaga hutan tetap lestari,” tambahnya.

Dalam konteks perubahan iklim, praktik-praktik menjaga hutan yang dilakukan Masyarakat Adat terbukti mampu menghentikan penurunan tutupan hutan dan dapat berkontribusi hingga 34,6% terhadap pemenuhan target NDC Indonesia dari pengurangan deforestasi.

“Kerja bersama berbagai pemangku kepentingan dalam penyelamatan hutan di wilayah adat sangat penting dilakukan untuk memastikan pelaksanaan komitmen pemerintah Indonesia dalam mengurangi emisi gas rumah kaca sebesar 29% dan 41% dengan bantuan internasional dapat terlaksana,” pungkasnya.

KLIK INI:  Pengukuran Hutan Dunia Akan Dilakukan Satelit NASA
Editor: Anis Kurniawan

KLIK Pilihan!