Di Balik Hitamnya Arang, Ada…

oleh -257 kali dilihat
 Di Balik Hitamnya Arang, Ada...
Ilustrasi - Foto/ Stephan Seeber di Unsplash
Irhyl R Makkatutu

Di Balik Hitamnya Arang, Ada…Aku berhenti begitu saja. Tak ingin terseret terlalu liar pada sambungan kata “ada”. Aku cukup mengerti, melanjutkannya sama saja mengakhiri semua hal yang telah lama bermula.

Tala, perempuan yang sejak tadi duduk di sampingku. Berkali-kali melempar tanya, kenapa aku tak melanjutkan tulisanku?

Setiap dia bertanya. Aku hanya menjawabnya dengan isapan rokok. Asapnya kukepulkan ke wajahnya.

Aku suka melihatnya cemberut ketika mendapati asap rokok menerpah wajahnya. Tapi aku yakin, bukan karena asapnya yang membuatnya cemberut, lalu menutup hidungnya. Bukan. Namun  bau mulutku yang mengerikan.

Sejak kecil, aku suka makan gula-gula. Itu pantangan yang dilarang ibu padaku. Tapi kebandelan dan rasa iba seorang ibu, ketika aku menangis. Ia akan luluh lalu berjalan ke persimpangan jalan—ke rumah Puang Ramaning membelikanku gula-gula susu.

Puang Ramaning adalah orang pertama yang menjual gula-gula di kampungku. Usahanya  bertahan hingga kini—di usiaku menginjak 43 tahun. Usahanya dilanjutkan oleh anaknya, Haminang—yang bermata agak juling, tapi cukup jeli.

KLIK INI:  Kursi Lalu Tanah

Banyak makan gula-gula, diyakini oleh ibuku akan menyebabkan gigiku rusak. Namun, meski tahu akibatnya, jika aku merengek minta dibelikan. Dan Ibu akan membelikannya.

Seorang ibu, akan tak peduli sedang menanam penyakit dalam tubuh anaknya—asal anak-anaknya bahagia, asal anak-anaknya berhenti menangis.

Maka, ketika aku berusia 2 tahun. Gigiku berlubang-lubang lalu tanggal satu-satu.   Namun, ibu tak khawatir “masih akan tumbuh,” katanya. Ia berkali-kali memarahiku, melarangku makan gula-gula. Namun juga berkali-kali pula ke persimpangan jalan membelikanku.

Seorang ibu memang memilki keanehan. Keanehannya adalah membuat anak-anaknya bahagia. Ia rela berkali-kali marah, namun tak pernah jenuh pula ribuan kali membujuk anaknya agar diam saat menangis karena marahnya.

Sialnya, ketika gigiku kembali tumbuh, ulat telah bersarang di mulutku—menggigit-gigit gigiku. Sakit gigi berlangganan setia padaku.

Aahh, para pembaca

Kembali ke persoalan lanjutan kata “ada” itu. Pasti kamu, para pembaca penasaran, kenapa aku tak melanjutkannya atau apa kira-kira lanjutannya.

KLIK INI:  Bercocok Cinta di Gelombang

Baik akan aku beritahukan. Duduklah dengan manis—siapkan kopi dan rokok jika kau penganut kedua “budaya” itu.

Rokok dan kopi adalah pasangan paling serasi. Aku menyukai keduanya. Dan aku yakin, aku adalah orang yang kesejuta sekian yang menyukainya. Bagaimana dengan kamu?

Namun, jika kamu tak menyukai rokok dengan kopi, cukup sediakan saja air putih.

Ketika aku akan melanjutkan tulisanku, Tala tiba-tiba bercerita panjang lebar padaku. Karenanya aku tak melanjutkannya.

Aku tahu, itu cara dia menghindar dari semprotan asap rokok dari mulutku. Laptop kubiarkan saja menyala dan Microsoft Wordnya terbuka yang menampilkan empat kata “Di Balik Hitamnya Arang, Ada…”

Ini cerita Tala

Namun sebaiknya aku perkenalkan dulu siapa Tala sebenarnya. Meski singkat saja.  Tala memiliki nama panjang Tala Arenia. Ia  perempuan lajang, usianya 39 tahun. Tala memilih tak menikah, entah itu pilihannya atau takdir jodoh tak menemukannya.

Ia memiliki rambut ikal yang memesona.  Aku selalu menyukai rambutnya  yang ikal itu. Terlihat berkilau karena sering diolesi minyak kemiri.

KLIK INI:  Suatu Pagi, Bumi Mati di Sebuah Kota

Mengolesi rambutnya minyak kemiri, katanya sebagai bentuk penghargaan kepada orang-orang di kampungnya yang banyak bertani kemiri.

Alasan yang aku pikir hanya asal-asalan saja, tapi aku tak pernah mempermasalahkannya. Itu hal yang tak begitu penting.

Tala, aku mengenalnya  sejak sekian tahun lalu. Perkenalanku seperti air yang dialirkan ke dalam rumah melalui pipa—tiba-tiba saja tiba tanpa terlihat alirannya.

Ia datang begitu saja setelah aku lelah mencarinya. Saat itu, aku sedang ingin menulis sebuah reportase perihal penebangan hutan mangrove di pinggiran utara kota D.

Menebar janji, memekarkan petaka

Gassing, tetua di kampung pinggiran kota D, tahu jika salah satu pelakunya adalah perempuan—ia datang menebar janji. Perempuan itu tak ikut menebang  pohon mangrove.

“Tak pernah kelihatan wajahnya secara utuh, karena ia memakai masker, tapi mata dan rambutnya yang ikal menebarkan pesona kecantikan,” terang Gassing dengan senyum malu-malu.

“Perempuan itu datang membujuk warga agar menjual arang mangrove kepadanya,” lanjutnya.

Ditawari harga arang yang menggiurkan. Banyak warga yang tergiur. Beberapa dari mereka bergerak menebangi hutan mangrove yang telah berstatus dilindungi tersebut.

KLIK INI:  5 Kisah Fiksi Inspiratif dalam buku “Bukan untuk Dibaca” dengan Metafora Alam

Tala adalah belut. Ia licin dan licik. Tak ada yang tahu jika ia pelakunya. Setidaknya tercatat  sembilan orang ditangkap karena pembalakan liar hutan mangrove itu.

Dan bagaimana aku tahu jika Tala adalah pelaku yang mengiming-iming warga harga arang mangrove yang bukit. Aku sudah berjanji padanya tak akan membocorkannya. Itu rahasia yang  akan aku simpan rapat. Seperti halnya hubunganku  dengan Tala yang tersegel rapat dari istriku.

Tapi demi kamu, para pembaca, aku akan mengisahkan secara singkat dan tersirat bagaiman aku tahu Tala yang melakukan penebangan mangrove tersebut. Maksudku, karena Tala warga berani mengkhianati semesta ini, keluarga bahkan nyawanya mereka sendiri.

Mangrove adalah penyelamat bagi daerah pesisir dari terjangan gelombang. Rumah bagi biota laut. Maka ketika membabatnya berarti mengkhianati nyawa sendiri, mengkhianati semesta.

Ketika aku sedang melakukan liputan tentang arang mangrove, satu-satunya pengusaha di kota ini adalah Tala—pengusaha arang tentunya.

Ia mengumpulkan arang dari berbagai jenis pepohonan—salah satunya adalah mangrove. Ketika aku ke kantornya. Tala terperangah melihatku.

Barangkali ia tak pernah menyangka akan bertemu denganku lagi. Lelaki yang pernah mencuri ciuman darinya saat sekolah dulu.

Saat itu, aku dan dia terlambat, sehingga tak bisa ikut upacara bandera. Kami sembunyi di belakang sekolah.   Aku sudah kelas tiga  saat itu dan Tala kelas satu.

KLIK INI:  Perempuan di Balik Purnama

Aku kakak kelasnya di SMA dulu. Aku cukup akrab dengannya saat masa perkenalan. Aku jadi kakak pendampingnya. Dan pada saat kami terlambat itu, saat itu, saat ia sedang serius memperlahitan jalannya upacara bendera dari jauh.  Dan aku mencium pipinya. Ia tak marah, tapi mukanya memerah darah.

Sejak saat itu, hingga tamat aku tak pernah lagi bertutur sapa dengannya. Kemudian aku kembali bertemu dengannya tujuh bulan lalu.

Masa lalu yang mengubah arah

Karena kisah masa laluku dengannya. Dan sejak ciuman yang kucuri darinya itu—ia telah bersumpah tak akan menikah. Ia juga bersumpah tak akan mencintai laki-laki. Ia menyegel hatinya dari segala godaan lelaki.

“Aku jadi lesbi gara-gara kamu,” katanya suatu hari saat aku dan dia bertemu di sebuah warkop. Ia mengatakan itu tanpa beban, wajahnya datar saja sambil menyeruput jus naganya.

Aku tersentak kaget, rokok di tanganku nyaris jatuh. Aku mencoba mengingat beberapa pertemuan kami. Memang tak pernah ada gerakan berlebihan. Hanya sebatas pegangan tangan saja. Tala selalu menghindar jika arah jarum menunjuk pada adegan kemesraan.

KLIK INI:  Rumah Peradaban

“Maafkan aku!” kataku sambil memegang tangannya.

“Hmmm,”

“Aku salah,” lanjutku sambil menatap matanya.

“Hmmm,”

Tak ada kata yang diucapkannya. Hanya hhmm saja lalu kami bubar.

Nah, barangkali kamu sudah tahu. Kenapa  ada kata “Di Balik Hitamnya Arang, Ada…”  Dan aku sengaja memberinya tanda titik-titik agar kamu, para pembaca melanjutkannya sesuka hatimu. Kata apa pun itu.

Aku percaya bahwa semua orang punya perbendaharaan kata untuk menciptakan satu kisah. Aku ingin kamu melanjutkan Di Balik Hitamnya Arang, Ada…

Sementara aku, biarkan saja aku dan Tala menyimpan rahasia kami berdua. Aku tak ingin Tala tertangkap sebagai biang kerok kerusakan hutan mangrove di pinggir kota D.

Aku harus melindunginya. Aku merasa bertanggung jawab. Karena  telah merampas kodrat keperempuannya mencintai lelaki.

Aku telah mengubah Tala Arenia menjadi lesbi.

Maka kali ini, aku ingin menyelamatkannya dari penjara, dari jerat hukum. Lagi pula aku suka ikan bandeng yang dibakar dengan arang dari batang mangrove. Rasanya lebih guri dan menari di lidah.

Jadi, aku putusnya tak melanjutkan Di Balik Hitamnya Arang, Ada…Kamu saja yang mengisinya, pembaca!

Kindang, 15 Maret 2021

KLIK INI:  Memeluk Bumi di Sebatang Porang